Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
42. JSAMS


__ADS_3

Nasya menarik nafas panjang beberapa kali. Menatap sendu pria di hadapan nya. Bohong jika Nasya sudah melupakan Gadhing sepenuhnya, masih ada getar hati ketika berada dekat dengan pria itu.


Tetapi, Nasya tidak ingin mengulang luka lama walau sudah tidak ada lagi Noni diantara mereka.


"Sebegitu benci dan dendam nya mas denganku sampai menikahi Noni? pernikahan itu bukanlah alat untuk hal-hal negatif itu, mas."


Nasya berang setelah Gadhing menjelaskan semuanya dan pria itu juga mengatakan sangat menyesal.


"Maafin mas, Nasyama. Mas sangat menyesal," kata Gadhing kemudian bersimpuh di hadapan Nasya yang sedang duduk.


Nasya terkejut langsung beranjak. "Jangan begini, mas."


"Ada Tiara, mas."


Nasya tidak ingin Tiara bercerita kepada Jimmy dengan apa yang dilihat ini.


Dengan terpaksa Gadhing bangkit dan duduk ke tempat semula. Matanya sudah memerah karena begitu menyesali perbuatan nya.


"Apa dihatimu benar-benar sudah tak ada lagi cinta untukku? Apa kehadiran Jimmy sudah membuat cinta mu musnah begitu saja?"

__ADS_1


Nasya menggeleng dengan derai air mata. Bagaimana mungkin bisa melupakan cinta pertama dengan mudah?


Tentu saja sangat sulit.


"Apa dia jauh lebih baik dalam ajaran agama?"


Nasya menggeleng lagi. "Aku akui cinta ini masih untukmu, mas."


Gadhing tersenyum mendengar ucapan Nasya barusan. Sementara Nasya tampak ragu untuk mengutarakan ucapan selanjutnya.


"Tapi, aku sadar bahwa mencintai mas, sakit. Dan sejak mas mengucapkan talak, aku sudah memutuskan untuk berhenti mencintai, mas Gadhing."


Seketika Gadhing merasa detak jantungnya berhenti setelah mendengar ucapan Nasya. Tatapan matanya kosong tetapi bayangan masa lalu dimana Nasya selalu memperlakukan nya dengan kasih sayang, sedangkan dirinya selalu menyakiti hati gadis itu lewat kata-kata pedas dari mulutnya.


"Pulanglah, mas. Maaf, kami harus pergi."


Nasya beranjak serta menggandeng tangan Tiara agar keluar dari ruang kerjanya. Tak lupa pula mengusap air mata nya.


Saat hendak keluar dari Rumah Makan, Nasya dikejutkan dengan Jimmy yang sedang duduk di salah satu kursi pembeli dan menatapnya dengan tatapan tajam, apalagi saat Jimmy juga keluar serta berdiri dibelakangnya.

__ADS_1


"Mas Jimmy," gumamnya yang pasti tak terdengar oleh siapapun.


"Mi, itu papi." Tiara berlari kecil menghampiri Jimmy dan langsung duduk di pangkuan pria itu.


Gadhing yang sudah tak tahan melihat Nasya bersama prianlain memilih pergi. Sementara Nasya berjalan mendekati meja dimana Jimmy dan Tiara berada.


"Jangan salah paham, mas. Aku gak tahu kalau mas Gadhing akan mendatangiku," terang Nasya tak enak hati.


"Jangan berdebat dihadapan Tiara dan juga makanan. Makanlah, setelah selesai kita berbelanja sesuai janji kita."


Nasya hanya pasrah, apalagi menyadari intonasi suara Jimmy datar dan dingin, tidak seperti biasanya membuat Nasya enggan berkomentar.


Beberapa saat kemudian, ketiganya sudah selesai makan siang dan sekarang berada di pusat perbelanjaan khusus pakaian anak.


Sebenarnya Nasya sudah tak bersemangat karena sikap Jimmy berubah sedari tadi saat di Rumah Makan. Tetapi, karena Tiara begitu semangat menjadikan Nasya terpaksa mencoba mengendalikan kegelisahan nya.


Tiara tampak cantik ketika mencoba berbagai gamis dan hijab anak. Tak lupa pula gadis kecil itu meminta pendapat kepada sang papi.


Jimmy menanggapi seperti biasa, penuh perhatian. Tetapi saat berbicara kepada Nasya, seketika sikap itu berubah drastis menjadi datar dan dingin.

__ADS_1


Apa mas Jimmy mendengar perkataan ku tadi?


__ADS_2