Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
31. JSAMS


__ADS_3

"Nasyama Khadijah Putri," ucap Gadhing dengan suara bergetar dan mata memerah.


"Gadhing," pekik Bunda Fadia tak menyangka anak sulung nya akan menuruti permintaan Noni.


"Iya mas," sahut Nasya.


Tatapan keduanya bertemu.


"Aku ceraikan kamu. Sekarang kamu bukan istriku lagi,"


DEG


Hening.


Nasya bagai mimpi buruk pada malam hari. Kalimat yang tak pernah ingin di dengar setiap wanita berstatus sebagai istri, kini sudah diterimanya.


Tanpa diminta, air mata Nasya mengalir deras. Ia memberanikan diri menatap Gadhing yang juga tampak berkaca-kaca.


"Bukankah mas berjanji gak akan memintaku pergi?" tanya Nasya dengan isak tangis pilu.


Tampak Gadhing hendak menyentuh Nasya tetapi Nasya mundur satu langkah.


"Maaf."


Saat Nasya hendak bersuara, Noni batuk-batuk membuat pandangan Gadhing teralihkan dan langsung mendekati Noni.


Nasya tersenyum getir kemudian mengusap air mata nya dengan kasar. Cukup lama ia berdiri mematung disana, hingga Noni menatapnya dan memberikan senyuman miring.


Nasya mengangguk mengerti sekarang. Ia pergi begitu saja karena perhatian semua orang di ruang rawat itu tertuju pada Noni.


Nasya berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit dengan mengusap air matanya dengan kasar berulang kali.


Nasya terus berlari kecil menuju halte yang tak jauh dari Rumah Sakit. Sesampainya di halte, Nasya terus mencoba menghentikan tangisnya, namun begitu sulit baginya.


*


*


"Papi. Kenapa Mami enggak pernah mau pulang ke rumah kita?" tanya Tiara setelah selesai makan malam bersama Jimmy dan keduanya tengah duduk di ruang keluarga saat ini.


Jimmy meringis mendengar pertanyaan Tiara yang amat polos. "Mami hanya boleh main ke rumah kita siang saja, Tiara."


Bagi Jimmy, jawaban nya itu sangat masuk akal. Hanya bagaimana membuat Nasya mau datang ke rumah nya saja.


"Tapi Tiara pingin tidur bersama Mami, Pi."


Jimmy menghela nafas panjang. Rasanya ingin sekali mengumpat Nasya bila bertemu. Karena ulah gadis itu mengijinkan Tiara memanggil Mami, membuat anak semata wayang nya sangat mengharapkan kehadiran Nasya diantara mereka.


Dan lihat hasilnya sekarang, Tiara semakin kritis karena Nasya tidak pernah bertemu dengan anaknya lagi.


"Pi. Ayo ke rumah Mami," kata Tiara tersenyum manis dan langsung berdiri di hadapan Jimmy.


"Tapi ini sudah malam, Tiara."


Tiara menarik tangan Jimmy agar ikut berdiri. "Kata papi, kalau malam mami gak boleh ke rumah kita. Jadi kita ke rumah Mami saja,"


Mata Jimmy mendelik. Ia tak menyangka bila ucapan nya menjadi boomerang baginya sendiri.

__ADS_1


Belum juga mendapatkan ide agar Tiara mengurungkan keinginan, tangan nya sudah ditarik Tiara.


"Pakai jaket, nak."


Tiara menghentikan langkahnya dan menunggu suster Hana mengambil, memakaikan jaket padanya.


Sambil menunggu Tiara memakai jaket, Jimmy menghubungi Rispan agar ke rumahnya segera.


Beberapa saat kemudian, Rispan telah tiba di rumah Jimmy dan membuka pintu mobil ketika kedua majikan nya mendekati mobil.


"Dimana Nasya ku, Ris?" tanya Jimmy setelah mobil sudah melaju.


"Terakhir setelah dari Rumah Makan, mbak Nasya pergi ke Rumah Sakit, pak."


Tiara mendongak menatap Jimmy yang duduk disebelahnya. "Mami sakit, Pi?"


Jimmy menoleh lalu membelai rambut Tiara. "Teman mami yang sakit."


"Oh. Mami jenguk teman, ya?"


Jimmy mengangguk dan tersenyum.


Setengah jam lebih dalam perjalanan akhirnya mobil mereka hampir sampai. Mata Jimmy memicing ketika seorang gadis terkena sorotan lampu sedang menangis.


"Berhenti, Ris."


Rispan menghentikan mobil secara mendadak.


"Tiara. Kamu tunggu disini," titah Jimmy dengan raut wajah yang sulit dibaca.


Jimmy keluar dari mobil dan mendekati gadis yang sedang duduk di halte yang diyakini adalah Nasya.


Tampak gadis itu terkejut dan mendongak melihat Jimmy. Dan benar saja gadis tersebut adalah Nasya.


Nasya tampak mengusap air mata nya dengan kasar tetapi air mata itu tetap saja mengalir selaras dengan hatinya yang sakit.


Jimmy melihat Nasya sedang tidak baik-baik saja ikut duduk di samping Nasya dengan jarak kurang lebih 30 cm.


