
Semua yang bernyawa pasti akan mati sesuai ajalnya atas izin, takdir dan ketetapan-Nya. Siapapun yang ditakdirkan mati pasti akan mati meski tanpa sebab, dan siapapun yang dikehendaki tetap hidup pasti akan hidup.Dan sebab apapun yang datang menghampiri tidak akan membahayakan yang bersangkutan sebelum ajalnya tiba karena Allah Ta’ala telah menetapkan dan menakdirkannya hingga batas waktu yang telah ditentukan. Tidak ada satupun umat yang melampaui batas waktu yang telah ditentukan.
Berdasarkan hadits riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda, "Mati mendadak suatu kesenangan bagi seorang mukmin dan penyesalan bagi orang durhaka." Hadist tentang kematian bisa datang kapan saja tanpa diduga ini mengartikan seorang mukmin sudah mempunyai bekal dan persiapan dalam menghadapi maut setiap saat, sedangkan orang durhaka tidak.
Prosesi pemakaman Retno baru saja usai. Para pelayat sudah kembali ke tempat masing-masing dan ada pula menuju kekediaman Gadhing dengan tujuan membantu menyiapkan acara pengajian malam nanti.
Gadhing menatap batu nisan bertulis Retno Sari dengan tatapan nanar. Tangan nya terulur dan mengusap nama almarhum istrinya itu.
"Ma-maafin aku, Retno. Selama menjadi suamimu, aku masih belum bisa membuatmu bahagia. Mungkin benar apa yang dikatakan ibu kalau aku adalah laki-laki pembawa sial," perkatanyaan ibu Retno tempo harus masih terngiang di kepalanya karena memiliki istri berakhir meninggal dunia.
Cukup lama Gadhing berada di samping pusara Retno, kemudian ia bangkit dan pergi meninggalkan pemakaman. Sebelum benar-benar meninggalkan pemakaman, ia melihat pemakaman Noni lebih dahulu dan membersihkan makam mantan istrinya itu.
*
__ADS_1
*
Sesampainya di rumah, masih terlihat ramai disana. Gadhing berjalan gontai memasuki rumah. Ia memilih duduk di sebelah kiri bunda Fadia karena sebelah kanan sang bunda ada Nasya dan Jimmy.
Nasya menoleh melihat Gadhing tampak diam merenung dengan tatapan kosong. "Wanita yang meninggal dunia saat melahirkan termasuk dalam kriteria mati syahid."
Gadhing juga menoleh menatap Nasya lalu mengangguk.
"Mas sabar dan harus kuat untuk Emier dan adik Emier. Maaf gak bisa jenguk saat almarhumah masih di rumah sakit, mas."
Suasana berubah menjadi riuh saat kedatangan ibu mertua Gadhing bersama tiga orang berseragam yang bertugas melindungi, mengayomi, menegakkan hukum, memelihara dan menertibkan keamanan, serta melayani masyarakat menghampiri Gadhing.
Tiga orang itu adalah pihak kepolisian yang diminta ibu Retno untuk menangkap Gadhing karena terduga telah lalai merawat istri sekaligus pasien.
__ADS_1
"Ini dia orang nya, pak. Tangkap laki-laki pembawa sial ini dan jangan lepaskan dia," sentak ibu Retno marah-marah.
Semua orang di ruang tamu itu berdiri. Bunda Fadia histeris. "Anakku bukan pembunuh," pekik bunda fadiabkemuytidak sadarkan diri.
Tiga kepolisian sigap menghampiri Gadhing. Yang pasti tiga kepolisian itu bukan lah bapak sambolado dan kawanan nya.
Ruang tamu itu berubah ricuh, bunda Fadia sudah tidak sadarkan diri. Sedangkan Nasya menjadi cemas. "Mas. Tolong mas Gadhing," pinta Nasya sedih menatap Jimmy.
"Apa kamu khawatirkan dia?"
"Mas, tolong! ini bukan waktunya kita berdebat. Selama dua tahun aku membantu mas Gadhing merawat almarhum mbak Retno dan merawat Emier," ucap Nasya melemah.
Jimmy menghela nafas panjang melihat raut wajah Nasya yang tampak sedih. "Baiklah. Tapi mas akan bantu jika memang Gadhing tidak bersalah. Jika dinyatakan salah, maka mas gak bisa bantu."
__ADS_1
Nasya mengangguk kemudian ia membantu memberi minyak angin kepada bunda Fadia.
Kenapa jadi begini?