Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
121. JSAMS


__ADS_3

Nasya mengalungkan kedua tangan di leher Gadhing. Kedua tubuh mereka sudah terbakar api gairahh dan ingin menuntaskan nya.


"Di kamar saja, mas!" Nasya berbisik dan menahan tangan Gadhing ketika hendak membuka resleting gamisnya.


Gadhing mengangguk lalu menggendong Nasya ala bridal style.


"Mamiii!!!"


Bibir yang sudah kembali menyatu kini terlepas dengan rasa terkejut tiada terkira. Keduanya langsung melihat ke arah keempat anak mereka yang berdiri tidak jauh dari mereka. Kemudian keduanya saling pandang.


Tatapan itu seakan menyiratkan mereka lupa telah memiliki empat anak yang masih kecil-kecil.


"Mami kok di gendong, papi Gadhing? apa mami sakit?" tanya Azzam mendekati orang tuanya.


Baik Nasya maupun Gadhing gelagapan dan langsung menurunkan Nasya. "Nggak sayang. Mami gak sakit," terang Nasya kikuk.


Kobaran api gairah yang sudah membara siap menerkam Nasya akhirnya redup bahkan sisa bara api gairah itu sudah tidak ada lagi.


"Mami. Zurra lapar," tutur gadis kecil itu.


"Ayo makan sama Abang," ajak Emier dan di turuti Azzura. Azzam dan Asnan mengikuti mereka.


Nasya dan Gadhing saling pandang kemudian terkekeh. "Mas lupa!"


"Anak kita empat, mas. Jangan lupa itu, untung saja gak lihat kita yang aneh-aneh!" omel Nasya membuat Gadhing menggaruk tengkuk leher nya.

__ADS_1


Nasya berjalan menuju dapur menyusul keempat anak mereka diikuti oleh Gadhing.


"Abang Emier bisa ambilkan makan Adik Zurra?" tanya Nasya kagum melihat anak sulung Gadhing sudah mandiri sejak dini.


"Emier memang sangat mandiri, sayang. Dia sangat mengerti mas!" sahut Gadhing memeluk Nasya dari belakang lalu mengecup pipi istri ya itu.


"Mas!"


"Ada anak-anak," tegur Nasya seraya memberi pukulan kecil pada punggung tangan Gadhing.


"Ini hanya pelukan sayang."


Nasya hanya menggeleng membiarkan Gadhing yang selalu menempel kemanapun ia bergerak karena masih melayani keempat anaknya sedang makan siang.


"Siap, mami!!" ucap keempatnya serempak membuat Nasya dan Gadhing tersenyum.


Gadhing sendiri merasa bersyukur selama lima tahun terakhir kedua anaknya sangat dekat dengan Nasya sehingga tidak ada lagi tahap perkenalan diantara ibu dan anak sambung.


Gadhing duduk di dapur menunggu Nasya yang tengah menemani keempat anak mereka untuk tidur siang. Awalnya ia ingin menemani tetapi Nasya melarang.


Senyuman nya mengembang melihat Nasya baru tiba di dapur. "Sudah pada tidur?" tanya Gadhing memastikan saja.


"Sudah, mas. Anak-anak mas sangat penurut dan mandiri. Aku bangga," ucap Nasya tulus.


Gadhing mengangguk setuju. "Ya. Dan Azzam juga terlihat sangat melindungi kamu dan Zurra. Mas suka itu," tutur Gadhing.

__ADS_1


Gadhing menatap Nasya dengan seksama. "Yuk!" ajaknya tiba-tiba.


Nasya mengerutkan dahi. "Kemana, mas?"


"Lanjutin yang tadi, sayang."


Nasya mendelik. "Masih siang, mas."


Gadhing menarik pinggang Nasya hingga duduk di pangkuan nya. "Aku sangat memimpikan moment seperti ini, Nasyama. Maafkan kebodohanku dulu hingga menyia-nyiakan cinta mu. Aku sangat berterima kasih kepada pak Jimmy telah menjadi obat luka hatimu," ungkap Gadhing benar adanya.


Nasya menatap mata Gadhing dengan seksama. "Aku sudah lama memaafkanmu, mas. Mas Jimmy selalu mengajari aku banyak hal. Karena cinta nya hingga kini aku masih memiliki semangat untuk hidup," kata Nasya.


Gadhing mengelus pipi Nasya dengan lembut. "Mas janji pada pak Jimmy. Nggak akan ada air mata kesedihan lagi yang keluar dari mata indahmu. Sumpah demi Allah, mas sangat mencintaimu Nasyama."


❤️


Siang kesayangan..


Ini adalah bab² terakhir ya..


Bulan depan insyaallah novel Emier rilis..


Oh iya.. Mak mohon bantuan nya dukung karya emak di akun baru emak ya.. di akun baru itu untuk ikut lomba penulis pemula.


__ADS_1


__ADS_2