
Nasya baru saja tida di depan rumah orang tua angkatnya setelah mengantar Jimmy agar menginap di rumah Joko.
Joko adalah anak yatim piatu yang di besarkan oleh neneknya tetapi, sang nenek sudah meninggal dunia satu tahun lalu.
Saat sudah di teras rumah, mobil Gadhing baru saja tiba membuat Nasya membalikkan badan.
Entah mengapa Nasya seakan terpaku melihat keadaan Gadhing tampak berantakan, memprihatinkan, dan berjalan sempoyongan.
Tetapi sedetik kemudian Nasya tersadar langsung mendekati Gadhing. Ia melingkarkan tangan ke lengan Gadhing kemudian membantu pria itu masuk ke dalam rumah.
Nasya tak menyangka Gadhing mabuk seperti ini padahal setahu nya tak pernah menyentuh minuman haram tersebut.
"Gadhing," pekik bunda Fadia kemudian ikut membantu memapah Gadhing.
Setelah masuk ke kamar Gadhing, bunda Fadia melepas sepatu dan kaos kaki kemudian menyelimuti anak sulung nya itu.
Setelah itu, bunda Fadia balik badan menatap Nasya dengan tajam membuat gadis itu menunduk karena takut.
"Kita perlu bicara," desis bunda Fadia berjalan mendahului Nasya.
Seketika tubuh Nasya mematung. Ia tahu bunda Fadia adalah wanita lemah lembut tetapi sangat tegas dan jika sudah memerintah maka harus di turuti.
Egois memang. Tetapi seperti itulah ibu angkat sekaligus mantan ibu mertua Nasya yang diketahuinya.
Nasya sudah duduk berhadapan dengan bunda Fadia. Sifat keduanya tak jauh berbeda jika sudah menginginkan sesuatu.
"Bunda gak merestui hubungan kamu dengan pacar kamu, Nasya. Dan bunda minta kamu harus kembali dengan Gadhing," ucap bunda Fadia tegas.
DEG
Benar dugaan nya sedari tadi karena melihat reaksi bunda Fadia setelah memperkenalkan Jimmy terlihat sangat berbeda padanya.
Nasya menunduk disertai gelengan kecil, tangan nya meremas gamisnya. "Nasya gak bisa, Bun."
"Kenapa enggak bisa? bukankah kamu dulu bisa meminta pada bunda untuk menjadi istri Gadhing?" cecar bunda Fadia. Sebagai seorang ibu, hatinya sangat terluka melihat keterpurukan sang putra.
Remasan pada gamis Nasya semakin erat ketika cecaran dari bunda Fadia untuknya ketika membahas masa lalu.
Nasya akui jika dahulu mengambil keputusan begitu terburu-buru dan dalam keadaan emosi sehingga menimbulkan dendam kepada Noni.
__ADS_1
"Bunda. Selama aku menjadi istri mas Gadhing enggak pernah mendapat keadilan,-" belum sempat Nasya menyelesaikan ucapan sudah terpotong oleh ucapan bunda Fadia yang lebih menyakiti hatinya.
"Itu karena masih ada Noni dan sekarang sudah enggak ada. Lagi pula Gadhing menyesali itu, bukan?"
"Keputusan bunda sudah final. Kamu harus kembali dengan Gadhing. Jika kamu menghormati bunda sebagai orang tua maka kamu harus patuhi perintah bunda," bunda Fadia bangkit dan masuk ke dalam kamar.
Sementara Nasya menatap lurus dengan tatapan kosong. Bayangan masa lalu dimana banyak perlakuan buruk Gadhing terhadap nya seakan tayang ulang dan berulang kali.
Diseka air matanya yang sudah mengalir setelah kepergian bunda Fadia. Malam ini, Nasya seakan tak mengenali wanita paruh baya yang sangat di sayangi dan dihormati nya.
Nasya bangun dari duduk kemudian keluar rumah. Ia terus berlari di tengah gelapnya malam. Suara jangkrik dan penerang jalan yang temaram seakan tak membuatnya takut untuk segera sampai ke tujuan nya saat ini.
Nasya memelankan larian kemudian berdiri terpaku di depan sebuah rumah yang tak lain rumah Joko yang masih terbuka pintu masuknya.
Ia melangkahkan kaki dengan cepat memasuki rumah tersebut tanpa mengucap salam.
