Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
37. JSAMS


__ADS_3

"Bu. Ada kiriman bunga buat ibu," kata Joko menyerahkan dua buah buket bunga saat Nasya sudah berada di ruang kerja nya.


Bukan ruang kerja seperti perkantoran atau restoran. Nasya memang selalu membuat satu ruangan di setiap Rumah Makan miliknya, hanya seluas 3x4 meter saja.


Di ruangan itu berisi meja kerja di belakang meja ada sebuah rak buku tidak terlalu besar dan sebuah sofa tunggal, sofa panjang, beserta meja kecil di depan sofa.


Joko duduk di seberang meja kerja Nasya setelah menyerahkan dua buah buket bunga tersebut.


Nasya menautkan alis melihat Bungan mawar merah dan bunga anyelir merah putih. Tangan nya terulur meraih dan melihat satu buah buket mawar merah.


Senyuman Nasya terukir melihat betapa cantiknya bunga mawar itu, kemudia ia meraih kartu ucapan yang tertempel di bagian batang buket tersebut.


"Aku tahu kata maaf ini enggak akan mampu menembus kesalahanku kemarin, namun aku tak akan putus ada untuk meminta maaf kepadamu sampai kamu memaafkanku.”


Nasya menghela nafas melihat siapa pengirim bunga mawar merah tersebut. "Kamu memang seperti bunga mawar, mas. Indah tetapi akan sangat sakin dan semakin sakit jika aku terus menggenggam mu," ucap Nasya tersenyum miris.


Sementara Joko hanya memerhatikan bagaimana reaksi Nasya ketika melihat siapa pengirim dari kedua bunga tersebut.


Nasya beralih meraih satu buket lagi. Entah mengapa senyuman nya terbit melihat bunga anyelir merah putih teringat pada Jimmy dengan berani mendatanginya dengan alibi menjenguk Noni.


Nasya pun dibuat penasaran dengan isi kartu ucapan yang ditulis Jimmy untuknya.


*Perasaan mas sama dengan arti bunga anyelir merah putih ini. Sebentar lagi waktu makan siang, jangan lupa masak buat, mas.


Dari Mas J*.


Nasya berdecak membaca tulisan Jimmy. Ia pun meraih ponsel mencari arti bunga anyelir merah putih tersebut.


"Apaan rasa cinta. Yang ada ini bayaran untuk aku masak," gerutu Nasya membuat Joko menautkan alis.


"Kamu kenapa, Sya?" tanya Joko penasaran.


Nasya menyerahkan bunga anyelir dan bunga mawar itu kepada Joko dengan perasaan yang sulit diartikan.


"Ck. Janda muda di kejar dua pria dewasa," ledek Joko kemudia tertawa nyaring.


Nasya bangkit dari duduk, berjalan mendekati jendela yang terbuat dari bahan kayu. "Aku belum ingin menjalin hubungan pada siapapun, kak. Hati ku belum siap untuk merasa sakit, lagi."


Joko ikut bangkit dari duduk tanpa mendekati Nasya. "Kakak setuju. Pesan kakak hanya satu, jaga diri baik-baik. Kakak permisi harus jaga meja kasir lagi. Kamu segeralah masak atau pria penguasa itu akan merajuk lagi!"


Joko tertawa nyaring lagi kemudian pergi meninggalkan Nasya sendiri.

__ADS_1


Sementara Nasya melihat Joko tanpa ekspresi hingga pemuda itu hilang di balik pintu.


Nasya kembali menatap keluar jendela dan terdengar helaan nafas panjang darinya.


"Ternyata lebih sakit saat kamu melepaskan aku daripada aku berjuang mendapat cintamu, mas."


Setelah puas memandang ke luar jendela, Nasya berjalan keluar ruangan menuju dapur.


"Mbak Nasya mau masak?" tanya Tita dan di angguki Nasya.


"Mau aku bantu?" tanya Tita.


Tita adalah pekerja paling muda yang dipekerjakan Nasya. Tita adalah gadis yatim piatu dan tinggal di panti asuhan. Setelah lulus Sekolah Menengah Atas, gadis itu melamar pekerjaan di Rumah Makan Cintarasa sebagai petugas cuci piring.


"Enggak perlu, Ta. Mbak harus masak dengan tangan mbak sendiri karena pelanggan kita yang satu ini sangat bawel dan menyebalkan," cebik Nasya mengingat Jimmy menjadi kesal.


Tetapi tanpa di sadari Nasya, ia sudah menuruti apa yang menjadi kemauan Jimmy.


