Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
122. JSAMS


__ADS_3

"Sayang... Demi Allah, mas gak rela kamu pergi!"Gadhing terus saja menyatakan ketidak setujuan Nasya akan kembali ke Jerman bersama si kembar.


Nasya tersenyum seraya mengelus kepala Gadhing dan membiarkan suaminya itu bersandar di dada, memeluknya sangat erat.


"Aku pergi untuk kembali, mas."


Gadhing mendongak menatap Nasya kemudian mendengus kesal. Ia juga tahu dan percaya bila Nasya akan kembali lagi.


"Bisa gak kalau kamu sampai, terus besok balik lagi kesini," tutur Gadhing menghayal.


Nasya terkekeh. "Mana bisa begitu, mas. Kita kan bisa telepon ataupun video call, mas."


Gadhing menghela nafas panjang kemudian mengecup bibir Nasya sekilas. "Baiklah. Apakah keempat anak kita merepotkan mu, sayang?" tanyanya karena seharian berada di Rumah Sakit dan ketika pulang meminta istrinya melayaninya.


"Alhamdulillah, mas."


"Apa kita cari pengasuh saja setelah kamu pulang?"


Nasya menggeleng cepat. "Aku gak mau. Nanti mas kecantol lagi," tuturnya. Mungkin, trauma di masa lalu masih melekat dalam hati Nasya.


Gadhing mengubah posisi menjadi Nasya yang berada di depan dadanya. Ia mendekap erat tubuh istrinya disertai kecupan di pucuk kepala. "Maafkan kebodohanku, Nasyama."

__ADS_1


"Itu bukan salah, mas. Wajar mas memintaku pergi agar melindungi pernikahan mas. Sudah tidur, yuk. Sebentar lagi subuh," kata Nasya. "Lepasin pelukan nya, mas. Aku harus pakai baju," keluhnya karena pelukan Gadhing tak jua terlepas.


"Biarkan begini, sayang. Tidurlah, nanti mas banguni."


Nasya hanya bisa pasrah dan merasa tak percaya bila Gadhing berubah manja setelah menikahinya.


*


*


Siang ini Nasya hendak pergi ke Rumah Makan Cintarasa setelah Emier dan Asnan pulang sekolah. Ia sangat merindukan tempat itu dan orang-orang yang bekerja disana.


"Kak Joko," pekik Nasya setelah berada di ruang peristirahatan para karyawan.


Joko menoleh dan tersenyum melihat Nasya datang bersama keempat bocah itu.


"Bu bos, apa kabar?" tanya Joko mengajak Nasya dan 4 anak itu masuk ke ruang kerjanya.


"Alhamdulillah, baik."


Joko memerhatikan 4 anak itu. "Kenapa anak pak Gadhing bersamamu, Sya?" tanyanya, ia tahu bila Jimmy telah tiada.

__ADS_1


"Mereka anak ku juga, kak. Aku sudah menikah lagi dengan mas Gadhing," sahut Nasya tanpa menutupinya dari orang lain.


Joko terkejut dengan apa yang dikatakan Nasya. "Sudah ku duga kalian akan balik bersama. Selamat atas pernikahan kalian. Aku harap gak akan ada lagi perpisahan," ucapnya tulus membuat Nasya tersenyum.


"Terimakasih, kak."


Nasya menatap keempat anaknya yang sudah membuat ruang kerja Joko menjadi berantakan. "Jangan sembarangan menyentuh barang orang, ya."


Azzam menoleh. Karena hanya dia yang lebih tampak diam mengamati. Sementara Emier sedang menunjukkan dan menjawab setiap pertanyaan Azzura. Sementara Asnan lebih suka melihat lukisan yang berada di ruangan itu.


Azzam mendekati Nasya dan Joko. Ia pun meraih tangan Joko kemudian mencium punggung tangan pria itu. "Aku Azzam, om. Kata papi Jimmy, aku harus menjadi seperti papi. Terus kata papi Jimmy, om yang bantu mami, ya?"


Joko terkekeh melihat Azzam yang tampak lebih dewasa. "Ya. Kamu harus belajar yang giat agar bisa seperti papi Jimmy. Ah, kamu sangat mirip dengan papi kamu."


Nasya terkekeh melihat bagaimana Azzam mengatakan hal itu. Memang benar adanya, anak nya itu sangat mirip dengan Jimmy.


❤️



Hai.. jangan lupa dukung karya emak di akun baru emak ya..

__ADS_1


__ADS_2