"Mas. Bawa aku pergi dan mari kita menikah," seru Nasya memeluk Jimmy tanpa sadar dan menenggelamkan kepalanya ke dada bidang pria itu. Ia menangis kencang dalam posisi itu.
Sementara Jimmy mematung menerima perlakuan Nasya secara mendadak. Jantung nya berpacu sangat cepat atas perlakuan dan ucapan gadis yang sedang memeluknya.
Jimmy memberanikan diri membalas pelukan Nasya dan memejamkan mata menikmati kenyamanan yang tercipta.
Tetapi itu hanya sesaat karena Jimmy menjadi gerogi. Ia mengangkat satu tangan yang gemetaran untuk membelai kepala Nasya yang berbalut hijab.
Nasya mengurai pelukan dan mendongak menatap Jimmy dengan derai air mata.
"Maaf," kata Jimmy kemudian mengusap air mata Nasya dengan ibu jari nya.
Nasya memejamkan mata saat kedua ibu jari Jimmy mengusap pipi nya. Untuk malam ini rasanya ingin egois karena ia sangat ingin bahagia dan merasakan bagaimana rasanya dicintai bukan hanya mencintai tanpa dicintai pula.
"Apa ada masalah?" tanya Jimmy seakan mengerti keadaan Nasya.
Ia sudah menduga akan ada sesuatu terjadi karena niat nya meminta restu kepada orang tua Gadhing terlebih bunda Fadia.
Karena Jimmy sudah meminta Rispan untuk mencari tahu siapa dan bagaimana orang-orang yang berada di sekitar Nasya.
Nasya sesegukan seraya menarik nafas berulang kali agar menjadi lebih tenang.
"Bunda meminta aku kembali dengan mas Gadhing," ucap Nasya menunduk tak berani menatap mata Jimmy.
__ADS_1
Seketika wajah Jimmy berubah menjadi datar. "Lalu tanggapan kamu gimana?"
Nasya menggeleng. "Aku gak mau, mas."
Hati Jimmy merasa lega. Tidak penting restu mereka baginya yang terpenting adalah Nasya tetap ingin berjuang agar bersamanya.
"Tapi,-"
"Tapi apa, Sya?" seketika Jimmy merasa cemas.
Nasya menceritakan apa yang terjadi dari Gadhing yang pulang dalam keadaan mabuk dan bunda Fadia meminta sehingga mengeluarkan kalimat-kalimat yang menyakitinya.
Rahang Jimmy mengeras dengan wajah yang memerah karena menahan amarah yang sudah membuncah dihatinya.
Ingin rasanya ia melenyapkan semua yang menghalangi keinginan nya tetapi kembali sadar dan tak ingin mengambil resiko dikemudian hari.
Nasya menatap Jimmy dan tahu jika pria itu tengah menahan amarah.
"Tiga bulan, Sya."
Nasya tersentak dan dahinya berkerut. "Maksud mas apa?"
"Mas menunggu hingga tiga bulan, lebih tepatnya saat ulang tahun mu yang ke 23. Kamu berhak memilih pada siapa hatimu berlabuh. Mas ikhlas, mungkin karena ini mas akan mengerti arti perjuangan, kesabaran, dan penantian yang sebenarnya."
Sakit.
Hati keduanya merasa sakit hingga kembali berpelukan.
Nasya maupun Jimmy seakan melupakan norma yang mereka jaga selama ini. Pelukan itu semakin erat karena tak ingin terpisah tetapi harus berpisah untuk sementara waktu.
Cukup lama keduanya berpelukan dengan tangis yang sama. Setelah puas berpelukan, Jimmy mengantarkan Nasya kembali pulang ke rumah Buya Niko dan bunda Fadia.
"Tidur yang nyenyak dan jangan khawatirkan mas. Oke?" Jimmy mencoba terus tersenyum walau hatinya hancur berkeping-keping.
Nasya hanya mengangguk dengan wajah senduhnya. Rasanya, ada rasa sesal ia kembali ke rumah ini.
Jimmy berjalan kembali ke rumah Joko setelah Nasya masuk ke dalam rumah. Ia merogoh kantung celana, mengambil ponsel dan mendial nomor ponsel Rispan.
"Ris. Jemput aku esok sore dan atur keberangkatanku dan Tiara malam harinya," kata Jimmy lesu.
__ADS_1
"Kok dipercepat, pak? bukan nya tiga bulan lagi?"
"Jangan banyak berkomentar."