
Untuk kasus ibu hamil dengan hemoglobin rendah dengan diagnosis anemia ringan, maka sang ibu masih dapat melahirkan secara normal.
Namun ketika ibu hamil memiliki hemoglobin rendah dibawah 8.5g/dL dan termasuk anemia kronis, maka berdiskusi dengan dokter adalah pilihan terbaik untuk mencari tahu proses melahirkan yang dianjurkan sesuai dengan kondisi kesehatan.
Tidak hanya memiliki kemungkinan lahir cesar, ibu hamil dengan hemoglobin rendah dan anemia kronis juga mungkin melahirkan secara prematur.
Hemoglobin rendah saat hamil tentu saja akan berdampak pada ibu dan sang bayi. Selain kelelahan dan susah bernapas, hemoglobin rendah membuat ibu berisiko membutuhkan transfusi darah saat melahirkan karena kehilangan banyak darah.
Sedangkan bagi sang bayi, tidak hanya berisiko lahir prematur, tetapi memiliki berat badan yang tak normal dan juga menderita anemia di kemudian hari mungkin saja terjadi. Pada kasus lain, hemoglobin rendah juga bisa menghambat tumbuh kembang bayi yang dilahirkan.
"Ku mohon bertahanlah, Retno!" ucap Gadhing histeris saat istrinya dinyatakan kritis.
Sebelum melahirkan normal, Gadhing selalu meminta Retno agar melahirkan secara caesar. Tetapi istrinya itu memaksa untuk melahirkan normal.
Dan kini, akibatnya Retno harus menerima transfusi darah, anak mereka dilahirkan prematur. Selang menjalani transfusi darah karena mengalami pendarahan hebat, ia dinyatakan kritis.
Gadhing menunduk dengan kedua tangan meremas rambutnya. Sedari malam tidak ada memejam kan mata, bahkan tidak dapat memejamkan mata memikirkan keadaan Retno.
Tampilan Gadhing sudah tidak rapi seperti biasanya. Pikiran nya hanya fokus kepada kesehatan sang istri, beruntung ada kedua orang tuanya yang menjaga Emier.
__ADS_1
"Ini semua pasti ulah kamu, kan?" sentak seorang wanita paruh baya menghampiri Gadhing.
Gadhing tahu wanita itu adalah ibu mertuanya yang tak pernah merestui pernikahan nya dengan Retno.
Gadhing menggeleng lemah. Hatinya begitu kacau hingga tak ingin mengatakan hal apapun.
"Kalau terjadi sesuatu pada Retno, saya akan melaporkan kamu ke polisi!" gertak ibu Retno itu lalu duduk jauh dengan Gadhing.
Gadhing mengusap wajah dengan kasar. Dirinya selama ini sudah merawat Retno dengan semampunya. Tetapi, keadaan Retno selalu tidak menunjukkan perubahan yang mengarah lebih baik.
Retno selalu terlihat lemah. Jangan tanya bagaimana Gadhing menyalurkan hasratnya, karena ia tak pernah memikirkan itu. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan mengurus istri serta anaknya.
Gadhing sudah berusaha semampunya, bahkan selalu berdoa meminta dihilangkan perasaan itu untuk Nasya karena ingin bahagia bersama istri dan anaknya.
Nyatanya, rasa itu tidak pernah hilang dalam hatinya.
"Dokter Gadhing," panggil Dokter yang merawat Retno.
Gadhing menegakkan kepala menatap dokter Dika.
__ADS_1
"Ada yang harus kita bicarakan. Ikut ke ruangan saya," tutur Dokter Dika formal. Gadhing mengangguk.
"Saya saja yang ikut," kata ibu Retno dengan wajah tak ramah nya.
Dokter Dika mengangguk
"Suami pasien juga harap ikut."
*
*
Dokter Dika menghela nafas berat. Ia tidak yakin akan berjalan mulus untuk menyampaikan informasi yang ada.
"Maafkan kami. Saat ini kondisi pasien semakin memburuk. Bahkan ia hidup atas bantuan alat medis."
Duar
Bagai tersambar petir di siang bolong. Tubuh Gadhing membeku dengan tatapan kosong, sementara ibu Retno sudah histeris dan memukuli tubuh Gadhing.
__ADS_1
"Saya tidak terima. Ini pasti ulah kamu, 'kan? dasar laki-laki pembawa sial!"