Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 97: Malam di kota Yogya


__ADS_3

Kediaman Riko


Setelah acara tahlil, rumah Riko pun sepi kembali karena para sanak saudara sudah pulang ke rumah mereka masing-masing, kecuali mbok Nirah.


Rumah Riko pun cukup luas, Agistha dan Reza memilih beristirahat sebentar di kamar tamu, sementara Kania masih menemani Riko mengaji di ruang tamu.


Harum melati dan daun pandan masih tercium lekat di hidung. Beruntung Agistha sudah bisa mengendalikan kelebihannya itu. Mungkin awalnya, kelebihan itu akan hilang setelah menikah, namun sepertinya itu tidak berlaku pada Agistha. Karena waktu lalu mata batinnya terpaksa di buka, jadi sekarang sulit untuk ditutup. Agistha pun membiarkan tertutup dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.


Kamar Tamu


"Sayang, apa kamu sedang tidak melihat sesuatu?" tanya Reza saat Agistha sedang asik memainkan ponselnya.


Agistha menoleh kepada Reza sambil tersenyum.


"Dia ada tapi jauh mas," jawab Agistha kemudian melihat layar ponselnya lagi.


"Syukurlah, apa kita bisa.." ucap Reza yang menggantungkan kata-katanya dan memberi kode dengan kedua jari tangannya.


"Mas, apa sebaiknya kita istirahat terlebih dahulu," rengek Agistha memasang wajah murung.


Reza merasa tidak tega, ia pun langsung tersenyum.


"Iya sayang, sini dong ayok kita istirahat dulu ya," ajak Reza lalu kemudian mereka pun tertidur.


Pukul 11.00


Agistha terbangun karena merasa perutnya lapar. Ia pun membangunkan Reza.


"Mas, aku lapar, kita jalan-jalan yuk keluar," ucap Agistha dengan wajah sendu sambil memegangi perutnya.


"Oh iya tadi kamu belum makan malam ya sayang, uuuh kasian istriku. Ayok kita menikmati kota Yogya di malam hari," ucap Reza kemudian bangun dari tidurnya dan mengajak Agistha. Wajah Agistha pun seketika langsung berubah menjadi bahagia bukan main.


Keduanya pun keluar kamar, ternyata Kania dan Riko masih asik mengobrol di ruang keluarga.


"Loh kalian mau kemana malam-malam begini?" tanya Riko saat melihat Reza dan Agistha keluar dari kamar.


"Agis laper Ko terus pengen jalan-jalan malam, apa jam segini masih ada warung makan sekitar sini?" jawab Reza kemudian bertanya pada Riko.


"Gimana kalau kita ke angkringan saja, aku tau tempat angkringan terweeeeenak disini," jawab Riko dan semuanya mengangguk cepat.

__ADS_1


Udara di kota Yogya sedang dingin jika di malam hari. Jadi mereka lebih memilih ke angkringan karena bisa menghangatkan tubuh mereka dengan wedang jahe.


Riko pun langsung mengeluarkan mobil dari dalam garasi. Setelah semuanya naik, Riko melajukan mobilnya ke tempat angkringan.


Sepanjang perjalanan, Agistha terus menggelayut manja pada Reza begitupun dengan Reza. Riko yang melihat kemesraan keduanya dari kaca mobil seketika langsung tersenyum.


Orang selanjutnya selain Reza dan juga kedua orangtua Agistha mengenai penyakit Agistha adalah Riko. Karena pada saat Rachima memberitahukan kepada Reza, Riko sedang ada bersamanya.


Riko bahagia melihat Reza tidak mengeluh ataupun menyesal dengan apa yang telah terjadi pada Agistha. Riko melihat cinta yang tulus dari keduanya.


"Semoga cinta kalian selalu bersemi hingga maut memisahkan, dan semoga rumah tanggaku pun juga sama selalu romantis," ucap Riko dalam hatinya.


Tak lama mereka pun sampai di tempat angkringan yang dimaksud oleh Riko.


"Semuanya pesen aja ya nanti gue yang bayar," ucap Reza pada Riko, Kania dan juga Agistha.


Mereka pun menikmati suasana malam dikota Yogya dengan penuh suka cita ditemani nasi kucing, berbagai macam sate, gorengan dan wedang jahe.


