Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
111. JSAMS


__ADS_3

Libur akhir tahun akhirnya tiba. Nasya memboyong keluarga nya pulang ke Indonesia dan berencana akan berada disana selama dua Minggu.


Kedua anak Nasya begitu antusias. Hidup sebatang kara bersama kedua anaknya di negeri orang tidaklah mudah.


Ya, ibu Mayang telah meninggal dunia tiga tahun lalu. Sedangkan sang suami?


"Indonesia.. iam coming!!!" pekik Azzura di hadapan jendela mobil yang sengaja dibuka.


Azzam yang selalu kesal dengan tingkah Azzura langsung mendorong wajah kembaran nya mengenakan telapak tangan. "Berisik!"


"Kenapa kalian selalu berantem? mami bilang gak boleh berantem kalau mau pulang ke Indonesia, kan?" cegah Nasya agar kedua anaknya tidak lagi bertengkar.


Ia terus tersenyum setiap mengingat suaminya. Selama satu tahun mengalami kebutaan, ternyata Jimmy mengalami setres dan akhirnya meninggal dunia. Tetapi sebelum meninggal, suaminya itu memaksa dokter agar segera melakukan pendonoran retina mata untuk nya.


Sedih, terpuruk, dan setres parah dialami oleh Nasya. Tetapi ia belajar untuk menerima keadaan demi kedua anak nya.


Setahun kemudian, Ibu Mayang meninggal dunia dan hanya dirinya menggantikan posisi Jimmy di Perusahaan hingga anak nya telah siap menempati posisi sang ayah.


Nasya juga sudah bisa menyetir mobil. Ya, selama lima tahun ini Nasya berubah menjelma sebagai wanita kuat.


Mobil yang ditumpangi mereka telah sampai di mansion. Ketiganya keluar dan masih berdiri memerhatikan mansion tersebut.


Mas. Aku pulang. Kamu pasti melihatnya juga, kan?


"Ayo kita masuk," ajak Nasya menuntut kedua anaknya masuk ke dalam mansion.


"Ibu," pekik bibi Nur yang masih setia bekerja di mansion walau usia nya telah senja.


"Bibi. Apa kabar?" Nasya memeluk bibi Nur erat, matanya terpejam menekan dan menahan agar air matanya tak tumpah.


"Bibi sehat, Bu." Bibi Nur mengurai pelukan laku menunduk menatap anak kembar Nasya.


"Zurra, Azzam. Salim tangan nenek Nur, sayang."


Benar saja. Ucapan Nasya langsung di laksanakan oleh kedua anak kembar tersebut.

__ADS_1


"Bu. Azzam benar-benar seperti bapak," celetuk bibi Nur dan disenyumin oleh Nasya.


"BI, tolong antar mereka ke kamar y."


Bibi Nur mengangguk lalu mengajak kedua anaknya menuju kamar yang telah disediakan. Sementara Nasya menaiki anak tangga menuju kamar utama dimana itu adalah kamarnya bersama Jimmy.


Di dalam kamar, Nasya duduk di tepi tempat tidur. Pandangan nya memindai setiap sisi kamar tersebut. Tanpa sadar, air mata itu mengalir karena begitu merindukan sosok suami yang sangat mencintainya.


"Kenapa kamu pergi, mas? kenapa kamu relain hidup kamu hanya demi sebuah mimpiku? aku gak butuh mata ini bila harus kehilanganmu," tangis Nasya pecah.


Sekuat dan setegar apapun selama ini, tetap saja ia adalah seorang wanita lemah yang membutuhkan bahu untuk bersandar.


*


*


"Mi. kapan kita ke rumah kak Emier?" tanya Azzam yang sering komunikasi dengan putra sulung Gadhing.


Nasya beralih menatap Azzam kemudian tersenyum. "Kita harus telepon kak Emier dulu, ya. Takut ayah Gadhing sibuk," sahut Nasya jujur.


Setelah sarapan, Nasya mengajak kedua anak nya berkeliling mansion dan juga pekarangan nya. Kedua anaknya itu begitu antusias melihat mansion mereka.


"Kita tinggal disini saja, mi."


Nasya menoleh menatap Azzura setelah mengatakan hal itu barusan. "Sabar, ya. Kalian harus selesaikan sekolah dulu baru pindah kesini," ucap Nasya menenangkan.


Kedua anak Nasya mengangguk setuju. Hari ini Nasya berencana membawa kedua anaknya mengunjungi tempat wisata di Surabaya.


Nasya menghubungi Gadhing untuk pertama kalinya setelah lima tahun tidak pernah berkomunikasi secara personal.


Nasya menghela nafas panjang lalu menempelkan ponsel ke telinganya.


*


*

__ADS_1


Gadhing sedang minum kopi di kantin Rumah Sakit bersama Dika. Ia merogoh saku celana saat merasakan getaran pada ponselnya.


"Astaghfirullah," ucapnya terkejut melihat siapa yang menelepon nya.


Dika penasaran mengapa sahabatnya sampai terkejut seperti itu. "Nasyama. Kenapa harus kaget begitu?" tanya nya penuh selidik.


Gadhing menatap Dika sekilas. "Si-siapa yang kaget?" ia berusaha menutupi kegugupannya.


Dika memicing memerhatikan perubahan mimik wajah Gadhing. "Jangan bilang kalau kamu masih ada hati dengan nya, bro! ingat Dena," tebak nya dan melihat bagaimana Gadhing sekarang begitu yakin bila sahabatnya itu masih ada hati dengan mantan istri sekaligus sepupunya tersebut.


Gadhing sama sekali tidak memperdulikan apapun yang diucapkan oleh Dika. Ia sedang mengontrol degub jantung nya untuk menjawab panggilan telepon dari Nasya.


Dirasa cukup lebih tenang, Gadhing mendial icon telepon berwarna hijau. "Assalamualaikum, Nasyama."


"Waalaikumsalam, mas. Maaf aku ganggu kerja, mas. Aku hanya ingin minta izin," ada rasa sungkan Nasya menghubungi Gadhing disaat jam kerja.


Gadhing mengerutkan dahi ditengah ombak di hatinya yang siap menerpa akibat mendengar suara merdu Nasya.


"Minta izin apa, Nasyama?" tanya Gadhing heran.


"Em.. Bigini, aku dan anak-anak ada di Indonesia liburan tahun baru. Aku mau ajak Emier dan Asnan, boleh?"


Gadhing terlonjak kaget mendengar Nasya berada di Indonesia. Seketika senyuman yang begitu tampan tercetak jelas di wajah nya.


Dika melihat perubahan wajah Gadhing hanya bisa menggeleng saja.


Tetapi senyuman itu kembali surut ketika menyadari bila Nasya adalah istri orang. "Boleh. Tapi apa gak ngerepotin kamu dan pak Jimmy?" tanyanya karena belum tahu jika Jimmy telah tiada.


"Aku sendiri, mas."


Gadhing melotot mendengarnya. "Jadi kamu dari Jerman sendiri bawa anak-anak? kenapa kamu nekad, sih? gimana kalau terjadi apa-apa sama kalian?" omel nya tanpa sadar. "Ah! maafkan aku, Nasyama!" ia kehilangan kesadaran bila menyangkut keselamatan Nasya.


Terdengar kekehan di seberang telepon. Tidak tahu saja Gadhing, bila Nasya yang sekarang adalah Nasya yang mandiri. "Kami gak apa-apa, mas. Sore aku jemput anak-anak, ya. Masih di rumah dulu, kan?"


"Mas ikut!!"

__ADS_1


__ADS_2