Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 25 : Kania saat ini


__ADS_3

~Kediaman Andre


"Mbah bagaimana? kali ini kita harus berhasil. Pernikahan mereka sisa 3 hari lagi," kata Andre pada mbah Goro.


"Tenang saja, malam ini saya akan melakukan sebuah kejutan untuk calon istrinya," ucap mbah Goro membuat Andre tersenyum smirk.


"Jam berapa mbah akan melakukannya?" tanya Andre dengan antusias.


"Sekitar tengah malam saat ia sedang tertidur dengan lelap, dengan begitu kita dengan mudah memberikan kejutan untuknya," jawab mbah Goro kemudian Andre tertawa lepas.


"Sebentar lagi Reza akan hancur kembali dan perusahaanku akan kembali maju dengan begitu aku bisa kaya raya kembali," kata Andre bermonolog dengan tawa lepasnya.


~Tempat Kania


Kania baru saja sampai di kota Samarinda, langkahnya begitu gontai seperti tak ada semangat hidup untuknya. Dia mengira sahabatnya pasti akan membencinya, dan kepergian ibunya sebenarnya membuat dendam yang mendalam untuk ayahnya. Sayang, saat ini ia masih tak bisa berbuat apa-apa.


Semua kuasa telah dipegang oleh sang ayah. Bahkan Kania telah dimasukkan jimat ke dalam tubuhnya, supaya sang ayah bisa memantaunya dari jauh.


Jiwa Kania seperti kosong, pikirannya kalut, sejak tubuhnya dimasuki jimat oleh ayahnya terkadang Kania seperti seorang yang tak berdaya dan bisa lemas seketika.


Kania ditempatkan di sebuah kos-kosan yang bisa dibilang kumuh. Hidupnya lebih sulit, bahkan Kania telah mengerutuki dirinya sendiri karena telah percaya pada sang ayah.


Flashback on


1 bulan sebelum kematian Maura terungkap. Andre tiba-tiba masuk ke rumah yang ditempati Kania dan ibunya.


BRUAKKK (suara pintu dibuka dengan kencang).


"Mas Andre! kenapa kamu tau keberadaan kami!" teriak Hilda yang tak lain adalah ibunya Kania.


"Sabarlah sayang, kamu tak perlu berteriak. Kamu tak perlu tau kenapa aku bisa menemukanmu sekarang, kenapa kamu pergi meninggalkanku saat aku sudah bangkrut seperti ini?" kata Andre yang masih terdengar lembut.


"Cih! aku gak pernah meninggalkan kamu, tapi kamu yang sudah 2 tahun ini menelantarkan kami, bahkan untuk kami makan saja kamu tidak pernah memberikan uang kamu untuk biaya hidup kami, bisa sekali kamu bersilat lidah!" kata Hilda yang sudah tersulut emosi.


"Aku masih suamimu! jangan pernah memancing emosiku Hilda! dimana anakmu!" kata Andre yang sudah berbicara dengan nada tingginya.


"Jangan pernah kamu mencari anakku! kamu itu ayah yang tidak berguna! bahkan untuk mengajarkan dia dari sejak kecil ilmu agama saja tidak pernah! kamu tidak tau kan bagaimana usahaku mati-matian untuk bisa makan setiap harinya! sedangkan kamu hanya hidup bebas dengan wanita selingkuhanmu itu!" kata Hilda membuat kepalanya terasa sakit dan kemudian,


BRUG


Hilda terjatuh pingsan, Kania yang sedang bersembunyi dikamarnya seketika langsung keluar dan menghampiri ibunya.


"Apa yang sudah kamu lakukan pada ibuku!" entah keberanian darimana Kania berani membentak Andre.

__ADS_1


"Saya sudah tau ibumu mengidap penyakit darah tinggi, nih saya bawakan obat untuknya," kata Andre santai dengan memberikan sebungkus obat. Kania yang baru mengetahui sakit ibunya langsung menerima obat itu dengan kepanikan yang menguasai dirinya.


Andre menggendong Hilda dan dibaringkan dikamarnya.


"Cepat ambilkan minyak angin supaya dia cepat sadar!" kata Andre pura-pura panik.


Kania pun langsung mengambil minyak angin dan mengoleskannya ke hidung Hilda.


"Tuh dia sudah sadar, cepat minumkan obat yang saya kasih barusan," kata Andre yang melihat Hilda sudah sadar walaupun belum sepenuhnya.


Kania dengan perlahan membantu ibunya meminum obat yang diberikan Andre. Kania tidak menaruh curiga sama sekali dengan Andre. Kania menganggap Andre sudah berbaik hati mengobati ibunya.


Setelah Hilda meminum obat itu, hawa kantuk pun menyelimutinya dan dia kembali tertidur.


"Kania ikut saya ke depan, ada yang ingin saya sampaikan," ajak Andre dan Kania pun mengangguk kemudian mengikuti Andre ke ruang tamu.


Keduanya duduk di sofa namun dengan jarak yang berjauhan.


"Kania sebulan lagi kamu harus pindah ke Samarinda, semua surat kepindahan kamu sudah saya urus jadi kamu tinggal berangkat, dan semua biaya hidup kamu selama disana akan saya tanggung sepenuhnya. Anggap saja ini permintaan maaf saya pada kamu dan ibumu," jelas Andre membuat Kania bertanya-tanya.


