
Jimmy meletakkan dua lembar kertas yang diserahkan oleh Rispan beberapa saat lalu. Gelengan kecil sedari tadi saat membaca dan melihat kertas tersebut.
"Jadi, apa keputusanmu?" tanya Jimmy, Rispan hanya mengedikkan bahu membuatnya menggeleng kepala kembali.
"Nikahi dia, Ris." Jimmy kembali melirik dua lembar kertas yang baru saja diletakkan diatas meja tersebut, kertas itu adalah hasil laporan dokter dan foto USG milik Novi.
Rispan menegakkan badan seraya menatap Jimmy. Kemudian ia menghela nafas panjang. "Baiklah," ucapnya lirih.
Jimmy melihat raut wajah Rispan justru terkekeh. "Kenapa wajahmu ditekuk begitu?"
Rispan menggeleng pelan. "Saya takut menikah, pak. Saya takut anak kami akan menjadi korban jika bercerai. Saya tidak mau anak kami sama seperti saya," ungkapnya lirih.
Rispan adalah korban dari perceraian kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya telah memiliki kehidupan masing-masing bersama pasangan baru pula sehingga melupakan buah hati mereka yang dititipkan kepada sang nenek.
Sejak saat itulah Rispan tidak ingin berhubungan dengan wanita, namun sejak melihat Nasya yang periang dan ramah terhadap orang lain membuatnya jatuh hati walau pada akhirnya harus mengalah kepada sang bos yang sudah banyak berjasa dalam hidupnya.
Jimmy menatap dalam mata Rispan. "Kalau begitu, berusaha dan berkomitmen lah dengan Novi jika kalian tidak akan bercerai, Ris."
Rispan hanya diam saja, tetapi kepalanya mengangguk patuh.
"Sekarang, kembalilah bekerja dan perhatikan Novi."
"Baiklah."
"Besok kalian menikah, biar saya yang mengurusnya."
Mata Rispan terbelalak.
*
*
Nasya menghempaskan bobot tubuhnya ke kursi meja kasir. Sudah sangat lama ia tidak datang ke Rumah Makan Cintarasa sedari pagi sehingga tidak pernah ikut melayani pembeli ketika jam makan siang.
Joko menyerahkan segelas air minum kepada Nasya karena melihat wajah wanita itu pucat pasih. "Minum, Sya. Apa kamu sakit?"
"Makasih, kak. Enggak, hanya mudah kelelahan akhir-akhir ini."
Joko mengangguk mengerti. "Istirahatlah."
"Iya."
*
*
__ADS_1
Gadhing memarkirkan mobil tepat di depan Rumah Makan Cintarasa tetapi belum juga turun, padahal sudah 10 menit yang lalu ia berada disana.
Bukan hanya sekedar merindukan Nasya, masakan di Rumah Makan Cintarasa ini mengingatnya dengan sang ibunda.
Ya, dia merindukan bunda Fadia dan Buya Niko. Ingin mengunjungi, namun tidak berani karena tak ingin bunda Fadia khawatir dengan keadaan nya yang sebagai menantu tidak diinginkan.
Berulang kali Gadhing menghela nafas agar terlihat biasa saja. Ia memberanikan diri turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah makan tersebut.
Tidak ada dalam pikiran nya akan bertemu dengan Nasya hari ini. Saat melihat Nasya sedang mengobrol dengan Joko, jantung nya berdetak lebih kencang.
Seharusnya jangan kesini! gumam Gadhing dalam hati.
Gadhing tersentak kala Nasya menoleh ke arahnya dengan senyum manis yang memabukkan sedari dahulu.
Begitu juga Nasya terperanjat melihat Gadhing berada di Rumah Makan nya. Ia pun tersenyum dan berdiri hendak menyambut kedatangan mantan suami sekaligus kakak sepupu nya.
"Assalamualaikum, mas. Mau pesan apa?" tanya nya ramah.
"Eh, em.. Waalaikumsalam, Sya. Mas pesan nasi Padang."
Nasya mengangguk lalu mempersilahkan Gadhing duduk, kemudian ia membungkuskan pesanan Gadhing. Tidak lupa teh manis hangat dalam cup.
Gadhing menarik nafas panjang menyesali kedatangan nya yang bertepatan Nasya berada disana. Biasanya, Nasya tidak ada di tempat saat jam makan siang.
Setelah selesai membungkus, Nasya hendak menyerahkan pesanan Gadhing, ia berjalan sangat perlahan karena merasa tubuhnya begitu lemas bahkan berjalan saja harus berpegangan pada meja yang ada di dekatnya.