Nasya membuat menu nasi kari untuk makan siang nya dan juga Jimmy, hari ini. Ada senyum tipis terukir ketika mengingat anak dari duda berusia tiga puluh tiga tahun itu.


"Kenapa Tiara begitu menggemaskan punya bapak yang menyebalkan dan super pede itu?" gerutu Nasya seraya menyajikan nasi kari dalam dua wadah sekaligus.


Setelah itu, Nasya melepas apron dan bersiap untuk pergi ke Perusahaan Jimmy.


*


*


Beberapa jam lalu sebelum Noni menjalani kemoterapi, Gadhing telah mengucapkan talak kepada Noni.


Awalnya Noni menolak dan memohon agar tidak diceraikan, tetapi ketika Gadhing menyerahkan bukti perselingkuhan nya dengan Dimas, akhirnya ia menyetujui perceraian itu.


Gadhing juga mengatakan pada Noni agar tidak memberitahu kepada orang tuanya karena ia ingin berbicara langsung setelah sudah sah bercerai.


"Mas," ucap Noni lirih saat suster yang membantunya membersihkan diri.


Gadhing membuka pintu hendak keluar saat suster akan membersihkan tubuh Noni. Tanpa berbalik badan, Gadhing menghentikan langkah. "Sekarang kita adalah dua orang asing. Tolong jangan cari aku lagi," kata Gadhing kemudian pergi meninggalkan Noni dan suster tersebut.


Gadhing menuju ruangannya, membuka jas putih, dan pergi dari ruangan. Ia hendak menemui seseorang.


Sebelum benar-benar keluar, Gadhing merogoh ponsel dan melihat aplikasi WhatsApp, berharap Nasya mengirimkan pesan padanya setelah menerima buket bunga mawar merah darinya.

__ADS_1


Gadhing menghela nafas panjang ketika tidak ada pesan dari Nasya. Seketika teringat sebelum kata talak terucap dari bibirnya, Nasya pasti selalu mengirim pesan kepadanya walau hanya sekedar bertanya sedang apa.


*


*


Jimmy menatap datar ponsel nya yang sedari tadi tergeletak di atas meja dalam keadaan hening.


Wajah nya datar dan sulit diartikan. Tetapi, hati dan pikiran Jimmy bergejolak merasakan bagaimana tidak adanya satu pesan pun dari Nasya tentang menanggapi bunga yang di berinya.


"Kenapa sulit sekali meluluhkan hati janda muda itu. Kenapa juga hatiku bisa kecantol dia yang sangat menyebalkan, bawel."


"Apa aku harus belajar menggombal?"


Jimmy berdecak karena menggombal bukan lah dirinya. Ia lebih suka berbicara atau bertindak pada intinya saja.


Jimmy melirik ketika pintu nya terbuka dan ia sudah tahu pasti Rispan yang membuka saat Nasya telah datang. Itu pesan nya.


"Assalamualaikum," kata Nasya tanpa senyuman.


"Waalaikumsalam."


Jimmy menghela nafas kemudian bangkit dan mempersilahkan Nasya duduk, ia duduk berhadapan dengan Nasya.


Sengaja Jimmy tidak angkat bicara karena ingin melihat bagaimana reaksi Nasya saat ia hanya diam.


Nasya terlihat salah tingkah saat setiap gerak-gerik nya di tatap Jimmy penuh arti tapi tak dapat diartikan oleh gadis itu.


"Makasih bunganya, mas."


Jimmy hanya mengangguk tanpa berbicara. Sungguh, ingin rasanya Jimmy melompat girang karena Nasya mengucapkan terimakasih.


Memang kalimat itu bisa saja tidak berarti apapun bagi Nasya, tetapi buat Jimmy itu sungguh memiliki arti yang luar biasa.


"Nikah saja, yuk."


"Lama-lama aku gak kuat."


Nasya mendelik langsung melempar sendok yang di pegangnya, mengenai dada bidang Jimmy.


"Apa mas kira nikah itu seperti mainan? mas saja pernah gagal walau aku gak tahu kalian berpisah kenapa. Tapi, berita di tv semua menyayangkan kalian berpisah."

__ADS_1


Jimmy menipiskan bibir ketika Nasya membahas perpisahan nya dengan Diana. Memang publik tidak ada yang tahu penyebab perpisahan mereka itu apa.


"Jangan cerita masa lalu. Lebih baik cerita kita di sama sekarang dan masa depan kita."


__ADS_2