Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
90. JSAMS


__ADS_3

Nafas Rispan terengah-engah setelah baru saja menghabisi lima orang pria bayaran untuk menghabisinya.


Ia tidak menyangka akan seperti ini karena berpikir hanya menghadapi wanita seorang saja.


"Wow.. Ternyata kamu hebat juga, ya." Dila memuji Rispan seraya maju menghampiri lalu meraba dada bidang pria itu.


Ternyata, Dila juga sudah lama mengagumi dan menginginkan Rispan menjadi miliknya. Setidaknya bisa menjadi seperti Novi, partner ranjang.


Dila selalu merasa cemburu dan marah setiap kali Novi bercerita tentang apa yang telah dilewati bersama Rispan.


Rispan menepis tangan Dila saat tangan itu sudah turun ke perut dan hendak menyentuh pusaka nya.


Rispan sama sekali tidak tahu-menahu masalah antara Novi dan Dila. Karena selama ini ia melihat keduanya begitu dekat.


"Merepotkan saja. Apa maumu?" tekan Rispan dingin.


"Tubuhmu, cintamu, dan memilikimu."


Rispan berdecih bahkan meludah merasa jijik mendengar jawaban Dila. "Lepaskan, Novi."


Dila terkekeh meliha Rispan, bukan marah justru semakin membuatnya tertantang ingin memiliki pria tersebut.


"Enggak akan. Aku beri waktu satu menit untuk menuruti kemauan ku maka Novi akan bebas," gertak Dila membuat rahang Rispan mengeras.


Sialan! kenapa aku seperti sedang menyelamatkan istriku saja.


Masih dalam keadaan genting saja Rispan masih sempat menggerutu keadaan.


"Cepat putuskan sebelum bom di dalam gudang itu meledak, honey."


Mata Rispan terbelalak mendengar ucapan Dila. Sudah habis kesabarannya, ia melangkahkan kaki maju mendekati wanita di hadapan nya ini.


Sekuat tenaga Rispan menahan rasa jijiknya hingga tujuan nya tercapai. Ia menarik pinggang Dila, tubuh keduanya merekat tanpa jarak sedikitpun. Kedua hidung saling bersentuhan, satu tangan Rispan mulai meraba dari bawah sampai ke atas.


Dila tersenyum bangga, tubuhnya mulai memanas merasakan belaian dari Rispan.


"Ah. Sa-sakit, lepaskan!" cicit Dila ketika tangan kekar Rispan sudah berada di lehernya, alias lehernya dicekik oleh pria itu.


"Kamu belum mengenalku, jaalang!" hardik Rispan masih mencekik Dila, menarik wanita itu masuk ke dalam gudang dimana Novi berada.


Cekikan nya semakin kuat kala melihat Novi tidak sadarkan diri. Rispan menghempas Dila, kemudian menggendong Novi, meninggalkan Dila yang terkulai lemas akibat cekikan nya.


Rispan membawa Novi keluar dari gudang dengan langkah lebar menuju mobil milik nya. Setelah berada di dalam mobil, terdengar suara ledakan berasal dari gudang tersebut.


Rispan berdecak kemudian meraih ponsel nya menghubungi salah satu anak buahnya. "Pastikan jejak saya tidak tertinggal di tempat kejadian," katanya kemudian menaruh ponsel nya kembali ke dalam saku.


Rispan melajukan mobil menuju apartemen nya kembali membawa Novi yang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


*


*


Setelah tiba di apartemen, Rispan merebahkan tubuh Novi di ranjang nya. Tanpa basa-basi, ia membuka pakaian wanita itu tanpa ragu.


Rahang nya kembali mengeras ketika melihat banyak luka memar di bagian tubuh Novi yang ia yakini luka memar itu akibat penculikan tadi.


Rispan keluar kamar mengambil air hangat di dalam mangkuk dan handuk kecil. Ia membasuh seluruh tubuh Novi dengan hati-hati. Setelah selesai, ia mengenakan pakaiannya kepada Novi. Tidak lupa pula menyelimuti wanita itu setelahnya.


Rispan menghela nafas saat memandangi wajah Novi, ada rasa bersalah terhadap wanita itu. Ia pun melepas kaos nya, lalu naik ke atas ranjang, masuk ke dalam selimut disisi lainnya.


