
"Sayang, mas bisa jalan sendiri."
Nasya menghentikan kursi roda yang diduduki oleh Jimmy. Ia membungkuk tubuhnya ke telinga sang suami.
"Biar aku layani mas sekarang dan aku minta bayaran nya di kamar," goda Nasya agar Jimmy tetap mau berada di kursi roda tersebut.
Jimmy menoleh ke samping dimana saja Nasya berada disana. Dengan senyuman menggoda, ia mengangguk menyetujui apa yang dikatakan istrinya. "Dengan senang hati," ucapnya membuat keduanya tertawa kemudian Nasya mendorong kursi roda itu masuk ke dalam mansion.
Sore itu, Jimmy dan Nasya pulang lebih dahulu karena sang suami terlihat sudah lebih banyak duduk, itu artinya lelah mulai singgah.
Dengan telaten Nasya membantu Jimmy naik ke atas ranjang, membantu menaikkan kedua kaki, lalu duduk di tepi ranjang seraya memijat kaki sang suami.
"Apa kamu menyesal menikah depan pria gak sehat seperti aku, Sya?" tatapan keduanya bertemu dengan memasang wajah yang sama serius pula.
Nasya tersenyum disertai geseran tubuhnya semakin dekat dengan Jimmy. Tangan nya menggenggam tangan sang suami dengan erat.
"Aku gak pernah menyesal, mas. Justru aku bahagia dinikahi kamu," ucap Nasya jujur.
"Bahagia gimana?"
Senyuman Nasya kian melebar. "Ya. Aku bahagia dinikahi, mas. Selama menjadi istri mas, kamu selalu menomorsatukan aku dan Tiara walau anak kita jauh. Mas selalu menjadikan aku Ratu di mansion mas yang mewah ini, walau aku sendiri belum terbiasa jadi istri orang kaya." Nasya menjeda ucapan nya karena terkekeh oleh ucapan nya barusan.
"Mas juga buat aku semakin dekat dengan Allah. Aku selalu berdoa untuk kesembuhan mas," jelas Nasya membuat Jimmy terharu.
Jimmy mendekap tubuh mungil Nasya. Harum tubuh Nasya selalu membuatnya tenang. Padahal, Nasya saat ini masih mengenakan gamis dan hijab panjang nya.
"Jangan pernah tinggalkan mas, sayang. Kamu boleh cari pengganti mas kalau mas sudah gak ada," ucap Jimmy serius tetapi perutnya yang harus menerima cubitan dari Nasya.
"Jangan ngomong sembarangan," cebik Nasya mengurai pelukan. Bibirnya mengerucut karena tidak suka dengan ucapan Jimmy barusan.
"Mas pasti bisa sembuh. Enggak ada yang gak bisa di dunia ini selain gigit telinga dan kepala sendiri," omel Nasya membuat dahi Jimmy mengerut.
"Hei. Ucapan darimana itu?"
"Dari Buya Niko," sahut Nasya jujur, kemudian Jimmy tertawa karena baru tahu jika Buya Niko yang terlihat bijak mampu memikirkan diluar nalar orang lain.
*
*
"Rispan. Ris, tunggu aku." Novi terus mengejar Rispan, keduanya bertanggung jawab atas acara Jimmy dan Nasya siang tadi dan saat malam hari harus memantau acara yang hendak usai beberapa menit lagi.
Tangan Rispan terkepal, ia membalikkan diri kearah dimana Novi mulai mendekat kearahnya.
__ADS_1
"Berhenti mengasihaniku, Nov."
Novi berdecak. "Khawatir dan kasihan itu berbeda, Ris."
Rispan menghela nafas panjang.
"Kamu harus lupakan Nasya, Ris. Pasti selama ini pak Jimmy berusaha keras agar enggak nunjukin amarah nya karena kamu ada hati dengan istrinya."
Rispan menatap Novi dengan tajam, rahang nya mengeras kala mendapati dirinya di gurui oleh orang lain selain Jimmy dan ibu Mayang.
"Kamu gak tahu apa-apa tentang ku. Jangan mengatur hidupku, Nov."
Sekuat tenaga Novi menguatkan hatinya. Ia tidak ingin kehilangan Rispan. Cinta nya sudah terlalu lama dipendam semenjak bekerja menjadi sekretaris Jimmy.
"Ada aku, Ris!" Novi tertunduk merasakan sakit dihatinya. Cukup lama ia mengagumi Rispan dalam diam sehingga nekad menjadi teman ranjang pria itu.