Ditambah dengan alunan suara merdu dari pengamen jalanan. Mereka pun jadi ikut nyanyi bersama. Bahkan Reza menyewa para pengamen itu selama mereka makan di angkringan.


Para pengunjung pun berdatangan meramaikan angkringan.


"Wah tuan matursuwun nggih, berkat tuan angkringan saya jadi ramai," ucap pemilik angkringan tersebut.


"Semoga keluarga bapak juga diberikan keberkahan dan segera mendapatka keturunan yang sholeh dan sholehah," ucap pemilik angkringan itu lagi.


"Aamiin aamiin, terima kasih ya pak doanya," kata Reza tersenyum tulus.


"Sama-sama pak, silahkan lanjut dinikmati mumpung masih hangat," ucap pemilik angkringan tersebut.


Agistha merasa kagum dengan suaminya, ia berharap mendapat keajaiban setelah lulus sekolah bisa dipercayai untuk segera memiliki keturunan.


Malam pun mulai larut, Reza dan yang lainnya bergegas untuk pulang ke rumah Riko. Sepanjang perjalanan Agistha merasa mual yang sangat hebat.


"Hueek.. hueeek."


"Sayang kamu kenapa?" tanya Reza panik.


"Hueek, mual banget mas. Ini jalanan penuh banget aku gak kuat mencium bau darah," jawab Agistha dan dengan cepat Riko pun menancapkan pedal gas mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian sampailah di rumah Riko. Agistha keluar dari mobil dan berjalan sempoyongan.


"Sayang apa kamu tidak apa-apa?" tanya Reza lagi.


"Sudah lebih baik kok mas, hadeuh bener-bener ya tadi tuh baunya masyaAllah. Jalan itu bekas apa sih mas Riko?" jawab Agistha kemudian bertanya pada Riko.


"Setau saya jalan itu dulunya sisa sejarah bangsa Belanda, dan memang yang bisa melihat dengan mata batin sepertimu itu banyak yang mengira disana itu bau darah yang begiru menyengat," jelas Riko membuat Kania merinding sambil mengelus-ngelus lengannya.


"Kenapa kamu Kan? merinding ya?" ledek Agistha kemudian tertawa.


"Husss sayang tertawanya jangan kencang-kencang," timpal Reza sambil menutup mulut Agistha.


Agistha pun mengigit telapak tangan Reza yang menutupi mulutnya.


"Aw! kok digigit sih!" pekik Reza sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya yang tergigit Agistha.


"Emang kenapa sih mas kalau tertawa itu bahagia," ucap Agistha ketus dan langsung mengerucutkan mulutnya.


"Gak enak sayang sama tetangga, kalau manyun seperti itu nanti aku cium nih," goda Reza membuat Agistha langsung merapatkan bibirnya.


Reza, Riko dan Kania pun menertawai Agistha. Sementara Agistha hanya mendengus kesal.


"Sudah malam nih, lebih baik kita tidur, besokkan kita harus kembali ke Jakarta sayang," ajak Reza pada Agistha.


"Oh ya, kayaknya aku mau menemani mas Riko disini deh sampai hari minggu, gak apa-apa kan?" ucap Kania kemudian bertanya pada Reza dan Agistha.


"Kalau aku sih gak apa-apa Kan, coba kamu tanya mamah atau gak papah. Bagaimana pun kalian belum menikah, nanti kalau ada setan yang lewat jadi orang ketiga waduh bahaya," jawab Agistha dan Kania pun mengerti.


"Baiklah besok sebelum kamu berangkat aku akan telepon mamah untuk minta izin," ucap Kania tersenyum.


"Gitu dong, oh iya kata mamah saudara kita tambah 2 loh," kata Agistha dan Reza pun mengangguk cepat.


"Siapa?" tanya Riko dan Kania bersamaan.


"Vania dan Andi, Vania sudah jadi mualaf sekarang dan Andi juga sudah lebih baik selama di ponpes," jawab Agistha.


"Syukurlah semoga saja mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi," ucap Riko sambil menghela nafasnya.


"Aamiin," ucap mereka berempat bersamaan.

__ADS_1


Mereka pun pergi ke kamar masing-masing kemudian masuk ke alam mimpi.


Bersambung..


__ADS_2