
"Mbak Retno. Kenapa harus memakai gaun pengantin ini? aku gak suka," cicit Nasya karena sedari tadi sudah menolak namun terus dipaksa mengenakan gaun pengantin ungu yang diberikan Jimmy.
Bukan tanpa alasan menolak karena hatinya masih berdesir bila menatap gaun pengantin tersebut.
Rasa cinta dan sakit itu masih sama tersimpan rapi dihatinya.
"Gak apa-apa, Sya. Kamu cantik pakai ini," puji Retno kemudian menatap Amanda yang tengah hamil besar. "Benar 'kan, Manda?"
Amanda mengangguk seraya mengacungkan dua jempol pada Nasya. "Sangat cantik," puji Amanda kemudian mencubit pipi Nasya karena gemas.
"Sakit, mbak."
Nasya merasa aneh melihat orang-orang disekitarnya justru tampak sangat senang ia akan dilamar pria yang tidak di kenal.
"Kenapa kalian tampak sangat senang, sih?" tanya Nasya sewot justru membuat Amanda dan Retno tertawa sumbang.
"Senang, dong. Akhirnya kamu akan menikah juga. Nanti saat pengajian bakal ngerasain gimana momong sambil ngaji," seru Amanda dengan logat Jawa nya.
"Pengajian tapi seperti posyandu," celetuk Retno membuat ketiganya tertawa.
Untuk sesaat Nasya melupakan siapa pria yang hendak melamarnya karena merasa terhibur atas canda dari Amanda dan Retno.
*
*
Jimmy masih menatap keluar jendela. Ia tak menyangka jika hari ini akan bertemu lagi dengan Nasya, pujaan hatinya.
"Apa anda sudah siap, pak?" tanya Rispan.
Jimmy menoleh kemudian menghela nafas panjang. "Entahlah."
Benar yang dikatakan Jimmy. Ia tidak tahu sudah siap atau belum. "Apa mama dan Tiara sudah siap?" tanya Jimmy dan diangguki Rispan.
Sedari malam, rasa gugup itu terus merajai di tubuhnya. Padahal, Jimmy sudah pernah menikah sebelumnya.
"Kita pergi sekarang, pak. Acara satu jam lagi akan dimulai," kata Rispan setelah melihat arloji di pergelangan tangan.
Jimmy hanya mengangguk. Lagi-lagi mereka harus menggunakan lift menuju lantai dasar mansion itu.
Ibu Mayang tersenyum haru menatap Jimmy. Ia pun mendekati sang anak lalu memeluknya erat.
"Sudah waktunya kamu bahagia, nak."
Jimmy hanya diam saja. Jujur dalam hati Jimmy merasa bahagia, tapi ada sisi hatinya merasa takut bila harus berhadapan dengan Nasya.
Mungkin, mereka membantu mempersatukan keduanya. Tapi mereka lupa bagaimana keduanya bersikap setelah berhadapan berdua?
"Aku bisa sendiri," ucap Jimmy ketika hendak masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Rispan mundur tetapi ibu Mayang melarang dan tetap membantu Jimmy masuk ke dalam mobil.
"Kamu akan sangat lelah nanti," kata ibu Mayang dan Jimmy hanya pasrah.
Tiara yang sudah berada di dalam mobil langsung memeluk Jimmy setelah berada di kursi yang sama.
"Papi, okey?" tanya Tiara yang sudah kelas 2 Sekolah Dasar di Jerman.
Jimmy membalas pelukan Tiara. "Ya. Papi oke, sayang."
"Nanti Tiara akan bujuk Mami ikut kita ke Jerman agar papi gak sedih lagi," ucap Tiara mengerti bila Jimmy mengalami keterpurukan atas keadaan yang dialaminya.
Jimmy hanya mengangguk.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel yang sudah di booking untuk acara akad nikah.
*
*
"Mbak. Kira-kira calon suamiku ganteng gak ya?" tanya Nasya penasaran hingga kini belum ada yang ingin memberi tahu.
Retno dan Amanda saling pandang kemudian menahan senyum sembari berkata. "Masih gantengan suami kami, Nasya."
Nasya mencebik. "Jangan lupa kalau suami kalian itu mantan aku," ledek Nasya menjulurkan lidah kemudian ketiganya tertawa.
Baik Retno ataupun Amanda tidak ingin membahas perasaan Nasya terhadap Jimmy karena yakin dibalik keceriaan Nasya masih menyimpan rasa yang dalam untuk pria yang saat ini sedang mengucapkan ijab kabul.
