
Gadhing itu bekerja di Rumah Sakit bukan Pemilik Rumah Sakit ya...
Terus ada yang komen Jangan izinkan Dena masuk ke dalam ruangan. Gini ya, Dena itu selalu daftar jadi pasien. Tentu saja Gadhing tidak tahu menahu pasien siapa aja yg daftar pada hari itu. Dan sekali lagi, Gadhing itu bekerja bukan pemilik ya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah mendapat telepon dari Gadhing, Dika segera pulang ke Surabaya hari itu juga walau mendapatkan tiket pesawat pada malam hari.
Dika sedang berada di Jakarta, keluarga istrinya. Bahkan betapa terkejutnya membaca grub kedokteran di Rumah Sakitnya bila Gadhing di pecat secara tidak hormat dan saat ini sahabatnya itu tengah di tahan di kantor polisi.
Dika yakin bila saat ini pihak keluarga Gadhing sudah mengetahui kejadian ini.
Keesokan hari Dika langsung menuju ke Rumah Sakit dan memasuki ruang kerja Gadhing.
Ia mencari sesuatu yang dikatakan Gadhing kemarin. Setelah menemukan apa yang dikatakan Gadhing, Dika memeriksa nya terlebih dahulu.
__ADS_1
Dika juga memastikan semua nya aman kemudian keluar dari ruangan tersebut. Setidaknya keadaan akan segera membaik.
Dika sudah mengabarkan kepada orang tua Gadhing agar tidak sedih dan jangan memberi tahukan masalah ini kepada Nasya sesuai permintaan Gadhing semalam.
Sesampainya di Kantor polisi, Dika meminta bertemu kepada polisi yang menangani kasus Gadhing.
"Saya keluarga saudara Gadhing. Dan saya memiliki bukti bahwa saudara saya tidak bersalah. Bapak bisa memeriksa keaslian nya," ucap Dika tegas seraya memberikan sebuah flashdisk berupa salinan rekaman CCTV kejadian dimana Dena membuka pakaian nya sendiri kepada pihak ke polisian.
Polisi tersebut langsung meminta bawahan nya untuk melihat isi flashdisk tersebut di laptop yang ada di meja nya itu.
Berawal dari Dena masuk menenteng sebuah tas bekal lalu Gadhing memanggil seorang suster dan kotak bekal itu di bawa sang suster. Kemudian Dena membuka kancing kemejanya dengan kasar sehingga beberapa kancing terlepas, mengacak rambut sendiri.
Akhirnya polisi percaya dan akan segera membebaskan Gadhing. Tetapi, Dika meminta untuk menangkap Dena karena sudah melakukan pencemaran nama baik. Dika juga meminta sebelum penangkapan, Pihak polisi harus meminta Dena melakukan visum agar menjadi bukti bahwa tidak ada jejak peleceehan di tubuh wanita itu.
Polisi juga setuju dan akan melakukan apa yang di minta Dika.
__ADS_1
Gadhing tersenyum lega ketika masalahnya selesai walau sudah menjadi pengangguran, kini. "Makasih banyak, bro."
Dika mengangguk. "Ayo ke Rumah Sakit untuk menjelaskan semua nya hanya salah paham. Mereka harus membersihkan nama baikmu dan kamu bisa kembali bekerja."
Gadhing menggeleng. "Aku ingin pensiun, Dik. Aku akan menyusul istriku saja ke Jerman," kata Gadhing karena sudah tak tahan hidup berjauhan dengan Nasya.
"Ck. Kau ini. Apa kamu gak kasih nafkah?" tanya Dika karena tidak ingin Gadhing di rendahkan karena tidak berpenghasilan lagi.
"Tabunganku cukup buat usaha. Aku gak bisa jauh dari Nasyama, Dika. Aku sudah berjauhan selama 3 bulan. Pedang ku sudah minta di asah," Gadhing terkekeh begitu juga dengan Dika.
Sebagai seorang pria tentu saja paham bila jarang mengasah pedang maka kepala terasa nyut-nyutan. Apalagi sampai tiga bulan?
*
*
__ADS_1
Di Jerman, Nasya menjadi khawatir nomor ponsel Gadhing tidak dapat di hubungi. Sementara menghubungi orang tuanya hanya mendapat jawaban bila Gadhing sedang bekerja.
"Semoga kamu baik-baik saja, mas."