Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
62. JSAMS


__ADS_3

Nasya tampak tersenyum bahkan tertawa ketika berada di atas pelaminan saat terus saja berfoto ria dengan kedua mempelai.


Gadhing tersenyum melihat Nasya dari tempat duduk nya. Ia tak menyangka bila Nasya tidak akan menolak ajakan nya sore tadi.


Gadhing bangkit, berjalan menuju meja prasmanan dan mengambil makanan untuknya dan juga Nasya.


Ia sudah bertekad untuk mengembalikan perasaan Nasya untuknya seperti sedia kala.


Gadhing berpikir, mungkin Jimmy hanya pelampiasan disaat Nasya sendiri. Enam tahun bukanlah waktu sebentar untuk memendam perasaan bagi mantan istrinya itu.


Nasya turun dari pelaminan dan duduk di tempat yang diduduki Gadhing juga.


"Ini buat kamu," kata Gadhing menaruh sepiring nasi, daging rendang, dan sayur urap daun singkong.


Nasya memaksakan diri untuk tersenyum. "Makasih, mas."


Entah mengapa, sekarang. Setelah menyadari betapa bodohnya dirinya dahulu cara mencintai Gadhing membuat Nasya merasa sakit setiap kali melihat pria di sampingnya itu.


Mungkin banyak yang mengatakan Nasya adalah gadis murahan yang mudah melupakan dan melabuhkan perasaan nya kepada pria lain.


Tetapi, seperti itulah keadaan nya. Disaat hati tersakiti dan bertekad untuk melepas dan melupakan sesuatu yang membuat hati sakit, pasti akan mendapat sesuatu yang baru dan lebih baik dari yang sebelumnya.


Intinya kita ikhlas.


Ikhlas menerima kesakitan itu walau luka itu masih membekas.


Apalagi Nasya sudah sadar bagaimana sebegitu merendahnya ia ketika mengejar cinta Gadhing.


Apalagi Nasya merasa perlakuan Jimmy sangat berbeda dengan perlakuan Gadhing dahulu padanya.


Pria itu, Jimmy. Selalu mengatakan jika Nasya adalah wanita terhormat dan ingin mendapatkan Nasya secara terhormat pula.


"Gak perlu, mas. Aku bisa sendiri," tolak Nasya saat Gadhing hendak mengambilkan air minum yang sedikit jauh dari jangkauan tangan nya. Ia berdiri lalu mengambil air minum tersebut.

__ADS_1


Setelah makan dan memberi kado untuk pengantin, keduanya kembali pulang dan bersiap untuk kembali ke Surabaya esok hari.


Sesampainya dirumah, bunda Fadia menyambut keduanya dengan senyum manisnya begitu juga Buya Niko.


Perlu diketahui, Buya Niko tidak tahu menahu masalah bunda Fadia memaksa Nasya untuk berhubungan kembali dengan Gadhing.


"Langsung istirahat ya. Jangan ada yang bergadang," kata bunda Fadia dan diangguki keduanya.


Nasya duduk di depan meja rias. Ia memerhatikan wajah nya dari pantulan cermin. Sebenarnya, sejak tadi hatinya merasa gelisah memikirkan Jimmy. Tetapi ia tak tahu apa penyebabnya.


Tangan nya terulur mengambil salah satu botol kosmetik untuk membersihkan wajah kemudian mengambil krim malam dan mengoleskan pada wajahnya.


Setelah selesai, Nasya berganti baju, dan memilih langsung tidur tanpa ke kamar mandi, demi menghindari pertemuan nya dengan bunda Fadia dan Gadhing.


*


*


Keesokan harinya. Lagi-lagi Nasya memaksakan diri agar terlihat ceria di hadapan Buya Niko dan bunda Fadia.


Di dalam mobil, Nasya lebih banyak diam dan menatap jalanan dari jendela mobil. Sementara Gadhing mengerti bila gadis di samping nya masih tidak nyaman dan ia tetap akan berusaha untuk mendapatkan cinta Nasya kembali.


"Kita makan siang dulu," ajak Gadhing setelah baru saja usai melewati jalan tol.


Nasya menoleh menatap Gadhing sekilas kemudian mengangguk.


Nasya menggigit kukunya karena merasa cemas. Entah mengapa sedari semalam kecemasan dalam hati nya belum juga menghilang, justru semakin menjadi.


"Kamu kenapa?" tanya Gadhing mengerti kebiasaan Nasya jika sedang tidak baik-baik saja.


Nasya menghentikan gerakan lalu menatap Jimmy. "Gak kenapa-kenapa," sahut Nasya singkat.


Gadhing hanya dapat menarik nafas dalam.

__ADS_1


*


*


"Kenapa gak kau habiskan makanan nya?" tanya Gadhing semakin khawatir melihat kegelisahan Nasya.


Nasya menggeleng. "Aku ingin segera pulang, mas."


Nasya bangkit kemudian keluar Rumah makan itu dengan hati yang gelisah. Ia bersandar pada badan mobil dengan tangan berada di dada.


Dengan mata terpejam, ia membaca surah Al-fatihah dan banyak-banyak mengucap istighfar berharap efek samping dari bacaan tersebut dapat menenangkan hati dan debaran jantung yang menyiksa.


"Kamu kenapa?" tanya Gadhing sudah berdiri tepat di hadapan Nasya dan membuat gadis itu terkejut.


"Bukan apa-apa," ucapnya kemudian membuka pintu mobil.


Gadhing tampak khawatir langsung masuk mobil dan melajukannya menuju rumah Nasya.


Beberapa saat kemudian, mobil Gadhing sudah sampai di depan rumah Nasya. Ia keluar dan membuka bagasi hendak mengambil koper milik Nasya.


Tetapi, Nasya menepis tangan Gadhing. "Enggak perlu. Aku bisa sendiri, mas."


Gadhing tertegun mendapat perlakuan kasar dari Nasya. Selama ini gadis itu selalu memperlakukan nya dengan lembut.


Nasya melakukan itu karena teringat jika Jimmy tidak suka milik nya di sentuh orang lain.


Nasya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu tanpa memperdulikan Gadhing yang berdiri di depan pintu.


Nasya langsung mengambil ponsel di tas nya kemudian menghubungi Jimmy.


Kenapa nomor mas Jimmy gak aktif terus?


❤️

__ADS_1


Emak mau rilis novel baru, sebaiknya disini aja atau di sekolah Paizzo sebelah?



__ADS_2