
Gadhing tersenyum simpul menatap dua bingkai kecil di atas meja kerjanya. Hingga sampai hari ini, foto dirinya dan Nasya masih terpajang rapi di atas mejanya.
Ia lakukan itu karena hanya di ruang kerja nya tempat teraman buat memandang wajah cantik Nasya.
Gadhing menghela nafas panjang. Rasa sayang dan keposesifan nya menjadi membuncah setelah Nasya menikah.
Bahkan setelah dinikahi Jimmy, sebenarnya ada rasa tak rela di hati Gadhing.
Entahlah. Ia tidak tahu rasa itu apakah cinta atau rasa sayang seorang kakak terhadap adik. Tetapi, begitulah Gadhing sedari dahulu walau bibirnya selalu melantunkan kalimat kebencian kepada Nasya tetapi tak mengubah sikap melindungi dan posesif terhadap wanita itu.
Ya, wanita karena Nasya bukan lagi seorang gadis.
Gadhing menghela nafas panjang. "Ternyata kamu jauh lebih bahagia, Nasyama. Aku harap Jimmy nggak akan sakiti kamu seperti aku, dahulu."
Gadhing terus menatap bingkai kecil dimana ada fotonya bersama dengan Nasya. Di samping dua bingkai kecil itu ada satu bingkai lagi dimana ada fotonya dan juga Retno yang tengah menggendong Emier.
Tangan nya beralih memegang figuran itu lalu mengelus potret wajah Retno dengan ibu jari. "Kamu istri yang bijak," ucapnya menipiskan bibir.
Tetapi. Ada rasa rindu ketika Nasya mengantar dan menemaninya makan siang. Gadhing akui Retno melayaninya dengan baik. Mungkin karena sudah memiliki pengalaman berumah tangga sebelumnya.
__ADS_1
Retno selalu menyediakan keperluannya termasuk persoalan isi perut. Istrinya itu memang menyediakan, tetapi tidak pernah menemaninya saat makan.
Gadhing selalu menekan keinginan nya demi keutuhan rumah tangganya. Ia tidak ingin gagal untuk ketiga kalinya.
Gadhing menoleh dimana ketukan pintu dari luar. Ia beranjak dari duduknya, membuka pintu ternyata asisten nya.
"Ada kiriman bekal dari ibu, Dok."
Gadhing mengangguk. "Terimakasih, Vi."
Suster Vivi hanya mengangguk. Gadhing membawa bekal itu ke sofa dimana ia sering makan siang disana bersama Nasya.
"Bersyukur, Gadhing. Jangan lagi berandai-andai," sela nya ketika melihat menu makanan yang dikirim Retno.
Bukan tidak enak. Tetapi, ia lebih suka masakan rumahan.
Saat malam tiba dan pekerjaan Gadhing telah selesai, ia segera bergegas pulang karena sangat merindukan Emier.
Beberapa saat kemudian setelah sampai rumah. "Dimana Emier?' tanya Gadhing pada Retno yang tengah menonton televisi.
__ADS_1
Retno menoleh. "Ada di kamarnya, mas."
Gadhing mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya lebih dahulu untuk membersihkan diri sebelum ke kamar sang anak.
Setelah melakukan ritual mandi, ia keluar dan mendapati Retno sudah berada di kamar menyiapkan pakaian tidur untuknya.
Gadhing tersenyum. "Makasih, ya." Ia mengecup pipi Retno.
Retno pun tersenyum disertai anggukan. Ia merasa bersyukur dinikahi Gadhing walau merasa sikap sang suami begitu kaku. Mungkin karakternya begitu, pikirnya. Apalagi selama menjadi Asisten nya, ia memang merasa Gadhing adalah tipikal pria yang kaku.
"Mas sudah makan malam?" tanya Retno.
Gadhing yang baru selesai mengenakan pakaian langsung menoleh ke arah Retno. "Sudah. Kamu sudah makan? vitamin sudah diminum?" tanya Gadhing beruntun dengan tujuan agar tidak ditanya makan apa dan dimana.
Hal itu karena Gadhing makan di Rumah Makan Nasya. Ia begitu merindukan Nasya walau baru satu Minggu di tinggal bulan madu.
Retno terkekeh lalu mengecup pipi Gadhing. "Sudah, mas. Semua aman. Aku senang banget hamil yang kedua ini gak ngerasain ngidam."
"Iya, tapi tetap harus di jaga."
__ADS_1