
Nasya baru saja tiba di rumah Gadhing. tadi Setelah dari rumah makan Nasya dan keempat anaknya menuju Mansion untuk mengambil pakaian mereka.
"Jangan lari-lari, Zurra."
"Abang sama Zurra."
"Asnan ikut.."
"Zurra mau sama Papi," pekik Azzura masuk ke dalam rumah.
Nasya menggeleng melihat tingkah ketiga anak nya, selain Azzam yang setia berada di sampingnya. "Azzam gak ikut lari-lari?" tanya nya.
Azzam menggeleng. "Kata papi Jimmy, kalau mau jadi kayak papi harus tenang dan jaga adik Zurra," sahut bocah itu yang selalu menonton video peninggalan Jimmy.
Nasya tersenyum seraya mengacak rambut Azzam kemudian melangkah masuk. Ia tahu jika di rumah Gadhing tengah ada tamu.
"Assalamualaikum," ucap Nasya dan di balas oleh mereka yang berada di dalam rumah.
Nasya melihat ada wanita paruh baya dan Dena disana. Lagi-lagi ia kesal melihat wanita itu yang bertamu tanpa izin masuk ke dalam rumah suaminya.
"Kamu adiknya Gadhing, ya?" tanya wanita paruh baya itu membuat Nasya melirik ke arah Dena.
"Ini ibu aku, Sya. Maaf, aku sudah jelaskan kamu itu adiknya mas Gadhing saat kita pulang liburan. Ibu ku punya penyakit komplikasi, maaf ya."
__ADS_1
Nasya hanya mengangguk kemudian mengajak ke empat anaknya masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar Nasya menelepon Gadhing. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan wanita yang pernah dekat dengan suaminya.
"PULANG SEKARANG!!!"
Karena terlalu kesal Nasya sampai melupakan mengucap salam dan tidak mendengar jawaban dari Gadhing.
Setengah jam kemudian setelah anak-anaknya telah tidur terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Gadhing.
Nasya keluar kamar dan menyambut kepulangan Gadhing ternyata terlambat karena Dena telah menyambut lebih dulu.
Karena ada ibu Dena akhirnya Nasya hanya diam memperhatikan bagaimana kelakuan denah dan Gadhing.
"Ada apa Bu, Dena?"
"Begini, mas. Ibu ingin sekali bertemu denganmu. Maaf mengganggu pekerjaan kamu," terang Dena membuat Gadhing menghela nafas berat.
Salahnya juga karena beberapa kali menemani Dena berkunjung ke rumah orang tua wanita itu..
"Ada apa, Bu?" tanya Gadhing sopan.
"Ibu kangen dengan kamu. Gimana kabar kamu? kapan mau nikahi Dena?"
__ADS_1
Nasya melotot mendengar pertanyaan ibu Dena. Ingin sekali dia bangkit dari sana tetapi pinggangnya di peluk erat oleh Gadhing sehingga tidak dapat bergerak sedikitpun.
"Maaf, Bu. Tapi saya tidak mengizinkan suami saya untuk menikah lagi," Nasya perjelas tetapi justru membuat ibu Dena mengalami serangan jantung.
Semua orang panik termasuk Nasya. Gadhing langsung memapah ibu Dena dan Dena mengikuti menuju mobil.
"Aku ikut, mas." Kata Nasya juga khawatir.
"Kamu di rumah saja," kata Gadhing meninggalkan Nasya berdiri mematung melihat mobil mereka yang sudah melaju.
Nasya masuk dan semakin cemas. Ia tidak sengaja membuat ibu Dena seperti tadi. Niat nya mengatakan itu karena ingin melindungi pernikahan nya yang baru seumur jagung.
"Ibu gak salah," ucap bibi Jumi seorang asisten rumah tangga mereka yang melihat kejadian tadi.
Nasya meremas jemarinya. "Aku takut, bi. Aku takut mas Gadhing marah sama aku," tuturnya jujur.
Nasya mengambil ponselnya di kamar lalu menghubungi Rispan agar datang ke rumah Gadhing.
Satu jam kemudian Rispan datang dengan khawatir yang sama setelah Nasya menceritakan kejadian tadi tanpa ada yang tertutupi.
"Mas Rispan. Aku gak sengaja melakukan itu, aku bicara seperti itu karena ingin melindungi pernikahanku," ungkap Nasya.
Rispan menghela nafas panjang. "Saya sudah menyuruh orang untuk mengurus perawatan beliau dan menyewa pengacara untuk berjaga-jaga jika Dena akan membawa ke jalur hukum. Ibu tenang saja," tutur Rispan mantap.
__ADS_1