
"Apa kamu kembali karena sudah siap menikah?"
Nasya terkekeh. Pertanyaan Buya Niko bukanlah sebuah paksaan. Ia juga merasa sudah lebih baik, tidak terpuruk karena Jimmy tetap bersamanya dan bukan berarti telah siap menikah lagi.
"Nasya mau menikah dengan siapa, Buya? orang Jerman memang banyak melamar Nasya, tapi belum ada yang cocok sampai sekarang."
"Kalau dengan mas, gimana?"
Semua orangenoleh ke arah pintu dapur diiringi keempat anak itu. Ya, pria itu adalah Daffi.
Nasya melihat Daffi langsung mencebik bibir. Tetapi berbeda dengan ketiga orang dewasa lain nya.
"Kamu serius, nak?" tanya Buya Niko.
Daffi urung menjawab lebih dahulu karena ia ingin melihat Gadhing dan Nasya menanggapi ucapan nya seperti apa.
Daffi tersenyum miring lalu menatap Buya Niko. "Serius, Buya! gak ada salahnya kalau kami menikah karena kami bukan sedarah!"
Gadhing mendengar itu mengepalkan tangan. Ingin sekali melarang, tetapi tidak mungkin karena hingga kini rasa bersalah dan cinta sama besarnya.
Sementara Nasya hanya diam saja karena sedari dulu selalu menuruti apa yang dikatakan kedua orang tuanya.
"Mas bisakan jadi saksi pernikahan kami?" tanya Daffi membuat Gadhing menatap matanya sejenak lalu mengangguk.
Sementara Nasya memerhatikan Gadhing. Tentu saja tahu apa yang sedang dirasa mantan suaminya itu. "Mas gak kasih pendapat untuk hubungan kami?" pancing membuat Gadhing menatapnya lama.
__ADS_1
Karena rasa bersalah itu masih bersarang dalam hati Gadhing, membuatnya takut untuk menghalangi pernikahan itu.
"Mas," panggil Nasya lagi.
Gadhing menatap Nasya. Tatapan mata itu menyiratkan sesuatu yang sulit untuk diungkapkan.
"Apa mas gak mau perjuangin Nasya? atau membiarkan aku menikahinya?" cecar Daffi yang tidak tahan melihat Gadhing diam tanpa berkomentar.
Gadhing menoleh ke arah Daffi kemudian menatap Nasya. "Aku mencintaimu, Nasyama. Aku merindukan mu sepanjang waktu tanpa tahu bagaimana kabarmu disana.Tapi aku juga gak bisa memaksa atas dirimu, Nasyama."
"Nikahi aku, mas!" tegas Nasya menatap Gadhing. Tentu saja pria itu terkejut atas ucapan nya.
"Maksudnya?" tanya Gadhing hanya untuk memastikan.
"Aku gak suka mengulang ucapan ku, mas. Kalau gak dengar, ya sudah aku dinikahi mas Daffi saja!" entah mengapa ia merasa kesal karena Gadhing tidak juga mengerti.
Buya Niko dan bunda Fadia beranjak dan mengajak keempat cucunya untuk masuk ke dalam kamar agar beristirahat.
"Jangan?!!!" pekik Gadhing hingga membuat Nasya dan Daffi mengelus dada lantaran terkejut.
"Besok kita akan menikah!"
*
*
__ADS_1
"Ayo kita turun, mas. Sudah waktunya kamu meminta maaf kepada ibu Nasya," kata Novi sedari tadi sudah meyakinkan Rispan agar menemui Nasya.
Rispan, Novi, dan Rafael sudah berada tidak jauh dari rumah orang tua Nasya. "Aku takut Nasya gak memaafkan aku," cicit Rispan menatap rumah sederhana disana.
"Gak ada salahnya mencoba, mas. Ayo," ajak Novi keluar lebih dahulu dari mobil dengan Rafael dalam gendongan nya.
Rispan akhirnya ikut turun dan berjalan beriringan menuju rumah orang tua Gadhing dan Nasya.
Keduanya mengetahui Nasya berada di Malang karena sudah mendatangi mansion dan bibir Nur memberitahukan jika majikan nya berada di kampung halaman beberapa hari.
Rumah sederhana itu tampak ramai seperti sedang ada acara. "Seperti ada yang nikahan," gumam Novi dan disetujui oleh Rispan.
"Assalamualaikum," ucap Rispan.
*
*
Siang kesayangan. Maaf ya emak potong, ada acara beberapa jam kedepan.
Oh iya, emak mau kasih info novel Sania kakak dari Aisyah. Anak sambung nya papi Adzilla ada di akun emak yang satu lagi ya.
Sengaja emak buat di akun baru bukan karena mau pindah ya.. Emak mau coba daftarin ikut lomba untuk penulis pemula.
__ADS_1
Mampir ya sayang..