
Gadhing di bawa ke kantor polisi. Beruntung Dokter Dika dan asisten nya membawakan bukti-bukti perawatan Retno selama kehamilan kedua nya.
Jimmy juga menyewa pengacara khusus menangani kasus Gadhing. Sehingga kasus penangkapan Gadhing di tutup karena pria itu tidak terbukti mencelakai istrinya sendiri.
Dokter Dika mengantarkan Gadhing untuk segera pulang, tetapi sebelum pulang, ia meminta untuk ke Rumah Sakit karena ingin melihat putra ke duanya.
Di depan ruang bayi, Gadhing melihat putra keduanya tertidur pulas dengan alat medis yang menempel pada tubuh nya.
Setelah puas melihat putra keduanya, Gadhing langsung meminta dokter Dika mengantar nya pulang.
Selama perjalanan tidak ada yang mengeluarkan suara. Dokter Dika memahami suasana hati sahabatnya itu sedang terguncang.
Selang beberapa waktu, mobil dokter Dika telah sampai di depan rumah Gadhing. Masih tampak ramai karena pengajian sedang berlangsung.
Gadhing dan Dokter Dika masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.
"Gadhing," pekik bunda Fadia langsung berhambur dalam pelukan Gadhing.
Sepertinya sang bunda begitu terpukul atas apa yang telah menimpanya.
"Gadhing baik-baik saja, Bun!" Gadhing mengusap punggung sang bunda.
"Emier kemana, Bun?" tanya Gadhing tidak melihat anaknya.
"Di kamar, tidur."
Gadhing mengangguk lalu mengajak bunda Fadia agar duduk kembali. Ia pun beralih ke kamar belakang buat mengambil pakaian ganti dan mandi segera.
Selesai mandi, ia masuk ke dalam ruang tamu untuk ikut pengajian.
*
*
Para pengaji telah kembali pulang ke kediaman masing-masing. Gadhing beserta kedua adik kembarnya membereskan ruang tamu. Tikar digulung, sampah botol air mineral telah di kumpulkan.
"Lumayan dapat dua karung. Jual ke butut lumayan ini," celetuk Daffi langsung mendapat timpukan dari Nasya.
"Juragan sapi kekurangan duit? ya elah..," pungkas Nasya langsung mendapat cubitan di pipinya dari Daffi.
Nasya cemberut sambil mengusap pipinya. Beruntung Jimmy sedang bersama Buya Niko.
"Sakit, mas!" ucap Nasya sengit.
Daffi terkekeh. "Maaf. Gimana kehamilan kamu, Sya?"
"Sehat lah. Top cer, apalagi?" ibu hamil itu sepertinya masih kesal dengan kakak nya ini.
__ADS_1
Daffi mendengar ucapan Nasya justru tertawa. "Jangan marah-marah. Nanti kedua anak kamu nurun jadi pemarah kayak kamu baru tahu rasa," celetuk nya membuat Nasya mencebik.
"Biarin. Yang penting cantik dan ganteng. Persoalan sifat bisa di latih pas lahir."
Daffi berdecak dan terdiam setiap kali mengajak Nasya berdebat.
"Mas. Ikut aku," ajak Nasya menarik tangan Daffi keluar rumah.
"Kita mau kemana, Sya?"
"Sudah ikut saja."
Daffi mengalah karena selalu begini jika sedang bersama Nasya.
*
*
Nasya dan Daffi menengadahkan kepala melihat buah jambu air berwarna merah bahkan ada yang berubah warna maroon.
Air liur Nasya seakan menetes melihat buah-buahan yang menggiurkan itu.
"Besok saja, ya. Ini sudah malam," kata Daffi walau sudah meminta kepada yang punya pohon, tetap saja manjat pohon malam hari terlihat menyeramkan.
"Mas. Yang sebelah sana, ya. Itu terlihat sangat manis," ucap Nasya tanpa perduli kan ucapan Daffi sebelumnya.
"Mas. Aku panggil suamiku, sebentar!" Nasya berlari kecil menuju rumah Gadhing. Ia lupa belum pamit kepada sang suami.
"Jangan lari-lari, Sya!" seru Gadhing saat melihat Nasya berlari memasuki pekarangan rumahnya. Saat ini ia sedang duduk di bawah pohon rambutan kecil di depan rumah.
Nasya langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh melihat Gadhing. "Iya, makasih mas."
Nasya masuk ke dalam rumah mencari Jimmy.