Nasya menatap Amanda dan Retno bergantian kemudian mengangguk disertai senyuman manis diwajahnya.
"Maafin kesalahan suami kami ini, ya. Terimakasih enggak pernah dendam pada mereka," imbuh Retno lagi.
"Jangan khawatir. Aku sudah melupakan semua itu," ungkap Nasya kemudian ketiganya saling berpelukan.
Pintu terbuka dan menampakkan bunda Fadia dan ibu Elsa, kedua paruh baya itu masuk ke dalam kamar.
"Nasya. Ayo keluar bertemu dengan suami mu," ajak bunda Fadia membuat Nasya terkejut.
"Loh, Bun. Bukan nya hanya lamaran?" tanya Nasya masih dalam keterkejutan. Ucapan Amanda tadi hanya dianggap setelah lamaran, akan menjadi istri orang.
Bunda Fadia paham atas keterkejutan Nasya. Ia genggam tangan anak angkatnya itu. "Kamu sudah menjadi istri orang, nak. Dia sudah mengucapkan kalimat ijab kabul tadi, dan bunda setuju daripada menunggu lama."
"Ta-pi, gimana.."
"Sudah ayo," ajak Amanda menarik tangan Nasya.
*
*
__ADS_1
Jimmy bertambah gugup setelah mengucapkan kalimat ijab kabul. Jantungnya berdetak hebat ketika bunda Fadia hendak memanggil Nasya.
Mau bagaimana pun, cinta dan ketakutan atas penolakan Nasya yang menjadi pemicu rasa gugupnya.
Saat semua orang melihat ke arah kiri dari sisi ia duduk, membuatnya ikut menoleh. Tatapan Jimmy dan Nasya bertemu, dari sorot mata keduanya banyak mengartikan sesuatu.
Terkejut.
Rindu.
Dan luka yang sama.
Tidak ada senyuman di keduanya.
Saat Nasya sudah duduk di sebelahnya semakin membuat dada Jimmy terasa sesak karena begitu terpukau dengan kecantikan gadis pujaan hatinya yang kini sudah menjadi suaminya.
"Sya," panggil Jimmy lembut.
Sungguh suara bariton nan lembut itu masih menggetarkan hati Nasya. Suara yang dirindukan namun juga menyakitkan.
Nasya menunduk tak berani menatap mata Jimmy. Ia tak menyangka pria yang dahulu meninggalkan tanpa alasan kini sudah menjadi suaminya.
Nasya hanya mengubah posisi ke arah Jimmy tanpa menjawab apapun. Ia semakin menyembunyikan wajah saat tangan Jimmy terulur dan berada di atas kepalanya.
Percayalah, tangan Jimmy bergetar saat hendak meletakkan telapak tangan di atas kepala Nasya.
“Allahumma baarikli fi ahli wa baarik li-ahli fiyya warzuqhum minni warzuqniy minhum.”
Yang artinya: “Ya Allah ya Tuhan, berkahilah aku dalam permasalahan keluargaku. Berkahilah keluargaku dalam permasalahanku, berilah keluargaku (istri dan keturunan) rezeki dariku, dan berilah aku rezeki dari mereka."
Setelah membaca doa tersebut, Jimmy mengusap kepala Nasya dengan lembut serta memanjatkan doa Sunnah lain nya.
"Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaihi, wa a'udzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi.”
Artinya: “Ya Allah, aku memohon darimu kebaikan istriku dan kebaikan dari tabiat yang kau simpankan pada dirinya. Dan aku berlindung kepadamu dari keburukan istriku, dan keburukan dari tabiat yang Kau simpankan pada dirinya.”
Sepanjang Jimmy membacakan doa, suaranya terdengar bergetar menangan tangis, sementara Nasya sudah menangis sesenggukan.
"Sekarang sudah boleh cium istrinya, pak." Celetuk sang penghulu membuat kedua mempelai terkejut dan menahan malu.
Bagaimana mungkin Jimmy tidak malu? selama ini mereka tidak pernah bersentuhan selain saling berpelukan hanya sekali saat bunda Fadia memaksa Nasya untuk kembali pada Gadhing.
"Cium."
"Cium."
Retno dan Amanda paling heboh bersorak agar Jimmy mencium Nasya.
Tatapan mata keduanya bertemu, Jimmy semakin mendekatkan diri membuat Nasya menunduk.
__ADS_1
CUP