
"Loh. Kok balik lagi?" tanya bunda Fadia yang telah ikut duduk bersama Retno yang sedang memakan buah-buahan, tadi.
Gadhing terlihat salah tingkah karena kembali lagi dengan nampan yang masih berisi buah-buahan dan yogurt.
"Gak enak ganggu mereka, Bun. Nanti saja," ucapnya benar adanya.
Bunda Fadia mengangguk mengerti. Sementara Retno berpikir jika Gadhing merasa cemburu.
Gadhing menaruh nampan ke atas meja makan, lalu duduk di sebelah Retno. "Biar mas suapi," tuturnya membuat bunda Fadia tersenyum.
Retno sendiri merasa senang karena Gadhing tetap perhatian walau hati suaminya tidak utuh untuknya.
"Kenapa melamun?" tanya Gadhing saat potongan buah di tangan nya tak juga disambut sedari tadi.
Retno terperanjat sesaat, matanya bersitatap dengan mata Gadhing, ia langsung tersenyum disertai gelengan kecil. Kemudian membuka mulut menerima suapan buah dari suaminya itu.
Bunda Fadia masih memerhatikan pasangan suami istri ini. Sebagai ibu, tentu saja tahu apa yang dirasakan Gadhing selama ini.
Bunda Fadia bangkit dan berjalan menuju kamar tamu yang telah disediakan untuknya.
"Mas gak apa-apa?" tanya Retno. Walau Gadhing tetap telaten memberi perhatian, Retno dapat melihat dari pancaran mata suaminya menyiratkan luka.
Gadhing menatap Retno sekilas dan mencoba tersenyum. "Mas gak apa-apa."
Retno mengangguk mengerti seraya menekan rasa sakit dan cemburunya. Baginya, yang terpenting Gadhing tidak melewati batas.
*
*
Di dalam kamar Jimmy merasa bersalah dengan apa yang baru saja dilakukan nya. "Maafin mas, sayang. Mas gak bisa menahan diri," ucapnya sekian kali, benar-benar merasa bersalah karena tidak mengingat jika Nasya sedang hamil muda.
Nasya tersenyum sembari menaikkan selimut. Sudah kebiasaan keduanya setelah selesai penyatuan akan mandi bersama lalu istirahat tanpa memakai pakaian lebih dahulu.
"Bukan salah mas juga. Aku juga gak bisa nahan setiap kali mas godain. Cepatlah berpakaian, mas. Bunda masih ada di bawah," ucap Nasya yang selalu bisa menenangkan Jimmy.
Jimmy mengangguk. Ia mengecup dahi kemudian bibir Nasya sekilas, tidak berani berlama-lama mencium istrinya karena takut berakhir penyatuan seperti tadi.
"Mas ke bawah dulu, ya."
Jimmy turun dari ranjang menuju walk in closet dan memakai pakaian santai. Setelah selesai bersiap, ia mengecup dahi dan memperbaiki selimut Nasya, kemudian keluar kamar menuju lantai dasar mencari keberadaan bunda Fadia.
Saat di ruang makan, ternyata sudah terhidang menu makan malam dan bunda Fadia serta Gadhing dan Retno tengah menunggu.
"Maaf telah membuat lama menunggu," kata Jimmy seraya mendudukkan bobot tubuhnya ke kursi kepala.
Bunda Fadia mengangguk mengerti. Apalagi melihat penampilan Jimmy lebih segar dengan rambut yang belum kering sempurna.
"Seharusnya bunda makan lebih dahulu. Jangan menunggu kami," ada rasa tak enak menyelimuti hati Jimmy.
"Enggak apa-apa, nak. Sangat gak sopan kalau kami makan mendahului tuan rumah," ucap bunda Fadia.
Jimmy menghela nafas panjang. "Jangan sungkan, Bun. Mansion ini milik Nasya, itu berarti punya bunda juga. Kalau begitu, kita mulai makan saja, ya."
__ADS_1
Retno menyela. "Nasya kemana, mas?"
Jimmy melirik sekilas. "Nasya sedang istirahat,-"
"Aku disini, mbak. Maaf telat," pekik Nasya sedang menuruni anak tangga.
Jimmy tersentak dan refleks berdiri menghampiri sang istri dengan langkah lebar. Tanpa segan dengan yang lain, ia menggendong Nasya menuju meja makan.
"Mas," cicit Nasya sembari melingkarkan kedua tangan ke leher Jimmy.