"Ya ampun, sayang. Mas khawatir!" tutur Jimmy menghampiri Nasya lalu mendekapnya.
Nasya meringis, karena pikiran nya benar-benar terjadi. "Maaf, mas. Aku pergi sama mas Daffi tanpa izin. Sekarang, ikut aku yuk."
Nasya menarik tangan Jimmy begitu saja tanpa ingin mendengar ocehan suaminya lagi.
"Pelan-pelan, sayang. Ya ampun, kamu sedang hamil!" Jimmy merasa pusing dengan kelakuan Nasya bila sudah merasa mendingan dari morning sickness nya. Maka istrinya itu akan terlihat bugar dan cekatan kembali.
Nasya melambatkan langkahnya demi peringatan sang suami. Bagaimanapun sang ibu yang dapat mengetahui keadaan janin nya.
Jimmy mengikuti arah pandangan sang istri ke atas pohon. Dan ia merasa terkejut dengan Daffi yang tengah duduk santai di dahan pohon jambu air, memakan buah itu sangat santai.
Bagaimana tidak santai? buah yang diinginkan Nasya sudah berada di kaos Daffi.
__ADS_1
"Mas. Mana punya aku?" tanya Nasya.
Daffi menunduk kemudian merentangkan kaos yang ia naikkan ke atas hingga dada demi menjadi wadah jambu air Nasya.
"Ini. Mas turun, sebentar."
Daffi turun dengan hati-hati. Namun, saat akan berpijak pada dahan terakhir, kaki nya tergelincir sehingga ia jatuh dan buah jambu air itu berserakan di tanah.
"Yah, mas. Jambu aku," pekik Nasya tanpa perduli Daffi yang tengah kesakitan.
Jimmy melihat reaksi Nasya seperti itu membuatnya menggeleng kepala. Dan ia sadari satu hal, istrinya itu memang sudah bersikap dewasa. Namun ada kalanya ia akan bersifat manja dan bertingkah lucu sesuai usia yang jauh dengan usianya.
"Kamu kutipnya hati-hati," ucap Jimmy kemudian ia membantu Daffa untuk berdiri.
Setelah selesai mengutip, ketiga orang itu meninggalkan tersebut dan segera kembali ke rumah Gadhing.
Sesampainya di dapur rumah Gadhing, Nasya meminta kepada Daffi membuat bumbu rujak ulek khas Medan.
"Sayang. Kenapa gak minta mas buatin bumbu rujaknya?" tanya Jimmy merasa tidak diperlukan oleh Nasya yang sedang menginginkan sesuatu.
Nasya tersenyum lalu menyerahkan buah jambu air yang sudah ia pindahkan ke mangkuk berukuran sedang kepada Jimmy. "Siapa bilang? ini tugas mas mencuci dan memotong buah nya."
Jimmy tersenyum lalu mencuri kecupan di pipi Nasya, setelahnya baru ia melakukan apa yang diminta oleh istrinya itu.
Nasya menunduk tersenyum malu atas perlakuan suaminya itu. Padahal di dapur masih ada Daffi.
Nasya hanya duduk diam saja karena baik Jimmy ataupun Daffi tidak membiarkan wanita hamil itu membantu pekerjaan mereka.
Daffi yang memang sering pulang kampung ke Medan tentu saja sangat mengetahui resep yang di minta oleh Nasya.
Sementara Jimmy yang sudah mulai terbiasa melakukan pekerjaan rumah dan membantu Nasya memasak, hasil potongan jambu air nya tidak terlalu buruk.
"Makasih mas, makasih juga suamiku!" seru Nasya menatap rujak jambu air tersebut.
Nasya menatap hidangan tersebut dengan mata yang berbinar, tentu saja membuat Jimmy dan Daffi tersenyum bahagia.
*
*
Tanpa diketahui oleh ketiga orang tersebut, Gadhing memerhatikan mereka sedari tadi. Selain sedang berduka, ia juga cukup bersyukur melihat Nasya sudah bahagia.
Ia pun bangkit melangkahkan kaki menuju kamar Emier. Ia naik dan beringsut masuk ke dalam selimut Emier yang tidak terlalu besar itu.
Ia mendekap erat tubuh sang anak dengan mata terpejam. Beberapa detik kemudian tubuh nya terlihat bergetar.
Benar. Aku pembawa sial. Seenggaknya kamu selamat dari pria sepertiku, Nasyama.
__ADS_1