
Jimmy melongo melihat Nasya buka lapak bunga di depan Rumah Makan. Bahkan sangat banyak para pria yang membelinya.
"Apa calon istriku itu gak tahu hal romantis? kenapa justru di jual?" gumam Jimmy kemudian turun dari mobil, mendekati Nasya yang dikerumuni para pembeli.
"20.000 saja. Murah meriah lagi diskon," terdengar suara Nasya membuat banyak yang membeli, ada juga beberapa karyawan gadis itu tengah membungkus yang pasti di jual secara online.
Jimmy menghentikan langkah dengan mulut yang menganga setelah mendengar harga yang diucapkan Nasya.
"Assalamualaikum," ucapnya membuat semua orang menoleh ke arahnya begitu juga Nasya.
Nasya langsung terkejut dan meminta semua orang bubar. Betapa malunya saat ini yang dirasakan gadis itu.
Nasya mendekat dan mengajak Jimmy duduk di kursi bahan plastik. "Mas," ucapnya gugup.
"Di jawab salam mas, Sya."
Nasya berdehem. "Iya. Waalaikumsalam," ia menyengir kuda membuat Jimmy merasa gemas.
"Kenapa dijual? padahal aku ingin menjadi pria romantis, loh."
Nasya menghela nafas panjang. "Tapi gak harus ngabisin uang begini, mas."
"Aku hanya mengimbangi usiamu, Sya. Kamu masih muda, dan yang ku tahu perempuan itu suka nya di kasih kejutan, bukan?"
__ADS_1
Mendadak kepala Nasya pening mendengar apa yang dikatakan Jimmy. Ia lupa jika Jimmy baru dekat dengan nya belum sampai satu tahun ini.
"Mas tahu apa yang disukai perempuan dari laki-laki?" tanya Nasya.
Jimmy berdehem ditatap Nasya seperti itu. "Aku gak tahu, Sya. Banyak yang bilang, bisa kasih apa yang di mau pasangan nya itu sudah membuat perempuan senang."
Tentu saja Jimmy tidak tahu karena sebelum menikah, ia tidak pernah pacaran ataupun dekat dengan wanita lain. Selama hidupnya hanya disibukkan dengan pekerjaan. Bahkan setelah kelahiran Tiara juga lebih sering bersama Hana, baby sitter sang anak.
"Bukan, mas. Perempuan lebih suka dengan laki-laki yang bertanggung jawab dan sayang kepada keluarganya. Terutama kepada ibu nya. Lemah dan lembut dan juga memiliki batasan kepada lawan jenis," tutur Nasya.
"Aku lah salah satu laki-laki itu," celetuk Jimmy percaya diri.
Nasya tersenyum. Ia sudah mulai memahami bagaimana seorang Jimmy Soecipto. Ayah dari gadis kecil bernama Tiara Anjani Soecipto. Pria di sebelahnya ini bukanlah pria yang suka basa-basi dan selalu percaya diri.
"Laku berapa bunga yang kamu jual?" tanya Jimmy membuat Nasya menegakkan kepala kemudian memalingkan muka.
"Kamu membuatku malu, mas. Sudah 527.000, apa mas mau minta bagian?"
Jimmy tergelak. "Aku rugi besar kalau begitu, Sya. Aku beli semua bunga itu menghabiskan uang lebih dari tiga juta dan bunga yang sudah kamu jual lebih dari setengahnya."
Nasya terkejut hingga menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. "Kenapa gak bilang, mas? pantas saja pemuda gaya hedon beli banyak ternyata karena harga yang aku kasih kemurahan," cicit Nasya tetapi justru membuat Jimmy tertawa.
"Ish.. Kenapa ketawa?" tanya Nasya cemberut.
__ADS_1
Jimmy terkekeh. "Kamu lucu. Ayo kita keliling kota," ajak Jimmy seraya berdiri dengan tatapan nya tertuju pada Nasya.
"Keliling kota?" tanya Nasya dengan dahi berkerut dan ikut berdiri.
Jimmy mengangguk. "Lebih tepatnya kencan ala anak ABG," katanya kikuk dengan tangan menggaruk tengkuk lehernya.
Nasya menganga. "Ingat umur, pak. Sudah kepala tiga loh."
Jimmy mencebik, tangannya terulur menarik lengan baju gamis Nasya meninggalkan pekarangan rumah makan Cintarasa.
"Nah. Dari tadi gitu pak dijemput calon istrinya, jadi kami bisa pacaran."
Jimmy tersenyum sedangkan Nasya melotot mendengar apa yang baru saja di katakan Joko.
Keduanya tak menggubris karena Jimmy sudah membuka pintu mobil dan mempersilahkan Nasya agar masuk ke dalam.
"Kita mau kemana?" tanya Nasya penasaran.
"Kamu maunya kemana? mau jalan ke Mall atau nonton gitu?" tanya Jimmy beruntun.
Nasya menoleh ke arah Jimmy. "Aku gak mau. Mas sudah makan?" tanyanya.
"Belum."
__ADS_1
Nasya tersenyum. "Belok kanan ya pak."