Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
132. JSAMS


__ADS_3

"Katakan yang sejujurnya, mas. Kenapa Emier cerita kalian akan tinggal disini bersama kami? bukan nya kami yang akan pulang ke sana?"


Nasya dibuat heran sedari tadi atas kedatangan Gadhing dan kedua anak sambungnya. Bukan karena tidak senang, tetapi datang secara tiba-tiba membuatnya merasa bingung dan harus mendapat penjelasan dari sang suami.


Ditanya seperti itu oleh Nasya justru membuat Gadhing tertawa kemudian menangkup wajah istrinya dan mengecup bibir itu berulang kali.


"Astaghfirullah, mas. Di jawab kok malah cium-cium," siapa yang tidak kesal saat ingin mendengar penjelasan justru tidak kunjung mendapat penjelasan.


"Mas masih capek, sayang. Kepala mas pusing," Gadhing belum ingin menjelaskan kedatangan nya karena belum siap menceritakan apa yang telah dialaminya.


Nasya mencebik membuat Gadhing terkekeh. Di kecup dahi istrinya itu, turun ke kedua mata, hidung, kedua pipi. "Mas kangen kamu, Nasyama. Sangat kangen," gumam nya dengan kedua dahi dan hidung saling bersentuhan.


"M-mas," kata Nasya pelan dengan memejamkan mata menerima setiap sentuhan-sentuhan dari Gadhing yang telah lama dirindukan nya.


Tak lupa pula Nasya juga mengimbangi permainan Gadhing. Meluapkan rasa rindu yang menggebu. Tiga bulan lebih tidak bertemu membuat mereka merasakan begitu nikmat tiada tara.

__ADS_1


"Terimakasih sayang," kata Gadhing seraya menyelimuti tubuh mereka kemudian memeluk Nasya dengan pelukan posesif.


"Mas," kata Nasya membiarkan bahu mulusnya di kecup berulang kali oleh Gadhing.


"Ya," sahutnya masih melakukan hal yang sama.


"Kalau aku hamil lagi, gimana?" tanya Nasya membuat Gadhing menghentikan apa yang dilakukan nya tadi.


Gadhing membalikkan tubuh Nasya menjadi mengarah padanya. "Aku berharap kamu hamil anakku, Nasyama. Tapi mas gak memaksa," katanya menjeda ucapan nya kemudian matanya membulat saat menyadari sesuatu. "Tiga bulan lalu mas gak pkek pengaman. Apa kamu nggak minum obat pencegah kehamilan?" tanya nya dengan perasaan yang ketar-ketir.


Gadhing terduduk dan membuka selimut mereka. Ia membuka kedua pahaa Nasya lebar-lebar melihat keadaan sarang surga dunia nya. "Sayang. Agak bengkak. Aku bermain terlalu kasar, tadi. Apa gak kram perutnya? kita ke Rumah Sakit, ya?" pria itu mendadak panik membuat Nasya tertawa.


"Nasyama?!! aku gak sedang bercanda," decak Gadhing karena melihat sang istri seperti tidak mengerti ketakutan nya.


"Apa mas lupa, kalau mas Dokter kandungan?" tanya Nasya disertai gelakan dan Gadhing menepuk jidat baru ingat siapa dirinya.

__ADS_1


Gadhing menyentuh perut Nasya dengan perasaan haru. Matanya berkaca-kaca, ia kecup daerah perut sang istri.


"Kenapa gak kasih tahu dari awal?" tanya Gadhing seraya menarik selimut menutupi tubu mereka kembali.


"Kami sehat, mas. Perut ku gak kram. Anak kita, anak yang kuat," ungkap Nasya.


"Seperti kamu, Nasyama. Anak kita kuat sepertimu," puji Gadhing karena kenyataan nya memang Nasya sangat kuat hingga dapat menghadapi ujian hidupnya hingga sekarang.


"Besok kita ke Rumah Sakit. Mas mau lihat anak kita, kan?" tawar Nasya dan disetujui oleh Gadhing.


"Sayang. Mas sudah gak bekerja di Rumah Sakit lagi," ungkap Gadhing memilih untuk jujur lebih baik daripada harus di tutupi lebih lama lagi.


Nasya mengerutkan dahi. "Maksud, mas? kok bisa?"


Gadhing menceritakan kejadian awal dimana Dena yang selalu mendaftar jadi pasien nya. Hingga kasus yang menimpanya.

__ADS_1


Nasya mendengar itu hanya dapat menghela nafas panjang. "Ya sudah. Kita tinggal disini, saja."


__ADS_2