Jimmy merogoh saku celana dan menyerahkan sapu tangan kepada Nasya.


Nasya yang memang sedang membutuhkan benda tersebut langsung menerimanya. "Makasih, pak."


Jimmy memalingkan wajah ke arah yang berbeda. Melihat Nasya menangis membuat hatinya ikut sedih dan ingin memberi pelukan. Tetapi, Jimmy mengerti jika itu tidak diperbolehkan.


Sabar, Jim. Nanti setelah menjadi istrimu maka setiap hari Nasya akan kamu kurung di kamar.


"Jangan sedih! Jalan cinta sejati tidak pernah berjalan mulus," ungkap Jimmy merasa bila Nasya sedang ada dalam masalah rumah tangga.


Nasya mengangguk dan memaksakan tersenyum. "Tapi cinta sejati ku bukan mas Gadhing. Tugasku sudah selesai," kata Nasya lirih membuat Jimmy yang mendengarnya mematung.


Jimmy mencerna ucapan Nasya dan kemudian tersenyum. "Kamu mau kemana?" tanya Jimmy ketika Nasya bangkit dari duduknya.


"Aku harus kembali ke rumah mas Gadhing mengambil barang-barang setelah itu kembali ke rumahku," kata Nasya.


Entah karena hatinya sedang sakit dan mencoba tegar menjadikan Nasya berbicara seakan sudah akrab dengan Jimmy.


"Tapi ada Tiara di dalam mobil. Dia memaksaku untuk datang ke rumah Mami nya karena Mami nya gak mau main ke rumah kami," kata Jimmy jujur.

__ADS_1


Nasya tersentak lalu pandangan nya mengarah pada mobil Jimmy. "Kenapa gak bilang dari tadi sih?" tanya Nasya sewot dan berubah ketus pada Jimmy.


"Kamu nya nangis dari tadi," sahut Jimmy tak mau kalah.


Nasya berdecak tanpa menjawab. Melangkahkan kaki mendekati mobil lalu membuka pintu penumpang.


Nasya mencoba tersenyum ketika melihat Tiara yang juga tersenyum padanya.


"Mami," seru anak kecil berusia lima tahun itu seraya merentangkan tangan.


Nasya mencondongkan tubuhnya lalu memeluk Tiara sangat erat. Tanpa pamit, air matanya kembali menetes.


Tiara melepas pelukan dan menatap wajah Nasya. "Mami menangis?" tanya Tiara menghapus air mata Nasya yang membasahi pipi.


Nasya mengerjakan mata seraya mengusap matanya dengan sapu tangan. "Mami lagi sedih, sayang. Tapi sudah baikan kok karena ada Tiara," ucap Nasya seraya masuk ke dalam mobil.


Jimmy melihat interaksi keduanya merasa terharu. Rasa ingin memiliki semakin menggebu di hati.


Jimmy melangkah masuk ke dalam mobil di sisi berbeda. Dan mobil mereka melaju menuju rumah Jimmy.


"Jadi papi yang buat mami menangis?" tanya Tiara menatap Nasya yang tadi membisikkan sesuatu.


Jimmy mendengar itu terkejut dan pandangan nya langsung mengarah pada Nasya yang juga tengah melirik ke arah nya.


Nasya mengangguk memasang wajah polos dan sedih.


Jimmy melongo melihat Nasya begitu. Bagaimana bisa ia disalahkan? sedang dirinya tidak tahu menahu masalah Nasya secara langsung.


"Papi. Kenapa buat mami nangis?" omel Tiara melayangkan pukulan ke lengan Jimmy.


Jimmy menjauhkan diri agar tidak dipukul terus menerus. "Sayang. Papi gak buat mami menangis," bela Jimmy.


Tiara yang sedang duduk, berkacak pinggang dengan wajah judes yang menggemaskan. "Buktinya papi ninggalin mami di halte jadi nangis. Untung Tiara minta ke rumah Mami," omel Tiara lagi.


Jimmy membelalakkan mata kemudian menatap Nasya yang sedang terkekeh. Ada rasa bahagia dihatinya melihat Nasya terhibur karena mereka.


"Sekarang, papi harus minta maaf dengan mami."


"Tapi.."


"Kata papi kalau kita buat salah harus minta maaf, 'kan?" tanya Tiara.


Jimmy berdecak kemudian menatap Nasya tersenyum mengejek padanya. "Maaf," katanya singkat.


"Auwh. Kenapa papi dicubit, Tiara?" Jimmy mengusap bekas cubitan yang tak berasa apa-apa.


"Minta maaf yang tulus papi," omel Tiara lagi.


Rispan mendengar dan melihat melalui kaca spion tengah menjadi tersenyum. Karena baginya, Jimmy sosok tegas dan berwibawa dalam bekerja tetapi selalu lembut kepada orang yang di sayang.


Jimmy menatap Nasya memasang wajah jengkel tetapi dalam hati ia begitu bersyukur bisa berdekatan dengan Nasya.


"Maafin Papi ya, mi!" kata Jimmy menatap Nasya penuh cinta.


Nasya yang di tatap seperti itu menjadi salah tingkah. "Iya dimaafin," katanya memalingkan wajah.


"Papi gak peluk mami?"

__ADS_1


"Eh,"


__ADS_2