Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
89. JSAMS


__ADS_3

"Emier mau makan?' tanya Nasya kepada Emier yang sedang bermain mobil-mobilan.


Emier mengangguk. "Mamam, mi."


Nasya terkekeh merasa gemas melihat Emier. Ia pun segera menyuapi balita itu. "Kalau sedang makan, nggak boleh berdiri ataupun lari-lari, ya."


Nasya mengajarkan adab sejak dini kepada Emier dan selalu bertutur kata lembut agar balita tersebut terbiasa sehingga menjadi sosok pria yang penyayang.


Entah mengapa Nasya ingin Emier seperti Gadhing yang sangat menyayangi keluarga. Ia tahu bahwa Gadhing juga menyayanginya kala itu, tetapi perasaan sayang itu kalah dengan rasa benci yang tidak mendasar.


"Hari ini kamu pulang," gumam Nasya kepada Emier yang tidak dipedulikan sama sekali.


Nasya juga harus mengerti dengan perasaan Jimmy yang begitu sensitif bila mengenai Gadhing. Termasuk dengan kehadiran Emier. Bukan tidak suka, tetapi Nasya tahu Jimmy tidak ingin dirinya terlalu sering berinteraksi dengan Gadhing.


Emier dititipkan pada Nasya juga karena Retno sedang tidak enak badan. Nasya tahu jika Retno memiliki riwayat darah tinggi.


*


*

__ADS_1


"Pastikan wanita itu tidak mengusik keluargaku, Ris."


Jimmy menggeram kesal setelah mendapat kabar dari pengawalnya, jika mereka melihat Diana sedang memerhatikan sekolah Tiara di Jerman.


Tangan nya terkepal mengingat bagaimana kisah rumah tangga nya dahulu. Jimmy merutuki kebodohan dirinya, setelah bercerai bahkan mantan istrinya itu tidak pernah sekalipun mencari keberadaan Tiara yang notabane nya adalah anak kandung.


"Apa ada yang tidak ku ketahui selama ini, Ris?" tanya nya pada Rispan.


"Berita pernikahan anda sudah tersebar, pak. Selama ini, Ibu Diana dan keluarga nya mengetahui jika anda tidak bisa move on."


Dahi Jimmy berkerut. "Move on?" tanyanya merasa asing dengan kata itu.


Rispan berdehem ketika menyadari sebuah kata yang tidak akan dimengerti oleh Jimmy. "Tidak bisa melupakan Ibu Diana, pak. Itu maksudnya," sahutnya.


Jimmy menjadi mengomel karena dikatakan gagal move on.


Sedangkan Rispan mendengarkan kalimat terakhir Jimmy hanya mampu menghela nafas panjang karena dirinya lebih dahulu jatuh hati kepada istri sang bos.


"Jangan mengomentari perkataan ku, Ris. Aku tahu kamu sedang meralat ucapanku barusan dalam hatimu," tutur Jimmy penuh ancaman membuat Rispan menelan saliva nya sendiri.

__ADS_1


"Sa-saya tidak berani, pak."


Jimmy berdecak saja. Ia melihat arloji di pergelangan tangan sudah menunjukkan pukul 6 sore.


"Ayo segera pulang, Ris. Selesai Isya, Gadhing bakal ke mansion. Aku gak dia bertemu istriku tanpa ada aku."


*


*


Rispan pulang ke Apartemen setelah mengantarkan Jimmy pulang ke mansion dengan selamat. Pekerjaan hari ini cukup melelahkan baginya karena harus menyelesaikan pekerjaan sebelum ia juga pindah ke Jerman mengikuti keluarga bosnya.


Rispan membuka jas lalu masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan ritual mandi. Setelah usai, ia memakai celana pendek bahan kain tanpa mengenakan pakaian.


Ia menghempaskan bobot tubuhnya ke sofa setelah meletakkan semangkuk mie instan di atas meja.


Bukan tidak bisa membeli makanan mewah, tetapi terkadang Rispan merindukan kehidupan sederhana nya dahulu sebelum diangkat menjadi orang kepercayaan Jimmy.


Beberapa saat kemudian, Rispan telah menyelesaikan makan malam nya. Matanya beralih ke ponsel nya yang berdering.

__ADS_1


Ia pun berdecak tetapi tangan nya meraih ponsel tersebut. "Hem," ia berdehem malas.


"Jika ingin Novi selamat, cepatlah datang ke alamat yang sudah ku kirim ke ponselmu."


__ADS_2