Tanpa menjawab, Rispan menarik tangan Novi dengan kasar. Beruntung lorong menuju gudang Kantor tersebut sepi.
"Sa-sakit, Ris."
Rispan tidak memperdulikan Novi yang kesakitan akibat ulahnya. Ia buka dan menarik Novi masuk ke dalam gudang lalu menutup pintu tersebut, tak lupa menguncinya.
Novi menyentuh pergelangan tangannya yang memerah akibat tarikan Rispan barusan. Melihat tatapan tajam pria itu membuat nyalinya ciut.
Dengan kasar dan penuh naffsu Rispan melucuti pakaian yang di kenakan oleh Novi. Menyentuh, meraba, membelai, hingga mereemas bagian-bagian tubuh sensitif milik Novi sampai puas.
Amarah bercampur naffsu yang telah membara membuatnya tidak memikirkan apakah Novi telah siap atas perlakuan nya.
Disaat Rispan melepas dan menurunkan celana panjangnya, tangannya dicekal oleh Novi.
Tatapan keduanya bertemu. "Pelan-pelan, Ris. Kumohon," pinta Novi mengiba dan diangguki oleh nya.
Sesuai permintaan Novi, Rispan menggerakkan pinggulnya perlahan namun pasti seirama dengan suara erangan dan desaahan keduanya.
Novi sendiri merasa tenang Rispan menuruti permintaan nya. Memang sering sekali Rispan melakukan pemanasan disertai amarah yang tersimpan setiap melihat kemesraan Jimmy dan Nasya. Ia memaklumi hal itu, tetapi kali ini ia harus mengingatkan Rispan untuk lebih lembut saat penyatuan.
Tidak puas melakukan nya dengan posisi berdiri, Rispan membalikkan tubuh Novi hingga membelakanginya.
Ia memasukkan kembali pusaka nya ke inti tubuh Novi dari belakang. Kepala keduanya menengadah seirama masuknya pusaka ke dalam inti tubuh Novi, seakan merasakan kenikmatan tiada tara.
Suara desaahan yang dipaksa agar tidak terlalu lantang kini tak mampu dibendung lagi.
Suara desaahan tersebut justru memacu gaiirah Rispan lagi. Ia semakin mempercepat gerakan maju mundur nya. .
__ADS_1
"Ris, pelan-pelan." Novi menoleh mencoba menatap Rispan yang tengah menikmati permainan.
Rispan menunduk menatap Novi dengan tatapan gaiirah yang masih membuncah. "Kenapa? bukankah kamu selalu memintaku menghentakkan dengan keras seperti ini?" tanya Rispan seraya menghentak keras inti tubuh Novi, membuat sang empu mendesah.
"Aah, Ris." Racau Novi.
"Aahh.." Rispan meracau, ini pertama kali nya melakukan penyatuan dengan Novi secara sadar.
Hujan semakin cepat kala merasakan puncak kenikmatan akan segera hadir. Tangan Rispan tak ingin diam saja, kedua tangan itu mereemas payuudara Novi dari belakang.
"Rilis.. Aahh,"
"Aahh..."
Novi tersenyum setengah merasakan sisa kenikmatan itu. Senyuman yang selalu ia kembangkan disetiap pelepasan karena Rispan tidak pernah menggunakan pengaman.
Setelah lepas dari penyatuan, saat Rispan membalikkan tubuh membelakangi nya sembari memakai celana panjang, Novi memeluk pria itu dari belakang tanpa sehelai benangpun.
"Berhentilah, Nov."
Novi menyandarkan kepala pada punggung kekar Rispan. Matanya terpejam menikmati harum tubuh Rispan yang sudah bercampur dengan keringatnya juga.
Rispan menghela nafas panjang. Mungkin mulut nya selalu bicara pedas, tetapi pantang baginya kasar terhadap wanita.
Karena Rispan bukan Abang RB yang rela banting dedek.
"Sudah?" tanya Rispan setelah beberapa saat masih dengan posisi yang sama.
Novi mengeratkan pelukan seraya gelengan kepala darinya. Sebenarnya ia sedang menyiapkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan.
"Ris," katanya.
"Hem."
"Aku ha-hamil."
DEG
❤️
Hai kesayangan emak...
Tetap dukung karya emak ya.. Ingat pengumuman pemenang di akhir novel ini ya..
__ADS_1
Oh iya.. Novel emak yang berjudul 'TRAPPED LOVE TWINT R' akan emak lanjut ya ..