Jimmy hanya diam, mendudukkan Nasya saat telah sampai. Ia mencubit pipi istrinya karena merasa gemas. "Jangan keras kepala. Kamu lagi hamil," tegasnya membuat Nasya mencebik.
"Aku mau layani kamu makan, mas."
"Mas bisa sendiri sayang. Kamu itu sudah lelah karena layani aku tadi," kata Jimmy tanpa sadar membuat Nasya melotot sedang yang lain tersedak ludah mereka sendiri.
"Mas," ucap Nasya.
Jimmy terkekeh menyadari kesalahannya sendiri. "Baiklah, maaf."
Nasya cemberut tetapi tangan nya lincah mengambilkan makan malam untuk Jimmy, lalu untuknya.
"Di makan ya semua, maaf malam ini Nasya gak bisa masak."
Selama menjadi istri Jimmy, Nasya selalu memasak untuk sang suami.
"Jangan lakukan yang berat-berat, Sya. Kamu hamil muda."
Nasya mengangguk diingatkan oleh Retno.
Nasya menggeleng. "Perut ku mual lihat ikan itu, mas."
*
*
Novi tersenyum bahagia karena impian nya menjadi istri dari Rispan akhirnya terwujud. Masih dengan senyuman yang sama, ia mengelus perutnya yang masih rata itu.
"Selamat ya mbak," ucap Nasya yang tampak cantik dengan gamis bordir bahan kaftan dengan hijab style Negara Malaysia.
"Makasih, Bu." Novi menerima jabat tangan dengan Nasya lalu keduanya melakukan cium pipi kanan dan kiri. "Selamat atas kehamilan, ibu."
Nasya tersenyum ramah. "Kamu juga."
Nasya sudah berdiri dihadapan Rispan. "Selamat, pak."
"Jangan dipandang terus istri saya," celetuk Jimmy tepat berdiri di belakang Nasya.
Buru-buru Rispan menundukkan kepala karena di tegur begitu. Mungkin Nasya beranggapan tidak ada yang aneh. Tetapi, baik Jimmy, Novi, dan Rispan sangat tahu arti teguran Jimmy.
*
*
__ADS_1
Pengantin baru itu telah sampai di apartemen Rispan yang akan mereka tempati mulai sekarang. Keduanya sudah berada di dalam kamar.
"Kita harus bicara," kata Rispan membuat Novi menegakkan tubuh kembali yang sebelumnya hendak merebahkan diri.
"Bicaralah."
Rispan meletakkan sebuah map berisi kertas kosong kepada Novi.
Novi mengerutkan dahi. "Maksudnya apa, Ris?"
Rispan menyerahkan sebuah bolpoin kepada Novi. "Tulis peraturan apa saja yang kamu mau, setelah itu aku akan menulis peraturan yang aku mau."
Novi menaikkan satu alisnya. "Apa pun? sesuka hatiku?" tanyanya menatap manik hitam Rispan.
Rispan mengangguk pasti.
Novi tersenyum. "Benar ya, apa pun? gak boleh nyesal."
Rispan berdecak. "Tulis sekarang atau enggak sama sekali."
Bibir Novi manyun lalu menulis peraturan yang dia inginkan. Sangat jarang bisa mendapat kesempatan ini dari Rispan.
Dengan senyuman Novi menyerahkan map berisi peraturan dari nya.
**PERATURAN PERNIKAHAN KITA
Dari Novi, istri Rispan :
Selalu bilang I Love You setiap bangun tidur dan sebelum tidur
Manjain istri
Sarapan dan makan malam bersama
Bantu bersih-bersih rumah
Setiap hari harus peluk istri**
"Gimana? bisa, kan?" tanya Novi membuat Rispan berdehem sebagai jawaban.
"Sekarang, giliran kamu tulis peraturan nya. Jangan berat-berat, oke? aku lagi hamil," tutur Novi langsung membuat Rispan mencebik.
"Alasan kamu saja," gumam Rispan membuat Novi terkekeh karena itu adalah kebenaran.
Rispan menulis di lembaran kosong berikutnya dengan cepat.
"Sudah?" tanya Novi karena yang ia tahu Rispan baru saja menulis.
Rispan menyerahkan map itu kepada Novi dan di terima istrinya. Novi membeku dengan mata melotot membaca peraturan dari Rispan yang menurutnya sangat membuatnya bahagia.
__ADS_1
TIDAK ADA PERCERAIAN.