
Dimas tersenyum melihat hasil tes kesehatan yang dilakukan dua Minggu lalu. Rasa bahagia dan haru menjadi satu karena masih ada satu hal yang baik untuk dirinya.
Setelah sang ibunda masuk Rumah Sakit dan kembali ke Malang, Dimas tidak diperbolehkan untuk kembali pulang, bisa dikatakan ia telah di usir karena membuat sang ibunda dan keluarga besar malu.
Tidak hanya diusir, Rumah Makan Cintarasa yang telah direbut Dimas sudah gulung tikar. Ia tidak lagi memiliki mobil, hanya sebuah motor matic bekas yang di beli nya dari salah satu rekan kala itu.
Sekarang, ia hanya seorang penjual gorengan dan bisnis jual beli sepeda motor bekas kecil-kecilan.
Dari keterpurukannya, Dimas merasa bersyukur karena ada satu wanita yang bersedia membantu dan menerima keburukan nya.
Dia adalah Amanda.
Gadis manis yang bijaksana. Amanda dapat membuat Dimas sadar atas kesalahan yang telah diperbuat, dan Amanda pula yang membuatnya berubah seperti sekarang.
Hidup sederhana tanpa merasa ketakutan dan rasa bersalah lagi.
"Gimana hasilnya, mas?" tanya Amanda batu saja datang ke stand gorengan nya.
Dimas menoleh dan memberi senyuman. "Alhamdulillah mas sehat, dik."
Amanda tersenyum dan nampak senang. Ia duduk di kursi bahan plastik dan melihat Dimas sedang melayani pembeli sembari menggoreng tahu isi sayur.
Amanda adalah seorang guru Taman Kanak-kanak dimana putri Jimmy bersekolah. Tadi, ia melihat Nasya keluar dari mobil Jimmy. Bahkan ia bertegur sapa dengan Nasya yang tak lain sahabat sekaligus seorang adik baginya.
Ada rasa sedih ketika mengetahui jika Nasya sudah di talak oleh Gadhing, tetapi senang juga sekarang Nasya justru sedang dekat dengan orang yang berpengaruh di kota Surabaya ini.
"Mas jadikan mau bertemu dengan Nasya?" tanya Amanda setelah tidak ada lagi pembeli.
Dimas ikut duduk dan menghela nafas panjang. Jujur saja, rasa bersalah itu begitu menggunung tetapi, nyalinya seakan ciut ketika hendak berhadapan dengan mantan calon istrinya tersebut.
"Mas takut," cicit Dimas lirih.
Amanda menggenggam tangan Dimas yang berada di atas lutut pria itu. "Jangan takut untuk berbuat kebaikan. Katanya pingin berubah, jadi harus dimulai dari memperbaiki hubungan dengan masa lalu kita yang sudah kita sakiti."
Dimas menatap wajah Amanda, hatinya begitu tenang bila gadis di sampingnya sudah memberi nasihat ataupun pendapat untuknya menjadi lebih baik.
"Baiklah. Mas akan menemui Nasya. Mau temani?"
Amanda mengangguk membuat Dimas tersenyum.
*
*
__ADS_1
"Sya. Ada tamu," kata Joko memanggil Nasya di dapur.
Nasya menoleh melihat Joko berdiri di ambang pintu dapur. "Tamu siapa?"
"Dua pak duda," sahut Joko santai seraya melirik Tita.
Nasya mengerutkan dahi kemudian melepas apron, meminta Tita melanjutkan memasaknya. Ia mencuci tangan dan mengeringkannya.
Nasya menatap Joko dan pemuda itu hanya mengedikkan bahu tanpa berani menatap mata Nasya.
Nasya menghela nafas dan berjalan melewati Joko begitu saja. Ia menuju ruangannya menemui dua pria yang dikatakan Joko sebelumnya.
Mata Nasya mendelik melihat dua pria yang dimaksud Joko adalah Jimmy dan Gadhing.
"Assalamualaikum," sapanya langsung membuat dua pria itu berdiri dan tersenyum.
"Waalaikumsalam," sahut keduanya bersamaan.
Nasya menelan saliva melihat kedua pria itu memberi buket bunga untuknya.
Gadhing memberi sebuah buket bawar merah dan Jimmy anyelir merah dan putih.
