
"Selamat datang kembali, pak."
Rispan menunduk hormat kemudian membukakan pintu mobil buat Jimmy bagian penumpang kemudian mengitari dan ikut masuk ke dalam mobil. Ia melajukan dengan kecepatan sedang.
Sudah dua tahun Jimmy meninggalkan tanah air. Begitu banyak perubahan yang telah dilalui bahkan harus mengorbankan kebahagiaan nya.
Semenjak dua tahu lalu memutuskan meninggalkan gadis yang sangat dicintai dan enam bulan kemudian mengetahui jika gadis itu telah menikah, semakin membuat seorang Jimmy Soecipto berubah 180 derajat.
Jimmy lebih dingin, irit bicara, dan gila bekerja.
Jimmy menghela nafas panjang saat merasa dadanya terasa terhimpit.
"Apa anda baik-baik saja, pak?" tanya Rispan khawatir.
"Hem," sahut Jimmy berdehem kemudian kembali menatap ponsel nya dengan wallpaper yang masih sama seperti dahulu.
"Apa bapak merindukan Nasya?' tanya Rispan seperti mengerti apa yang dirasakan Jimmy.
Semenjak Rispan diperintahkan menemui Nasya dan memutuskan hubungan mereka, Jimmy memerintahkan agar tidak lagi memantau gadis itu.
Tetapi, bukan Rispan namanya jika menuruti sang bos bila keputusan itu salah.
"Aku jauh lebih baik," sahut Jimmy datar membuat Rispan menghela nafas panjang.
"Berhenti," titahnya saat kedua mata nya menatap seseorang yang sangat dikenalinya sedang berada di taman.
Tiba-tiba hatinya terasa nyeri melihat Nasya sedang berjongkok, kedua tangan terentang menyambut seorang balita laki-laki berjalan pelan karena baru saja dapat berjalan.
__ADS_1
Bertambah perih ketika melihat Gadhing menghampiri Nasya yang sudah menggendong balita laki-laki tersebut. Bahkan Gadhing bermain dengan balita itu dan ketiganya tertawa bahagia.
Jimmy menunduk karena tak sanggup melihat Nasya bahagia, tetapi ia juga menyadari bila ini adalah keputusan nya.
"Keluarga yang sempurna," gumam Jimmy masih di dengar Rispan.
"Jalan, Ris." Titahnya dan Rispan langsung melajukan mobilnya menuju mansion.
*
*
"Tampan.. Kemarilah!" teriak Nasya merentangkan tangan menanti balita laki-laki bernama Emier berjalan kearahnya.
Emier Dzaky Athafariz memiliki arti yaitu Pangeran yang memesona, cerdas, dan kesatria.
"Mbak Retno kemana, mas?" tanya Nasya setelah tidak mendapati Retno bersama pria itu.
"Mbak kamu itu sudah pulang dari pagi, Sya."
Nasya mencebik. "Apa aku bilang. Sudah di rumah saja ngeyel," omel Nasya membuat Gadhing tertawa.
"Namanya juga lagi hamil. Maunya dekat suami terus," tutur Gadhing semakin membuat Nasya cemberut.
Ya. Retno sedang hamil anak kedua. Sementara Emier masih berusia 1 tahun. Sepertinya pasangan itu terus bekerja keras memproduksi keturunan.
"Maaf harus ngerepotin kamu terus, Nasyama."
__ADS_1
"Bukan masalah, mas. Bahkan aku gak masalah jika Emier menginap di rumahku," kata Nasya tulus.
"Ya jangan, Nasyama. Mbak mu akan ngomel sepanjang malam karena khawatir," kata Gadhing membuat Nasya tertawa.
Sekarang Nasya membenarkan apa kata orang. Jika pria akan berubah sangat manis setelah menemukan cinta sejatinya.
Seperti Gadhing ini. Pria itu nampak berubah total menjadi suami idaman. Tidak kaku seperti dahulu lagi.
Nasya duduk di salah satu kursi di taman, dengan telaten ia menidurkan Emier, satu tangan nya memegang botol susu yang tengah di minum Emier dan Gadhing duduk di sebelah.
Persis seperti keluarga harmonis jika orang lain yang melihat mereka.
Beberapa saat kemudian, Dika berjalan ke arah mereka lalu mengambil alih Emier dari tangan Nasya.
"Kenapa mas gendong? kalian baru saja dari bekerja," gerutu Nasya.
"Kenapa calon istriku sangat galak sekali?" goda Dika membuat Nasya mencebik.
"Calon istri, endasmu." Nasya melengos.
Sudah dua tahun Dika mendekatinya. Namun, Nasya tak ingin terjatuh dalam kesalahan yang sama.
Ia sangat menikmati kesendiriannya. Walau ada sewaktu waktu merasa kesepian dan teringan dengan seseorang, tapi Nasya tak mempermasalahkan hal itu.
"Sudah-sudah. Kenapa kalian selalu bertengkar," lerai Gadhing kemudian mengajak Nasya dan Emier pulang.
Dika hanya bisa pasrah. Sampai sekarang, mantan istri dari sahabatnya itu sangat sulit di taklukkan.
__ADS_1