Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
56. JSAMS


__ADS_3

"Pergilah bersama. Kasihan Nasya kalau berangkat sendiri," ujar ibu Mayang.


"Tiara gimana, ma?" tanya Jimmy merasa cemas jika meninggalkan sang putri.


Ibu Mayang mencebik. "Kan ada mama. Seperti enggak pernah pergi jauh tanpa Tiara saja," sahutnya seraya menggerutu.


Jimmy menghela nafas tanpa menyela ucapan ibu Mayang. "Baiklah. Tapi, apakah keluarga Nasya akan menyukaiku, ma?" tanyanya mendadak gugup kemudian tangan nya terulur meraih gelas dihadapan nya.


Ibu Mayang mengikuti seperti apa yang dilakukan Jimmy. Disesap teh hijau buatan nya tetapi dahinya berkerut karena merasa heran atas pertanyaan sang anak.


"Kenapa kamu seperti tidak percaya diri glbegini, Jim? tumben," celetuk ibu Mayang.


Jimmy menghela nafas panjang. "Setiap kali bertemu Nasya saja aku jantungan, ma. Apalagi keluarga dia," tutur nya jujur.


Seketika penuturan Jimmy membuat ibu Mayang tertawa. Bagaimana tidak? untuk pertama kalinya sang anak merasakan hal seperti pria pada umumnya saat hendak meminang pujaan hati.


"Ma. Jangan menertawakan aku," cebik Jimmy.


Sebenarnya Jimmy juga menyadari perubahan sikapnya. Tetapi, tak dapat dipungkiri jika kegugupan itu selalu ada bila berada dekat dengan Nasya. Tetapi, beruntung nya ia dapat mengatasi rasa gugup itu.


"Ok, baiklah-baiklah!" seru ibu Mayang menghentikan tawa walau masih saja ingin tertawa.


"Jadi, apa kamu sudah siap menikahi Nasya? apa kamu sudah siap dengan maharmu?" tanya ibu Mayang beruntun.


Jimmy tersenyum disertai anggukan cepat. Ia kembali menyesap kopi hitam dalam gelasnya tadi. "Aku berencana menikahi Nasya sebelum ulang tahunnya yang ke 23 tahun, ma."


"Kapan ulang tahun Nasya?"


"Tiga bulan lagi," sahut Jimmy disertai senyuman menatap ke depan. Ia membayangkan bagaimana bahagianya kehidupan rumah tangga yang akan dijalani.


Ibu Mayang tersenyum dan terus menatap wajah Jimmy dari samping. Ia merasa bersyukur pada akhirnya anaknya telah menemukan cinta yang sejati.

__ADS_1


"Kamu gak mikir tanggapan Nasya tentang kamu yang sudah tua?" tanya ibu Mayang penasaran.


Tubuh Jimmy mematung kemudian menoleh ke arah ibu Mayang. "Belum, ma."


"Ck. Kamu ini, sudahlah. Mama mau tidur, kasih tahu mama kapan kamu akan melamar Nasya dan menikahi calon menantu mama itu."


Jimmy masih mematung karena pertanyaan ibu Mayang. "Kenapa aku gak pernah bertanya masalah ini? Ya ampun. Jarak umur kami selisih 11 tahun. Kenapa kamu terlalu lama lahirnya, sih."


*


*


Waktu yang di tunggu-tunggu telah tiba. Nasya mengajak Jimmy ke Malang sehari sebelum acara akad dan resepsi pernikahan Dimas dan Amanda.


Baik Nasya maupun Jimmy sama-sama terlihat murung karena Tiara menangis beberapa saat lalu ketika hendak berangkat ke stasiun.


Ya. Nasya memilih untuk pulang menaiki Kereta Api karena tak ingin memperlihatkan benda-benda mewah yang dimiliki Jimmy kepada keluarganya.


Nasya yang sedang memainkan ponsel langsung mendongak menatap wajah Jimmy. "Memang benar, mas. Kalau naik Kereta Api akan memakan waktu lebih dari 6 jam," sahut Nasya santai.


Padahal, dalam hati Nasya begitu gugup karena untuk pertama kalinya Nasya pulang kampung bersama seorang pria.


Alasan lain mengajak Jimmy tanpa memperlihatkan kemewahan kepada keluarganya yaitu, mengurangi penilaian buruk para tetangga karena dirinya sudah di cap sebagai pelakor disana.


Nasya tidak ingin ia ditambah cap sebagai wanita materialistis.


Terkadang Nasya berpikir, apakah waktu enam bulan bergelar sebagai janda pada hukum agama terlalu cepat menerima pria lain?


Nasya juga berpikir, mengapa terlalu mudah bangkit dari keterpurukan akibat sakit hatinya?


Tetapi, Nasya juga memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

__ADS_1


Nasya selalu meyakinkan hatinya bahwa 'akan mudah melupakan masalalu jika kita terus berjalan maju tanpa berpikir masa lalu akan terluka.'


Masa lalu memang tak pernah terhapus, tetapi masa lalu cukup menjadi kenangan bukan menjadikan masa lalu itu sebagai patokan hidup di masa sekarang dan masa depan.


Move on.


Kata itulah yang sudah Nasya dapatkan. Terbukti bukan?


Nasya tak pernah merasakan sakit hati atau cemburu lagi mengenai Gadhing dan Noni.


Nasya tak pernah sekalipun melakukan pemblokiran kontak Gadhing baik itu nomor ponsel atau media sosial.


Dirinya sudah baik-baik saja.


*


*


Nasya memejamkan mata setelah menyimpan ponsel ke dalam tas. Perjalanan yang masih panjang membuatnya mengantuk.


Jimmy melihat Nasya tertidur membuatnya tersenyum. Ketika tanpa sengaja Nasya menyandarkan kepala di lengan nya membuat jantung Jimmy berdegup kencang.


Untuk pertama kali Nasya menyentuhnya walau tanpa sengaja. Kepala Jimmy memutar ke arah kepala Nasya berada.


Ingin sekali ia mengecup pucuk kepala Nasya tetapi sekuat tenaga Jimmy tak melakukan nya karena tak ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Jimmy cukup memejamkan mata dan menikmati harum yang timbul dari kepala Nasya.


"Sebentar lagi. Sabar, Jim."


Jimmy terus mengingatkan diri sendiri bila Nasya adalah wanita terhormat.

__ADS_1


__ADS_2