Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
54. JSAMS


__ADS_3

"Ingat. Gak boleh seperti itu," Nasya sedari tadi mengomel pada Jimmy dan Tiara.


Karena Nasya merasa ayah dan anak ini tidak sopan karena tidak ingin bergabung saat ada tamu.


"Kamu lagi, mas. Mereka itu tamu dan juga teman aku loh. Mbok yo pasang wajah ramah gitu. Aku kan jadi gak enak sama mereka," omel Nasya lagi dengan wajah cemberut.


Tapi percayalah. Jimmy sudah biasa diomeli Nasya dan hanya diam saja bukan karena takut ataupun tidak terima karena dimarahi. Ia merasa gemas dan ingin rasanya membungkam bibir Nasya menggunakan bibirnya.


Astaghfirullah. Jimmy beristighfar ketika pikiran nya sudah melayang tak beres.


"Maaf, mi."


"Maaf, sayang."


Nasya menghela nafas panjang setelah mendengar kata maaf dari dua orang dihadapan nya. Ia bangkit mengajak keduanya.


"Ya sudah. Jangan di ulangi. Sekarang kita makan siang dulu, ayo."


Sebenarnya, Nasya merasa lucu dan tak percaya jika seorang Jimmy Soecipto yang terkenal dingin bagai raja hutan akan menjadi anak kucing yang lucu dan penurut.


Ketiganya duduk dihadapan meja makan yang sudah terhidang menu makan siang rumahan. Dengan telaten Nasya melayani Jimmy dan Tiara.


Satu hal yang membuat Nasya semakin bersyukur, gadis kecil itu sudah sangat pandai makan dengan tangan nya sendiri. Ia menduga bila Jimmy mengajari sikap disiplin pada gadis kecil itu.


Sedang Jimmy menatap Nasya penuh cinta dan kekaguman. Seumur hidup setelah mengenal cinta, tak pernah sekalipun merasakan diperhatikan begini oleh seseorang.


"Jangan menatapku seperti itu, mas. Segeralah makan," cicit Nasya salah tingkah setiap kali Jimmy menatapnya seperti itu.


Nasya memberikan sepiring nasi beserta pasukan nya kepada Jimmy.


"Kamu sangat indah sehingga butuh kerja keras untuk menghalalkan mu. Aku ingin ketika aku sudah menjadi suamimu, ibadahku tidak lagi lalai. Bersabarlah, sayang. Mungkin bisa saja kita menikah dalam waktu dekat. Tapi, aku malu sama Allah."


Nasya terharu dan menatap Jimmy dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku akan bersabar, mas."


Setelah selesai makan siang bersama, ketiganya sudah bersiap hendak pergi. Karena Tiara ikut, Nasya duduk bersama Tiara di kursi penumpang belakang kemudi.


"Papi sudah sama seperti sopir online," celetuk Jimmy karena dua wanita beda usia itu tengah asyik bercerita dan menonton kartun di ponsel Nasya.


Nasya melirik. "Cari uang tambahan, mas. Bisa buat tambahan uang mahar," gurau Nasya membuat Jimmy tersenyum.


"Kamu lucu, sayang."


Nasya hanya mencebik seraya memalingkan wajah. Menyadari arah jalan mobil berbeda membuat dahinya berkerut. "Kita mau kemana, mas?"


"Adzan, Sya. Kita sholat dulu."


Nasya terharu disertai senyum manisnya lalu mengangguk.


Mobil mereka berhenti diparkiran Masjid. Setelah semua keluar mobil, Jimmy menggendong Tiara. "Tiara sholat bersama mami."


Tiara mengangguk. "Setelah sholat, Tiara mau bobok." Gadis kecil itu terlihat mengantuk, menyandarkan kepala di bahu Jimmy.

__ADS_1


Ketika berada tak jauh diantara tempat berwudhu khusus pria dan wanita, Jimmy menyerahkan Tiara pada Nasya.


"Benar kamu tahan gendong Tiara?" tanya Jimmy.


Nasya mengangguk lalu kedua nya berpisah menuju tempat berwudhu yang berbeda. Ia dengan telaten mengajari Tiara cara berwudhu yang benar.


"Tiara sholat di shaf belakang mami, ya."


Tiara mengangguk. "Baik mami."


"Jangan kemana-mana dan tetap ikuti gerakan sholatnya. Tapi kalau capek, Tiara boleh duduk saja," Nasya memberi wejangan-wejangan agar gadis kecil itu tetap berada di dalam Masjid.


*


*


Jimmy masuk ke dalam Masjid setelah selesai berwudhu. Ternyata shaf depan sudah penuh dan ia kebagian shaf terakhir karena agaknya Masjid yang mereka kunjungi lebih banyak jamaah pria dari pada jamaah wanita.


Jimmy tersenyum ketika menyadari di dalam ruangan suci ini, semua umat manusia memiliki derajat yang sama di mata Allah.


Kamu membawa kebaikan dalam hidupku, Sya. Semoga memang kamulah jodoh terakhirku.


