
"Kamu nyamankan, sayang?" tanya Jimmy menempatkan Nasya tidur miring dan ia hendak memasukkan juniornya.
Nasya menoleh. "Iya. Masukin, mas!" rengeknya sudah tidak tahan. Entah mengapa saat akan mempraktekkan ninu-ninu, ia merasa tidak mual walau tubuhnya masih terasa lemas.
"Mas akan pelan dan hati-hati. Katakan kalau kamu gak nyaman, ya?"
Nasya mengangguk kemudian mendesahh tak karuan merasakan kenikmatan yang diciptakan oleh Jimmy.
Tak lupa pula Jimmy mempraktekkan posisi lain nya sesuai perkataan dokter Ana pagi tadi. Hingga puncak kenikmatan itu telah mereka dapatkan, keduanya istirahat dengan saling berpelukan.
*
*
Hari-hari telah dilewati dengan suka dan duka. Sejak Retno mengatakan kalimat yang menyakiti ego nya sebagai pria, Gadhing berubah menjadi lebih pendiam.
Pukul tiga dini hari, Gadhing terbangun dan segera ke kamar mandi. Ia berwudhu kemudian keluar kamar menuju ruang sholat dan melaksanakan sholat tahajud.
Beberapa saat kemudian terdengar bacaan tahiyat akhir dan diakhiri salam. Gadhing menengadah kedua tangan.
“Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Janganlah Engkau jadikan hamba larut dalam kesedihan. Jangan jadikan orang-orang di masa lalu menjadi penghalang untuk beribadah kepada-Mu. Biarkan hamba senantiasa mengingatMu, bukan mengingat hal-hal yang buruk dalam hidup."
Mata Gadhing terpejam merasakan air matanya menetes setiap melantunkan doa agar segera melupakan perasaan nya kepada Nasya dan fokus pada keluarganya.
"Ampuni hamba, ya Allah."
*
Di balik pintu, Retno memegang dada nyabyang terasa sesak menahan sakit. Ia tahu bila Gadhing sangat berusaha untuk menghilangkan perasaan cinta itu dan ia senang karena selama ini Gadhing berusaha untuk mencintainya.
Tetapi, cinta Gadhing untuk Nasya begitu dalam. Ia tidak mampu mengimbangi itu.
*
*
__ADS_1
Siang hari adalah waktu yang membahagiakan buat Nasya karena di waktu siang lah ia dapat memakan apapun yang diinginkan nya tanpa harus mual dan muntah.
Walau harus mengenakan masker dan kacamata hitam untuk membantu menghindari terik sinar matahari selain gamis dan hijab.
Ya, dibalik kesenangan Nasya pada siang hari, ia harus bersembunyi dari terik matahari karena merasa pusing setiap terkena cahayanya.
Seperti vampir yang takut sinar matahari. Seperti itulah Nasya.
Nasya tersenyum dibalik masker yang dikenakan, melihat isi kantung plastik berisi banyak cemilan dan es krim.
Ia keluar sendiri karena Jimmy sudah mengijinkan. Walau harus ada sopir yang selalu menemani.
"Pak. Aku mau ke taman, ya. Aku gak bawa ponsel, kalau suami aku nelpon, segera kasih tahu kita berada dimana."
"Baik, Bu."
Nasya langsung duduk di bangku besi yang ada di taman. Minimarket dan taman ini masih berada di komplek elit dimana mansion Jimmy berada.
Alasan itu pula Jimmy memberinya izin keluar rumah tanpa dirinya.
"Nasyama," lontar Gadhing pelan namun membuat Nasya terkejut.
"Boleh mas duduk?"
Nasya mengangguk dan menggeser tubuhnya memberi jarak kepada Gadhing. Ia merasa lega saat sang sopir juga duduk tidak jauh dari tempatnya.
Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk membicarakan perihal hubungan mereka. Dan menjadi awal yang baik.
"Jangan lagi menguntitku, mas. Itu gak baik untuk hubungan kita dengan pasangan kita masing-masing," kata Nasya mendahului pembicaraan.
Gadhing menghela nafas panjang kemudian menunduk, sebelumnya ia menatap Nasya dari samping.
"Maaf," cicit Gadhing lirih.
Nasya menggeleng. "Jangan minta maaf, mas. Maaf karena dengan mudahnya aku menggantikan posisi kamu dihatiku."
__ADS_1
Gadhing tidak bisa berkata apapun lagi.
"Cinta itu gak bisa dipaksakan. Persis cintaku ke kamu, dulu."
Gadhing menoleh menatap Nasya yang tengah tersenyum dengan mata terpejam. "Persisi yang aku alami sekarang, kan?" tanya Gadhing membuat Nasya menoleh kearahnya lalu menatap lurus kembali.
"Benar. Dan aku gak bisa membalasnya. Dulu, kisah cinta Khadijah dan Rasulullah sebagai pedoman ku untuk menggapai cintamu. Yang mana Khadijah yang melamar Rasullullah. Tapi, kenyataan nya aku menjadi Aisyah yang menjadi madu di pernikahan kalian. Akhirnya aku berharap, semoga menjadi istri kesayangan mas, persis yang dialami Aisyah," tandas Nasya membuat Gadhing merasa sakit hati.
"Dan akhirnya kisah kita berakhir persis dengan kisah cinta Barirah dan Mughits. Yang mana kamu sudah menjadi wanita bebas dan tidak mau rujuk dengan ku."
Nasya hanya tersenyum menanggapi. Tidak ingin berlama-lama berada di dekat mantan suami, ia lebih dahulu pamit. Apalagi es krim nya telah lama berada di luar ruangan. Bisa dipastikan akan melelah sesampainya di rumah.
"Cobalah untuk fokus pada mbak Retno, mas. Aku gak mau kamu seperti ini. Aku pamit, assalamualaikum," Nasya sudah berjalan menjauhi Gadhing dan masuk ke dalam mobil setelah pintu di buka oleh sang sopir.
*
*
Nasya terbangun setelah mendengar suara pintu terbuka. Ia sedari pukul tujuh telah menunggu Jimmy pulang sehingga ketiduran.
"Baru pulang, mas?" tanya Nasya mengikuti Jimmy dari belakang karena suaminya itu hanya diam saja.
Nasya melirik jam di dinding sudah pukul 21 malam. Ini pertama kalinya Jimy pulang larut malam tanpa eberi kabar.
"Aku buatin teh, ya."
"Gak perlu," sahut Jimmy datar.
Nasya terpaku mendengar jawaban Jimmy yang berbeda. Tetapi, ia tak berani bertanya karena berpikir sedang ada masalah dengan pekerjaan.
Nasya baru saja duduk di tepi ranjang melihat Jimmy sudah berganti pakaian tidur tanpa menghiraukan kehadiran nya.
Bahkan pakaian yang telah disiapkan Nasya tidak di sentuh oleh Jimmy.
"Mas."
__ADS_1
"Aku ingin sendiri."
DEG