
"Maafkan saya Tante, Om. Saya sudah membuat keributan tengah malam begini," kata Retno setelah Rian pergi dan ia di minta masuk ke dalam.
Buya Niko menggeleng. "Kamu harus nikahi Retno, Dhing."
Gadhing tersentak. "Buya. Kami enggak lakukan apapun, ini hanya salah paham."
Gadhing beralih menatap Retno yang menunduk kemudian berganti menatap Nasya yang tersenyum.
"Nasyama. Kamu percayakan apa yang mas katakan?" tanya Gadhing panik.
Nasya menelan saliva nya. "Aku gak tahu, mas. Tapi yang aku tahu perbuatan kalian itu salah. Kenapa harus di dalam kamar jika hanya mengobati luka?" tanya Nasya membuat Gadhing dan Retno tertegun.
Benar.
Yang dipertanyakan Nasya benar adanya. Mengapa harus di kamar?
"Sya," gumam Gadhing lirih.
Nasya menggeleng. "Benar yang dikatakan Buya. Mas dan suster Retno harus menikah demi kebaikan kalian berdua. Maaf Nasya harus jujur, mas. Nasya belum bisa menerima mas kembali dan perasaan Nasya ke mas sekarang sudah berbeda. Enggak sama seperti dulu, lagi."
"Jikalau kita menikah dalam keadaan begini, kita sama-sama saling menyakiti. Dimana aku harus menjalani rumah tangga tanpa cinta di hatiku. Dan apa mas dan Mbak Retno dapat menjamin akan bersikap biasa setelah kejadian malam ini? aku jamin gak akan bisa, pasti selalu terbayang dan ada kecanggungan diantara kalian berdua."
"Nasya sudah menganggap mas Gadhing seperti kakak, bukan lagi pasangan. Maaf kalau ambisi aku dahulu membuatmu repot," ungkap Nasya membuat semua orang terdiam.
Bunda Fadia mendatangi Nasya dan memeluknya. "Maafin bunda, nak."
__ADS_1
Nasya membalas pelukan bunda Fadia serta senyuman terukir diwajah cantiknya. "Bunda enggak salah."
Gadhing dan Retno saling melirik kemudian membuang muka bersamaan. Entah apa yang ada dipikiran mereka.
Buya Niko menghela nafas. "Baiklah. Lima bulan lagi kalian menikah. Dan Nasya, kemarilah."
Nasya bangkit dari duduk dan beralih duduk di lantai tepat dihadapan kaki Buya Niko. Ia menyandarkan kepala di lutut ayah angkat nya itu.
Nasya tahu, Buya Niko jarang memberi pendapat atau masukan tetapi sekali berbicara maka mereka harus menurutinya.
Tangan Buya Niko terulur membelai kepala Nasya yang berbalut hijab. Setiap melihat gadis itu selalu mengingatkan nya pada mantan istrinya yang tak lain adalah ibu kandung Nasya.
Bukan karena masih menyimpan rasa, tetapi sedari dahulu, Buya Niko menyangi ibu Nasya tetapi tidak sebagai pasangan. Hingga akhirnya mereka berdua memilih berpisah secara baik-baik.
Nasya mendongak kemudian menyandarkan kepala seperti tadi. "Maafin Nasya, Buya. Maaf kalau Nasya merasa lega. Jujur, selama dua bulan ini sudah memaksakan hati untuk menerima mas Gadhing. Ternyata, semakin dipaksa semakin membuat Nasya tersiksa pula. Maafin Nasya, Buya."
Nasya menangis disana. Ia tidak menyalahkan bunda Fadia yang memaksa kehendak atas kebahagiaan nya.
Tentu saja Nasya mengerti bagaimana seorang ibu akan berbuat apa saja demi kebahagiaan sang anak. Seperti dahulu saat dirinya meminta Gadhing menikahi nya demi kebahagiaan dirinya walau kenyataan nya, Nasya tidak mendapat kebahagiaan tersebut.
"Maafin bunda mu, ya."
Nasya semakin terisak mendengar permintaan maaf dari Buya Niko. Sementara Gadhing menatap nanar gadis pujaan hatinya.
"Nasyama," panggil Gadhing membuat Nasya menegakkan kepala, lalu menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Maafin, mas. Mas menyadari kalau hatimu memang sudah bukan lagi untukku. Jemputlah kebahagiaanmu," Gadhing menyerah kemudia menatap Retno yang masih diam terpaku.
Gadhing sangat tahu apa saja yang sudah dilewati resto beberapa bulan ini. Sering kali ia bersimpati dan merasa kagum karena kesabaran wanita itu.
"Aku akan bertanggung jawab dan segera menikahi mu setelah masa Iddah mu usai," ucap Gadhing kemudian menggenggam tangan Retno.
Nasya melihat itu tersenyum dengan air mata yang mengalir deras. Hatinya merasa lega pada akhirnya semua cobaan hubungan nya dengan Jimmy telah usai.
Semoga.
*
*
Keesokan hari, Gadhing mengantarkan Retno pulang ke rumah Rian. Masih ada rasa canggung diantara keduanya.
"Gadhing. Maafin kejadian malam tadi, seharusnya kamu enggak setuju untuk nikahi aku."
Gadhing menoleh menatap Retno dengan lekat. "Apa kamu akan menjamin enggak merasakan apapun setelah kejadian bibir kita bersentuhan tanpa disengaja?" tanya nya membuat Retno salah tingkah.
Baru disadari Gadhing bila suster nya itu sangat cantik. "Bahkan sampai sekarang aku masih merasakan bibir mu yang lembut itu. Sudah sana turun," katanya tak ingin memperpanjang pembicaraan tentang kejadian malam tadi.
Ucapan Gadhing membuat pipi Retno merona. Segera turun karena tak ingin terlihat oleh pria itu.
Bahkan aku masih istri orang tapi sudah punya calon suami.
__ADS_1