
"Calon ku jauh dari pertanyaan mama. Dia masih gadis. Tapi ingat, bukan gadis matre karena dia punya rumah makan dan kafe di Malang dan Surabaya. Dan terakhir paling terpenting, dia sangat dekat dengan Tiara."
Ibu Mayang semakin terkejut kemudian mencubit Jimmy secara membabi-buta. "Hubungan kalian sudah sejauh itu kenapa enggak pernah kabari, mama? sudah kamu apakah anak gadis orang, Jimmy? sudah kamu bawa ke hotel berapa kali?"
"Hah??!"
Jimmy terus mengelak setiap kali jemari ibu Mayang hendak mencubitnya. "Ma. Jangankan bawa ke hotel, sentuh dia saja belum pernah."
"Mama enggak percaya," ucap ibu Mayang menghentikan cubitannya.
"Sumpah demi Allah, ma. Aku hanya sekali menyentuhnya," bela Jimmy tetapi justru membuat ibu Mayang semakin curiga.
"Jadi maksud kamu itu sekali sentuh dia agar terikat denganmu, begitu Jim?"
Jimmy menganga merasa tak percaya dengan pertanyaan sang ibu. Bagaimana bisa ibunya berpikir negatif tentang anaknya sendiri.
"Astaghfirullah, ma. Kenapa suudzon begitu?" ucap Jimmy kesal.
Ibu Mayang semakin syok mendengar sang anak mengucapkan istighfar, karena tak pernah terdengar olehnya sang anak mengucapkan kalimat itu.
Karena masih heran, ibu Mayang menempelkan punggung tangannya ke dahi Jimmy dan membuat sang anak semakin kesal.
"Katakan pada mama. Kalau kamu sudah apakan saja anak gadis orang? kita harus segera melamarnya untuk kamu nikahi sebelum dia hamil," ucap ibu Mayang lagi beruntun.
__ADS_1
"Ma.. Maksud aku menyentuh dia itu bukan berarti sudah aku tiduri. Lagi pula setelah ibu nya Tiara hamil, aku gak pernah tidur dengan wanita manapun. Aku pria yang setia, ma."
Jimmy menghela nafas panjang. Rasanya sudah tak ingin menyebut mantan istrinya. Tetapi, benar yang pernah dikatakan Nasya jika kita ingin hidup tenang dan damai maka harus diawali dengan berdamai dengan diri sendiri dan juga berdamai dengan masalalu.
Ibu Mayang merutuki kebodohan dirinya karena mengungkit masa lalu sang anak.
"Oke maafkan, mama. Sekarang kasih tahu mama, sudah kamu apakan anak gadis orang, Jim?"
Jimmy menghela nafas panjang. "Namanya Nasya, dia gadis cantik dan mandiri. Anak yatim piatu,-"
"Anak yatim piatu kamu jebak?" potong ibu Mayang semakin membuat Jimmy frustasi.
"Ma. Dengar dulu ceritaku. Haish... Kenapa papa punya istri beginian, sih!'
"Oke. Mama diam saja, sekarang jelasin."
"Namanya Nasyama Khadijah Putri, umurnya 23 tahun tiga bulan lagi. Dan aku sudah menyentuh pipinya saat pipi Nasya merona," terang Jimmy membuat ibu Mayang benar-benar syok mendengarnya.
"Berapa lama kalian saling mengenal?"
"Terhitung pertama kali saling bicara 8 bulan ini," Jimmy bercerita disertai binar bahagia dan ibu Mayang menyadari itu.
Jimmy tidak akan menceritakan jika Nasya pernah menikah siri dan sudah tak suci lagi. Sekali lagi, cukup dirinya saja yang tahu masa lalu Nasya.
__ADS_1
Nasya masih gadis atau tidak, Jimmy tetap menerima apa adanya.
"Kalian sudah lama mengenal tapi kamu hanya menyentuh pipinya?" ibu Mayang dibuat tak percaya karena di era zaman modern sekarang sangat jarang ditemui gadis seperti itu.
Jimmy mengangguk cepat disertai senyum manisnya. "Waktu itu aku sangat gemas padanya, sehingga tanpa pikir panjang langsung aku tusuk saja pipi nya pakai jemari telunjuk aku, ma."
Ibu Mayang benar-benar dibuat tak percaya dengan cerita Jimmy. "Hanya kamu tusuk pipinya sudah buat kamu sebahagia ini?"
Jimmy terkekeh dan setuju atas pertanyaan ibu Mayang dan jawaban nya adalah IYA.
Jimmy sebahagia itu.
"Kalau begitu secepatnya mama akan ke Surabaya untuk menilai calon menantu mama," tutur ibu Mayang.
Jimmy menggeleng. "Gak perlu, ma. Ingat janji mama dulu, kan?'
Ibu Mayang mencebik.
"Mama sudah janji gak akan menolak siapapun wanita pilihanku setelah perceraian kami, bukan?"
Ya. Saat setelah perceraian itu terjadi dan Jimmy menjadi terpuruk, ibu Mayang pernah berjanji untuk tidak lagi mengatur hidup Jimmy apalagi masalah percintaan.
Wanita paruh baya yang masih sangat terlihat cantik melihat sang anak terpuruk setelah perceraian.
__ADS_1
"Baiklah. Mama tunggu kapan kamu siap melamarnya."