Joko, Tita, dan pekerja lain nya berhambur ke sumber suara yang menyebut pemilik tempat mereka bekerja.
"Nasya kenapa, mas?" tanya Joko panik.
"Nasya tiba-tiba pingsan, Jo." Gadhing tak kalah panik, ia menggendong Nasya memasuki ruang kerja wanita itu.
Perlahan Gadhing merebahkan tubuh Nasya ke sofa panjang dalam ruangan itu, lalu menggosok-gosok telapak tangan Nasya dengan tangan nya.
"Tolong ambilkan alat medis ku di mobil, Jo."
Joko mengangguk. Gadhing meletakkan sebuah bantal di bawah kaki Nasya. Saat hendak membuka hijab Nasya agar terasa longgar, ia urungkan.
Gadhing berjalan mondar mandir disertai remasan kedua tangan nya. Ia bingung harus melakukan apa padahal sudah biasa menolong pasien ketika pingsan.
"Mas. Kenapa belum ditangani juga?" tanya Joko bingung melihat Gadhing.
"Dia mantan istriku, Jo. Aku nggak mau terjadi salah paham, mengingat gimana reaksi Jimmy jika aku berada di dekat Nasya."
Joko baru menyadarinya karena begitu khawatir terhadap Nasya. Ia pun langsung menghubungi Rispan buat memberitahu keadaan Nasya sekarang.
__ADS_1
*
*
Jimmy tampak kesal karena Rispan meminta izin mengangkat telepon saat rapat sedang berlangsung. Ia menatap pria itu dengan tajam saat kembali kebdalam ruangan.
"Ibu pingsan di Rumah Makan," bisik Rispan membuat Jimmy tersentak langsung melangkah lebar keluar dari ruangan tanpa pamit.
Jimmy sudah menyadari akhir-akhir ini Nasya mudah kelelahan apalagi siang tadi saat mengantarkan makan siang untuknya terlihat pucat pasih.
Jimmy masuk ke dalam mobil hingga menutup pintu dengan kasar dan menghasilkan bunyi cukup keras. Bahkan Rispan yang baru saja tiba di dekat mobil langsung mengelus dada.
"Cepat, Ris. Lamban," umpat Jimmy tidak sabar.
Rispan hanya mengangguk tak ingin menanggapi Jimmy jika sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia sangat mengenal Jimmy sedari dahulu.
Jimmy yang tidak sabar langsung keluar mobil kemudian membuka pintu kemudi. "Minggir," katanya.
Jimmy melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju Rumah Makan Cintarasa. Beruntung jalanan terlihat renggang sehingga Jimmy dapat merealisasikan kecepatan tinggi nya.
Sedangkan Rispan seperti pria yang tidak pernah naik mobil sebelumnya. "Pak. Saya akan menjadi seorang ayah, saya tidak mau mati lebih dulu."
Jimmy berdecak kesal. "Diamlah."
*
*
Nasya baru saja siuman, Tita dengan telaten memberi air minum dan memijat kepalanya sehingga mengurangi rasa pusing sedari tadi dirasakan.
"Sejak kapan kamu merasa seperti ini, Nasyama?" tanya Gadhing berusaha keras tidak menunjukkan kekhawatiran nya.
Nasya menoleh menatap Gadhing sekilas. "Kurang merhatikan, mas. Tapi semingguan ini sudah begini," sahutnya dengan suara lemah.
Gadhing mengangguk. Ia sudah tahu mengapa Nasya seperti ini. Tetapi lebih baik menunggu Jimmy saja, pikirnya.
BRAK
Pintu terbuka dengan kasar membuat semua orang tersentak. Siapa lagi pelakunya jika bukan Jimmy.
Tita berdiri saat mengetahui Jimmy hendak duduk di tepi ranjang disisi Nasya berada. Kekhawatiran tercetak jelas pada wajah Jimmy, sedang yang ditatap tersenyum padanya.
"Aku baik-baik saja, mas." Nasya seakan mengerti arti tatapan suaminya.
Jimmy tak menjawab, kedua tangan nya menangkup pipi Nasya kemudian melabuhkan kecupan pada seluruh wajah istrinya kemudian memeluk erat tubuh mungil itu.
__ADS_1
Gadhing melihat itu langsung memalingkan wajah, rasa sakit dan cemburu itu masih sama.
"Nasya hamil."