
"Agistha kenapa kamu disini? bukankah kita akan bertemu di pemakaman?" tanya Yusti sambil memapah Agistha duduk di ruang tunggu.
"Agis sudah minta izin sama mamah dan papah untuk ke rumah sakit terlebih dahulu untuk menjenguk mas Reza, semalaman Agis tidak bisa tidur pikiran Agis terasa kosong," ucap Agistha lirih.
"Mih, pih apa Agis bisa menemui mas Reza sekarang?" tanya Agistha dengan sorot mata memohon.
"Boleh, tapi hanya bisa sendiri. Tidak apa kan?" tanya Yusti lembut.
"Iya mih tak apa, Agis ingin berbicara dengan mas Reza," jawab Agistha.
"Ayok mamih antar nak," ajak Yusti dan mereka pun menuju ruang ICU.
Setelah memakai baju steril, Agistha pun perlahan masuk. Entah kenapa ruangan Reza yang sangat dingin itu terasa sepi bahkan Agistha tak melihat apapun disana yang biasa ia lihat.
Agistha menghampiri Reza yang masih nyaman dengan tidur panjangnya.
"Assalamualaikum mas, aku datang. Aku kangen sekali mas. Aku kangen mas antar jemput aku sekolah, aku kangen ketawa mas, digodain mas. Mas kangen gak sama aku? kalau kangen bangun dong mas. Apa mas lupa kalau 2 hari lagi kita akan akad nikah? kita akan menghabiskan waktu berdua lebih banyak," ucap Agistha sambil menangis lirih, Agistha langsung memeluk Reza menumpahkan tangisannya.
Cukup lama Agistha menangis dipelukan Reza, akhirnya tangisannya pun terhenti.
"Mas, aku mau ke kamar rawat Kania dulu ya, setelah itu baru ke pemakaman om Andre. Insyaallah aku balik lagi kesini setelah dari pemakaman om Andre, mas cepat sadar ya, aku mencintaimu," ucap Agistha kemudian mengecup kening Reza lalu keluar dari ruangan Reza tak lupa ia melepas baju sterilnya.
Vino dan Yusti masih berada di ruang tunggu. Agistha mengampiri Yusti dan Vino untuk memberitahukan bahwa dirinya ingin bertemu dengan Kania.
"Mih, aku ingin bertemu dengan Kania," ucap Agistha.
"Mari mamih antar ke ruang rawat inapnya," ajak Yusti dan keduanya pun pergi ke tempat Kania dirawat. Sedangkan Vino menunggu diruang tunggu dekat dengan ruang ICU.
__ADS_1
Sesampai diruang rawat inap Kania, ternyata Kania sudah terbangun dari tidurnya. Agistha dan Yusti menghampiri Kania.
"Assalamualaikum," ucap Agistha dan Yusti bersamaan.
Kania menoleh ke arah pintu matanya langsung berbinar bahagia, "Agis," ucap Kania lirih dengan mata langsung berkaca-kaca perlahan bangun dari tidurnya menjadi posisi duduk dengan hati-hati.
"Kania aku kangen banget sama kamu," Agistha memeluk Kania dan Kania pun membalas pelukan Agistha. Yusti yang melihat dua sahabat itu menangis ikut terharu.
"Tante," ucap Kania dan mencium punggung tangan Yusti.
"Bagaimana keadaanmu saat ini nak?" tanya Yusti lembut pada Kania.
"Alhamdulillah sudah lebih baik tante," jawab Kania sambil tersenyum tipis.
"Tapi bisakah aku ikut ke makam ayahku tante? aku ingin bertemu ayahku untuk yang terakhir kalinya," ucap Kania lirih.
Sreeet, tirai terbuka.
"Bu, kondisi Kania saat ini masih lemah karena tenaganya belum banyak terisi. Paru-paru Kania pun belum sepenuhnya pulih. Hasil diagnosanya baru ada nanti sore," ucap Dokter membuat wajah Kania menjadi murung itu tandanya ia tidak bisa ikut ke melihat ayahnya untuk yang terakhir kali.
"Kania, kamu bisa ke makam ayahmu kapan saja kalau kamu mau tapu tidak sekarang. Kondisimu harus pulih terlebih dahulu. Nanti insyaallah kalau kamu sudah sehat aku akan menemanimu ke makam ayahmu," bujuk Agistha dan Kania terdiam sejenak tak lama Kania pun mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi ya, mari," pamit dokter kemudian meninggalkan Yusti, Agistha dan Kania.
~Di tempat lain
Pukul 5 dini hari, 3 orang anak buah Rukman dengan beberapa kepolisian datang ke kediaman mbah Goro. Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya masuk menerobos para polisi yang sedang mengamankan TKP.
__ADS_1
"Permisi pak!" ucap wanita itu.
"Maaf ibu siapa?" tanya salah satu anggota polisi.
"Saya istri dari Goro pak," jawab wanita itu dengan wajah yang murung saat melihat jasad mbah Goro. Polisi itu pun langsung mengerutkan keningnya.
"Pak bisakah suami saya akan saya makamkan di kampung halaman kami? saya jauh-jauh ke sini awalnya untuk meminta nafkah karena sudah 1 tahun suami saya gak ada kabar, setelah saya sampai sini ternyata rumah suami saya sudah terpasang garis polisi dan hiks hiks hiks," wanita itu menangis meraung-raung, "ternyata suami saya sudah tiada dengan kondisi yang sangat mengenaskan seperti ini, kasian anak-anak kami yang masih pada sekolah hiks hiks," lanjut wanita itu yang masih menangis tersendu-sendu. Ia meratapi nasibnya serta masa depan anak-anaknya.
Polisi itu pun memanggil salah satu anak buah Rukman dan menceritakan tentang wanita paruh baya itu. Anak buah Rukman pun langsung menghubungi Rukman meminta persetujuan untuk mengurusi pemakaman mbah Goro dan Rukman pun menyetujuinya.
Tak lama datanglah 2 orang anak buah Rukman yang lainnya dengan ambulance. Jasad mbah Goro serta istri dan kedua anak mbah Goro pun ikut ke dalam ambulance tersebut untuk dibawa ke kampung halamannya supaya bisa dimakamkan dengan benar. Semua urusan pemakaman mbah Goro sudah di bantu oleh kedua orang anak buah Rukman tersebut.
Rumah mbah Goro pun sudah diamankan polisi dan jasad Andre dibawa ke rumah sakit untuk dimandikan dan di kafankan. Setelah selesai barulah berangkat ke tempat pemakaman yang telah disiapkan oleh Vino dibantu anak buah Rukman.
Flashback off
~Rumah Sakit
Kania hanya berbaring sambil menonton tv sendiri karena ia menolak untuk ditemani Agistha.
Di ruang ICU Reza masih tertidur pulas dengan berbagai alat terpasang di tubuhnya. Walau dibilang sudah mulai stabil tapi tubuhnya masih belum bisa merespon apapun karena masih terasa kaku.
~ Pemakaman
Jasad Andre baru saja di kebumikan semua kerabat Andre sudah hadir diantaranya keluarga Navanka, Andara, Riko dan juga ustadz Fahri bersama istri, anak serta menantunya. Setelah selesai, mereka semua mengirimkan doa untuk ketenangan Andre dipimpin oleh ustadz Fahri.
Pemakaman pun selesai, semua pelayat meninggalkan makam alm. Andre.
__ADS_1
Bersambung..