Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu

Jangan Salahkan Aku Merebut Suamimu
64. JSAMS


__ADS_3

Retno melengos berkali-kali. Matanya terus memandang keluar jendela mobil dimana ia berada sekarang.


Beberapa saat lalu, Rian benar-benar menjemputnya di Rumah Sakit dan memaksanya pulang.


"Sayang. Jangan cemberut lagi, ya."


Retno tidak menjawab dan lebih memilih memejamkan mata agar Rian tak lagi mengganggu.


Rian menatap Retno sekilas. Ada rasa sakit menjalar dihatinya mendapati sang istri tak lagi sama.


Ia tahu ini adalah kesalahan nya. Tak seharusnya ia menuruti permintaan orang tua nya menikah lagi hanya karena belum memiliki keturunan.


Padahal, kehidupan rumah tangga nya baik-baik saja, bahkan sangat harmonis. Tapi semua berubah setelah malam itu.


Rian hanya bisa mendesah pasrah. Sebenarnya, jauh dilubuk hatinya hanya Retno lah yang dicintainya.


Retno turun dari mobil meninggalkan Rian, tetapi pria itu dengan cepat mengejar istrinya kemudian menarik dan memeluknya.


"Maafin mas, sayang. Jangan begini," ungkap Rian merasa sakit atas apa yang terjadi.


Tangis Retno pecah dalam pelukan pria yang masih sangat dicintainya. Hidup sebatang kara, hanya Rian lah tempatnya berpulang.


"Kamu jahat, mas."


"Maaf," kata Rian lirih.


Keduanya sama hancurnya, tetapi Rian terpaksa melakukan itu karena sang ibu terus memaksa dan mengancam akan bunuh diri membuatnya tak berdaya untuk menolak.


"Kita tidur bareng ya. Mas kangen," ucap Rian langsung diangguki Retno.


Kedua nya masuk ke dalam rumah bersama dan menaiki tangga beriringan menuju kamar utama.


"Mas," panggil Siska saat Rian dan Retno hendak masuk ke kamar mereka.


Keduanya balik badan.


"Ada apa, Siska? Sudah aku katakan sebelumnya kalau malam ini aku akan tidur bersama dengan Retno, kan?"


Siska menggigit bibir bawahnya karena takut salah bicara. Selama menjadi istri kedua Rian, suaminya itu tidak pernah bicara lembut padanya. Selalu saja dingin dan bicara seadanya.


Andai saja ia tidak membutuhkan uang untuk pengobatan sang adik tidak akan mau menjadi istri dari pria yang sudah beristri.


"Bolehkah aku tidur mas peluk? setelah pulas, mas boleh tidur dengan Mbak Retno."


Entah mengapa Siska malam ini ingin tidur dalam pelukan, mungkin bawaan hamil karena selama dinikahi Rian tak pernah memperlakukan nya dengan lembut.


Seketika permintaan Siska membuat Rian menatap tajam pada ibu hamil itu, tetapi tidak dengan Retno. Ia mengerti bagaimana keinginan seorang ibu hamil pasti akan sangat menggebu walau dirinya sendiri belum pernah mengalami hal tersebut.

__ADS_1


"Pergilah, mas. Temani Siska, anak kalian merindukan ayahnya."


Sakit.


Tetapi Retno tak ingin menunjukkan kesakitan nya. Sementara Rian melotot mendengar Retno mengijinkan dirinya tidur bersama Siska.


"Sayang. Mas gak mau," elaknya karena tak pernah bisa menolak permintaan dari orang yang dia sayangi.


Retno mencoba memaksakan diri agar tersenyum walau dadanya terasa sesak karena merasa cemburu.


"Setelah Siska tidur, mas boleh datang ke kamar ku."


Setelah mengatakan itu, Retno langsung membalikkan badan dan membuka pintu kamar. Ia luruh ke lantai bersandar pada pintu kamar yang baru saja di tutup nya.


"Ini sakit, mas."


Sedang Rian mengacak rambutnya karena frustasi. Setelah itu ditatapnya Siska dengan tajam, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar dimana Siska tidur selama sebulan ini di rumahnya.


Rian memang tak mencintai Siska, tetapi jauh dilubuk hatinya begitu senang akan menjadi seorang ayah.


Di dalam kamar, Rian langsung membuka kaos dan celana panjang. Ia naik ke atas ranjang dan merebahkan diri seraya menatap Siska yang menunduk.


"Tunggu apalagi? cepat! Jangan membuang waktu ku," sentak Rian dingin.


