Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
124. JSAMS


__ADS_3

"Kamu itu istri mas Gadhing, Nasya. Kamu gak salah dalam bidang ini," ungkap Manda kepada Nasya.


"Kami akan dukung kamu menuntut keadilan jika nanti Dena bertindak melalui jalur hukum," seru Novi lagi.


Kedua wanita itu tengah berada di mansion Nasya atas perintah Rispan agar menemani Nasya.


Beruntung di mansion banyak pelayan yang dapat menjaga para anak mereka.


Nasya sedari tadi tidak tenang karena sudah hampir malam Gadhing tidak terlihat pulang. Padahal ia sudah mengabari bila dirinya pulang ke mansion.


Di teras, Rispan dan Dimas terlihat saling diam namun dalam hati kedua pria itu sudah tertanam kobaran api yang siap membakar Gadhing bila melakukan kesalahan.


Keesokan harinya Nasya dan yang lain nya sudah bersiap hendak ke Rumah Sakit menyusul Gadhing.


Berbagai cara sudah dilakukan Nasya agar hatinya tenang. Berwudhu, sholat, mengaji, berzikir. Apapun itu sudah dilakukan namun tetap saja ada rasa cemas.


Amanda dan Novi juga tidak membiarkan Nasya sendiri. Mereka menginap di mansion dan sekarang anak-anak mereka berada di mansion.

__ADS_1


Setiba di Rumah Sakit mereka segera menuju kamar rawat inap ibu Dena berada yang sebelumnya sudah di persiapkan Rispan.


Mengenai bagaimana perasaan Rispan kepada Nasya, hanya pria itulah yang tahu. Yang pasti pria itu sudah menerima Novi dan mencoba menjadi suami yang bertanggung jawab. Kini, tugas nya memastikan ketenangan dan kebahagian Nasya juga.


"Assalamualaikum," ucap mereka bersamaan ketika masuk ke dalam kamar rawat inap itu.


Nasya mencoba tersenyum kala melihat Gadhing duduk di sofa sedang memegang ponsel, sementara Dena sedang menyuapi ibu Dena.


Ah, hati Nasya teriris mana kala mereka terlihat seperti pasangan yang sedang merawat orang tua mereka.


Nasya mendekati Gadhing kemudian meraih tangan suaminya untuk salam takzim. "Mas sudah sarapan?" tanya Nasya ikut duduk bersama Gadhing.


Gadhing mengatakan sejujurnya dan saat pagi hanya mampir menanyakan keadaan ibu Dena. Alasan nya duduk di sofa kamar ini karena setelah tidak dapat menghubungi Nasya, ia menghubungi telepon mansion ternyata istrinya menuju ke Rumah Sakit.


Senyuman Nasya merekah disertai anggukan. Alhamdulillah, ya Allah. Ampuni hamba yang sudah suudzon kepada suami hama sendiri, gumam Nasya dalam hati.


"Nasya bawa sarapan buat mas," kata Nasya kemudian membuka kota bekal yang memang dibawanya untuk Gadhing.

__ADS_1


Sementara dua pasang suami istri itu memberikan bingkisan kepada Dena. Yang pasti Amanda dan Novi memasang wajah masam kepada wanita itu.


Beberapa saat kemudian Gadhing telah selesai sarapan membuat Dena mengubah duduknya.


"Tadi malam ibu mengatakan sesuatu dan mas Gadhing juga mengetahuinya," tutur Dena, sontak semua nya menatap Gadhing penuh tanda tanya.


Gadhing menatap Nasya. "Ibu nya Dena meminta mas menjaga Dena dengan menikahinya. Tapi mas menolak sayang. Dena akan melaporkan kamu ke polisi dan mas gak mau itu," tutur Gadhing terlihat sedih.


Amanda dan Novi sontak hendak menggurui Dena tetapi nasyah menggeleng. Ia menatap Dena, wanita yang kurang disukainya semenjak pertama kali bertemu.


"Mbak Dena mau saya lapor balik atas perbuatan tidak senang dan mengganggu suami orang? apa mbak tidak tahu siapa saya? saya adalah janda yang di tinggal mati oleh almarhum Jimmy Soecipto pemilik PT. Istana Tiara? saya bisa membuat keluarga anda jatuh miskin dan menderita," gertak Nasya membuat semua orang disana terkejut mendengarnya.


Bagaimana tidak?


Mereka selalu melihat Nasya lemah lembut dan tegas tetapi tidak pernah mengancam begini.


Begitu juga Gadhing tidak menyangka Nasya akan menunjukkan kekuasaan nya di hadapan orang lain.

__ADS_1


"Sayang," ucap Gadhing lirih.


"Tolong, mas. Biarkan dia tahu siapa istri mas ini."


__ADS_2