*


*


Mata Novi mengerjap saat terkena pancaran matahari yang mengintip dibalik tirai. Ia meringis merasakan perih di ujung bibir dan sekujur tubuhnya akibat kekerasan yang dilakukan Novi.


Saat merasakan hembusan nafas di pipinya, membuat Novi menjauhkan wajahnya sedikit lalu menoleh, melihat siapa yang tidur dengan nya.


Novi terperanjat saat melihat Rispan tidur disebelahnya dengan jarak sangat dekat dan memeluknya.


Benarkah? bagaimana bisa?


"Berhenti menatapku," gumam Rispan dengan mata yang masih terpejam.


"Ki-kita harus kerja, Ris."


Rispan membuka mata saat mendengar kata 'kerja'. Sial! Rispan baru teringat jika hari ini Jimmy membuat acara di Kantor.


Rispan bangkit seraya tatapan nya mengarah pada Novi. "Kamu istirahat saja, biar aku buatkan surat izin."


Novi mengangguk dan sekuat tenaga agar tak tersenyum karena perhatian dari Rispan.


*


*


"Kamu sangat cantik, Sya."


Nasya tersenyum mendengar pujian dari Retno. "Mbak juga cantik. Jangan terlalu kelelahan, mbak. Aku gak mau mbak kenapa-kenapa," ucapnya tulus.


Nasya menyerahkan Emier ke gendongan Gadhing. Sekilas Nasya menatap Gadhing yang sedari tadi menatapnya dengan intens.


"Sya. Kamar mandi kamu dimana, ya? mbak kebelet," cicitnya lalu Nasya memberi tahukan dimana letak kamar mandi mereka di lantai dasar tersebut.


Ada rasa tak nyaman saat ia berada di ruangan yang sama dengan Gadhing tanpa orang dewasa lain nya.

__ADS_1


"Nasyama," panggil Gadhing pelan yang masih didengar oleh Nasya.


Sejenak Nasya memejamkan mata saat mendengar namanya dipanggil oleh Gadhing. Ia ingat betul bahwa hanya Gadhing yang menyebut namanya secara lengkap.


Nasya memberanikan diri menatap Gadhing. "Ya, mas."


"A-apa kamu bahagia?" tanya Gadhing lirih.


Nasya tersenyum disertai anggukan cepat menandakan bahwa ia sangat bahagia.


Belum sempat Gadhing mengucapkan kalimat lain nya, Rispan tiba di ruang tamu tersebut.


"Bapak meminta saya menjemput ibu," kata Rispan agak sulit memanggil Nasya dengan sebutan 'ibu'. Ia terpesona oleh kecantikan Nasya yang mengenakan pakaian dan hijab serba putih, dan polesan make-up natural.


Nasya mengangguk lalu bangkit, bersamaan dengan Retno baru tiba dan pasangan suami istri tersebut pamit lebih dulu karena Nasya hendak pergi.


Setelah berada di dalam mobil bersama Rispan, ia tidak merasakan hal aneh karena tidak tahu bahwa pria yang tengah menyetir itu memiliki perasaan lebih dari sekedar orang kepercayaan suaminya.


"Mas Jimmy kemana, pak Ris?" tanya Nasya yang duduk di belakang kursi kemudi.


"Ada tamu dari Singapura yang tidak dapat di tinggal, Bu."


Nasya mengangguk paham, lalu ia membalas pesan dari Joko yang baru saja tiba di Kantor Jimmy.


Ya, Nasya mengundang keluarga nya namun tidak ada yang dapat hadir. Hanya Joko dapat hadir, itu pun hasil dari paksaan nya.


Sesampainya di Kantor, Rispan mengantar Nasya ke ruang kerja Jimmy lebih dahulu sesuai perintah.


"Kenapa harus ke ruangan suamiku?" tanyanya lirih.


"Bapak yang meminta, Bu."


Nasya mengangguk lagi.


Rispan membuka pintu ruang kerja tersebut dan mempersilahkan Nasya masuk lalu menutupnya kembali.


*


*


Jimmy melihat Nasya masuk keruangan nya, langsung mendekat lalu menghimpit sang istri dibalik pintu.


Tanpa mengatakan apapun, ia meraup bibir ranum Nasya dengan rakus, melampiaskan rasa cemburunya terhadap apa yang baru saja dilihatnya.


"M-mas," desis Nasya ketika ciuman itu lepas.


"Kamu membuatku cemburu, sayang."

__ADS_1


__ADS_2