Siska yang masih menunduk dengan cepat merangkak naik ke atas ranjang dan merebahkan kepalanya tepat di lengan Rian.


"Kenapa harus di lengan?"


Rian mengingat nasihat sang mama jangan membuat menangis istrimu yang sedang hamil, itu akan berakibat pada anakmu.


Rian menghela nafas kemudian memeluk sembari mengelus punggung Siska.


Sementara Retno sedari tadi terisak merasakan sakit hatinya hingga lelah membuatnya memilih tidur.


*


*


Nasya sudah tidak lagi menangis. Baginya sudah cukup menjadi gadis yang cengeng.


Hatinya masih sama hingga sekarang. Nama Jimmy lah yang selalu membuatnya semangat dalam menjalani hidup walau tak pernah menampakkan diri, tetapi hatinya telah mantap untuk dinikahi pria itu.


Dan bagaimana dengan Gadhing?


Nasya sudah mulai memaafkan atas segala sakit yang diberikan Gadhing. Kini, ia menyadari bila benar yang dikatakan mantan suaminya itu. Jika dirinya menyerah maka itu bukanlah sebenarnya cinta melainkan sebuah ambisi yang hendak dimiliki.


"Kenapa melamun?" tanya Gadhing, keduanya tengah makan siang bersama di Rumah Makan Cintarasa.

__ADS_1


Nasya tersentak, ia memaksakan senyum kemudian melanjutkan makan tanpa menanggapi pertanyaan Gadhing.


Beberapa saat kemudian keduanya telah selesai makan siang. Gadhing sedih melihat Nasya belakangan ini tampak murung.


"Kamu kenapa? apa kamu kangen pulang kampung? apa mau mas antar ke Malang?" tanya Gadhing lembut.


Dengan cepat Nasya menggeleng karena tak ingin berpura-pura bahagia di hadapan bunda Fadia.


"Aku baik-baik saja, mas "


Gadhing menghela nafas mencoba sabar menghadapi perubahan sikap Nasya. Ia melihat arloji di pergelangan tangan nya.


"Baiklah. Mas harus kembali ke Rumah Sakit," pamitnya dan di angguki Nasya.


Nasya ikut mengantar Gadhing hingga depan Rumah Makan Cintarasa dan ia kembali ke ruang kerja nya dengan gerutu sepanjang jalan.


"Aku sudah lelah pura-pura bahagia."


*


*


Gadhing sudah sampai di Rumah Sakit dan hendak masuk ke dalam ruangan nya. Tetapi, langkahnya terhenti saat mendengar suara Isak tangis dari meja kerja Retno.


Benar dugaan Gadhing, suara tangisan itu adalah suara Retno yang menangis dengan menelungkup kan kepala di atas meja.


"Retno," panggilnya membuat wanita itu terkejut.


Masih dengan kepala menunduk, Retno mengusap wajahnya yang sudah basah karena air mata.


"Ya, Dok."


Gadhing berdecak. Cepatlah ke toilet dan makan siang. Akhir-akhir ini kerja kamu kurang fokus," tegur Gadhing karena apa yang dikatakan nya adalah kebenaran.


"Baik, Dok. Terimakasih." Retno segera pergi ke tujuan yang diperintahkan Gadhing. Ia merasa malu sekali di tegur seperti itu.


Setelah membersihkan wajah di kamar mandi, ia kembali ke meja kerjanya karena dompetnya tertinggal disana.


"Makanlah. Kalau ada masalah itu segera diselesaikan. Jangan nangis saja dan nangis juga butuh tenaga," ujar Gadhing meletakkan satu bungkus nasi soto di atas meja Retno setelah sang pemilik meja baru saja tiba.


Retno terkejut dan cemberut sekaligus setelah mendengar ucapan Gadhing.


"Jangan mengejekku, Dokter Gadhing. Masalah kita gak jauh berbeda," ucap Retno mengambil bungkusan makanan di atas meja itu.


Gadhing berdecak. "Seenggaknya aku sudah bebas dari dua wanita," kata Gadhing dengan satu tangan berada di meja kerja Retno.


"Ngapain disini? sana pergi," usir Retno lagi justru membuat Gadhing tertawa.

__ADS_1


"Nah. Gini nih Retno yang ku kenal. Semenjak menikah kamu jadi wanita penurut padahal bar-bar dan sangat galak," ungkap Gadhing kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan.


Sedang Retno menyetujui apa yang dikatakan Gadhing barusan. "Benar. Aku telah kehilangan karakter dalam diriku yang sebenarnya."


__ADS_2