Para jamaah memulai sholat ketika imam sholat telah mengucapkan 'Allahuakbar'.


*


*


Jimmy menengadahkan kedua tangan dengan mata terpejam ia berdoa dengan sungguh-sungguh.


Ya Allah. Hamba sadar jika hamba yang berlumur dosa tidak pantas meminta sesuatu yang lebih baik dari hamba ini. Tapi, bolehkah sekali ini saja hamba memaksa?


Jimmy menggeleng kecil ketika doa nya dalam hati itu seakan meminta pada manusia bukan Sang Pencipta.


Hamba ingin Nasya menjadi istri hamba di dunia maupun di akhirat.


Jika Jimmy berdoa seakan memaksa, berbeda pula Nasya di shaf pertama.


Di balik mukenah, kedua tangan Nasya menengadah keatas dengan mata terpejam.


*Ya Allah. Kata orang jika memilih pasangan untuk menjadi istri atau suami itu jangan hanya karena nyaman, tetapi kita harus merasakan jika hidup bersamanya, surga lebih terasa dekat 'kan?


Sekarang, bolehkan hamba mengakui itu? Ya Allah, gerakkan lah hati mas Jimmy agar segera meminangku karena aku takut perasaan kami yang telah menyatu akan menjadi dosa.


Ya Allah. Jika di depan mas Jimmy aku malu-malu bahkan enggak pernah mengungkapkan isi hatiku. Tetapi, di hadapan Mu, aku mengakui bila aku mencintai laki-laki itu dan berharap hanya dia yang akan menjadi suamiku di dunia dan di akhirat*.


*


*


"Sepertinya Tiara benar-benar kelelahan, mas."

__ADS_1


Jimmy mengangguk. Tiara saat ini berada dalam gendongannya.


"Kita mau kemana, mas?" tanya Nasya penasaran karena sejak awal mengajaknya pergi, Jimmy tidak memberitahu kemana tujuan mereka pergi.


"Kamu ikut saja," sahut Jimmy yang baru saja memasangkan seat belt pada Tiara.


Akhirnya Nasya hanya pasrah.


Jimmy menjalankan mobilnya menuju suatu tempat dengan senyum merekah. Hari ini ibu Mayang akan datang ke Surabaya karena sudah tak sabar ingin bertemu dengan Nasya.


Awalnya Jimmy melarang, tetapi atas laporan kepala pelayan di mansion orang tuanya di Jakarta mengatakan jika ibu Mayang telah berangkat menuju Surabaya, akhirnya ia hanya bisa pasrah.


"Mas. Kok ke Bandara?" tanya Nasya heran.


Jimmy melirik Nasya melalui kaca spion tengah. "Orang tua aku datang, Sya."


"Apa?"


*


*


Di tempat lain. Dimas dan Amanda masih saja di dalam mobil padahal sudah sampai ke tujuan mereka, yaitu rumah Gadhing.


Mobil yang mereka naiki bukanlah milik Dimas ataupun Amanda. Mobil itu adalah milik Nasya karena gadis itu meminjami selama persiapan pernikahan hingga selesai.


"Kamu yakin undang Dokter Gadhing?" tanya Dimas sedikit ragu.


Amanda menoleh disertai anggukan. "Sekalian kan, mas?"


Dimas menghela nafas panjang. "Aku meminta maaf gak masalah, Manda. Tapi mengundang Dokter Gadhing dan disana ada Nasya juga calon suaminya. Apa gak akan menjadi masalah?" tanya Dimas masih merasa ragu.


Amanda hanya tersenyum kemudian keluar dari mobil diikuti dengan Dimas. Keduanya langsung memencet bel dan tak lama kemudian keluarlah Buya Niko.


"Assalamualaikum, Buya."


"Waalaikumsalam. Mari masuk Amanda, Dimas," ajak Buya Niko yang memang sudah mengenal pasangan itu.


Mereka masuk dan sudah duduk setelah di persilahkan. Tampak Gadhing ikut bergabung setelah dipanggil Buya Niko.


Amanda meringis melihat Gadhing tampak pucat, dan sedikit kurus. Jangan lupakan jatum infus yang tertancap di punggung tangan.


"Dok. Aku datang kesini ingin mengakui dan meminta maaf pada Dokter atas kesalahan yang ku sengaja di masa lalu," ucap Dimas lirih.


Gadhing mengangguk. "Tak apa. Aku sudah memaafkan mu, Dimas. Jangan kamu sakiti Amanda. Dia gadis baik-baik," katanya mengingatkan.


Dimas tersenyum dan merasa lega. Benar yang dikatakan Amanda, mulai lah hidup baru setelah meminta maaf kepada orang-orang yang telah kita sakiti.


"Ini undangan untuk, mas. Aku berharap mas datang ke resepsi pernikahan kami," tutur Amanda dan diangguki oleh Gadhing.


❤️

__ADS_1


Apakah akan ada sesuatu terjadi di hari pernikahan Dimas dan Amanda?


__ADS_2