"Makasih," ucapnya kikuk.
Nasya menatap Gadhing yang tengah tersenyum padanya, kemudian tatapan nya berali kepada Jimmy.
Intensitas kedekatan Nasya dan Jimmy selama dua Minggu belakangan semakin baik. Bahkan siang ini keduanya janjian makan bersama di Rumah Makan ini, karena itulah tadi ia memasak.
"Silahkan duduk," kata Nasya kikuk kemudian menaruh dua buket bunga tersebut di atas meja kerja kemudian berjalan, duduk di sofa tunggal.
"Mas Gadhing ada perlu apa, ya?" tanya Nasya menjadi salah tingkah di tatap dengan tatapan yang tak biasa.
Nasya melihat tatapan itu ada cinta, luka, dan penyesalan. Tetapi, ia tak ingin melihat ke belakang lagi. Sudah menjadi keputusan nya dan akan terus mengobati luka dan saling mengenal satu sama lain dengan Jimmy.
"Mas ingin mengajakmu makan siang, Nasyama."
Mendengar jawaban Gadhing, Nasya melirik Jimmy yang tampak rahangnya mengeras. Kepalan tangan pria itu juga dapat dilihat Nasya.
"Kami sudah janjian makan siang bersama," kata Jimmy dengan suara beratnya. Sungguh, hatinya sedang cemburu saat ini.
Gadhing terkejut langsung membuat nya menatap Nasya lagi seakan meminta penjelasan.
"Iya, mas. Kamu memang sudah membuat janji akan makan siang bersama. Aku juga sudah masak," kata Nasya jujur.
__ADS_1
"Aku ikut," kata Gadhing spontan.
*
*
Beberapa saat kemudian. Makanan sudah terhidang di atas meja. Ada sop ayam, sambal terasi, tempe goreng. Ada juga oseng-oseng tongkol kemangi, dan ada juga salah satu menu makan siang dari negara Spanyol.
Nasya membuat itu dengan melihat video dari aplikasi YouTube.
Dalam wadah tersebut berupa nasi merah dengan tumis udang dan sayur, gazpacho, paprika segar, roti, juga jeruk.
"Tumben kamu buat menu makan siang dari luar," tutur Jimmy.
Nasya mengangguk seraya tersenyum. "Aku pengen belajar saja."
"Kenapa memilih menu makan siang dari Spanyol?" tanya Jimmy penasaran tetapi tangan nya terulur mengambil tumis udang lalu melahapnya.
"Karena Nasya suka memilih makanan yang buat perut kenyang," sahut Gadhing, bukan Nasya.
Seketika membuat raut wajah Jimmy kembali berubah datar. Sekuat tenaga ia berusaha tetap tenang karena sedari tadi Gadhing mencoba mencari perhatian pujaan hatinya.
Sungguh. Jimmy tidak suka itu.
Nasya tidak berani berkomentar. Sungguh ia juga merasa tidak nyaman berada di posisi ini.
Ingin menegur Gadhing, tetapi tidak sopan bila di hadapan orang lain. Akhirnya Nasya mempersilahkan tamu nya untuk memulai makan.
Nasya menyodorkan wadah makan siang dari negara Spanyol ke hadapan Jimmy dan itu membuat Gadhing cemburu.
"Mas gak dibuatin, Sya?" tanya Gadhing. Terdengar suara tidak suka darinya.
Nasya melipat ke dua bibir ke dalam karena sedang mencari jawaban yang tepat dan tidak menyinggung perasaan.
"Maaf, mas. Nasya buat ini khusus mas Jimmy dan enggak ada lagi. Kalau tahu mas datang juga akan buat untuk mas," sahut Nasya lirih.
Sungguh. Gadhing merasa sakit hati, sedang Jimmy merasa senang atas jawaban Nasya.
Ketiganya makan dalam diam. Tetapi Nasya menatap ponselnya dengan ukiran senyum yang manis.
Mas Jimmy : Kamu cantik. Makasih sudah masakin menu spesial siang ini. Semoga secepatnya kamu menerima, mas.
__ADS_1
Nasya tersipu malu membaca isi pesan yang dikirim oleh Jimmy. Ia mengakui jika Jimmy dapat menjaga batasan kepadanya.
Benarkah aku sudah siap?