"Kenapa harus ke Samarinda yah? kenapa gak disini aja, aku sudah betah disini dan memiliki sahabat juga," protes Kania membuat Andre langsung mengepalkan kedua tangannya namun masih terlihat tenang.


"Tenang saja sebelum kamu ke Samarinda ada tugas yang harus kamu kerjakan, dan kamu harus melakukannya anggap aja itu syarat supaya hidup kamu terjamin selama disana," kata Andre masih tenang.


"Tugas?" tanya Kania yang masih belum bisa berpikir jernih membuat Andre langsung mengambil kesempatan itu.


Kania mengacak-ngacak rambutnya merasa frustasi.


"Apa tidak ada tugas lain yah? kenapa harus Agistha? kenapa yah? dia sahabatku yang baik," kata Kania .


"Karena dia adalah sumber kebahagian untuk seseorang yang telah menghancurkan bisnis ayah," kata Andre yang sudah mulai geram.


Padahal perusahaan Andre bangkrut karena banyak karyawannya yang melakukan korupsi kemudian memanipulasi data kalau perusahaan Reza lah dalang dibalik semua kebangkrutan Andre.


"Tapi berat untuk Kania melakukan semua itu yah," kata Kania.


PRAK


Andre men****r pipi Kania dengan sangat keras.


"B*doh! bisa-bisanya kamu menolak permintaan ayahmu!" kata Andre yang sudah tersulut emosi karena Kania menolak.


Andre tak henti-hentinya menyiksa Kania dan akhirnya Kania setuju.

__ADS_1


"Ampun ayah, aku bersedia mengerjakan tugas dari ayah," kata Kania langsung menghentikan pukulan Andre.


"Bagus! jangan lupa setiap hari ibumu harus meminum obat yang saya berikan tadi," kata Andre kemudian keluar dari rumah Kania.


🌾🌾


Keesokan harinya Kania dibawa ke kediaman mbah Goro untuk melakukan ritual pemasangan jimat (biasanya disebut susuk). Kania sudah mengetahui kalau Agistha memiliki mata batin namun sudah ditutup kembali dan rahasia itu dilaporkan kepada Andre, membuat Andre tersenyum puas. Saat ini Kania hanya pasrah karena tak ingin dipukuli lagi oleh ayahnya.


"Sudah selesai, sekarang tugas kamu hanya menepuk bahu gadis yang bernama Agistha sebanyak 3x saat dia mulai merasa pusing dan lemas barulah kamu pura-pura untuk tidak tau apa-apa, mengerti?" ucap mbah Goro.


Kania yang masih sangat lemah karena sebenarnya jiwanya tak kuat tapi Kania harus tetap berusaha bersikap biasa-biasa saja dan menjawab ucapan mbah Goro dengan anggukkan kepala.


Setelah itu Andre mengantar Kania pulang ke rumah.


🌾🌾


1 bulan kemudian


Kania selalu menuruti semua yang disuruh oleh Andre. Setiap hari Kania selalu berusaha akan menepuk bahu Agistha saat sedang berdua namun usahanya selalu gagal karena hati Kania begitu berat untuk mencelakai Agistha.


Hingga tiba saat Kania dan Agistha berdua sedang berjalan di lorong kelas menuju ke kantin itulah kesempatan Kania. Dan ternyata dengan segenap keberanian akhirnya berhasil Agistha langsung melemah seketika.


Ada rasa bersalah dalam hati Kania. Kalau bukan tekanan dari sang ayah tak mungkin Kania berbuat setega itu. Hari itu Kania pun pulang ke rumah, dia mencari keberadaan ibunya.


"Astaghfirullah ibu!" Kania histeris terkejut melihat ibunya sudah terbaring kaku, tak ada denyut nadi dan mulutnya sudah dipenuhi oleh busa.


Kania langsung meminta tolong pada tetangga untuk membawanya ke rumah sakit. Setelah di cek oleh dokter ternyata selama ini ibunya meminum racun yang dapat mematikannya perlahan.


Kania melemas seketika, semangat hidupnya tak ada lagi. Dia bingung dan segera menelepon ayahnya untuk memajukan keberangkatannya ke Samarinda. Dan Andre pun menyetujuinya, ternyata dilain tempat Andre tertawa puas dengan kematian Hilda yang selama ini dia nanti-nantikan.


"Hahaha! akhirnya selamat tinggal Hilda untuk selama-lamanya," kata Andre yang akalnya sudah tidak sehat lagi.


🌾🌾


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Kania ke sekolah untuk mengambil surat pindah. Setelah Kania mendapatkan suratnya, di depan gerbang Kania bertemu dengan Laras.


"Kania kok baru dateng udah mau pulang aja!" kata Laras.


"Iya aku mau pindah hari ini, aku minta maaf ya kalau punya salah sama kamu selama ini, oh iya ini aku titip surat untuk Agis ya sampaikan permintaan maafku untuknya, aku pergi dulu ya Laras," kata Kania dengan menahan tangisannya seraya memberikan amplop pada Laras.


"Iya aku juga minta maaf ya, kamu pindah kemana?" tanya Laras penasaran.


"Samarinda," teriak Kania saat ojek online yang ia pesan sudah melaju.

__ADS_1


Flashback off


Bersambung..


__ADS_2