
~Singapura
Reza baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Tubuhnya merasa sangat lelah sekali, ia pun langsung keluar dari ruangannya.
Tiba-tiba lampu di kantor itu mati total.
"Shit! kenapa bisa mati sih! bukankah ada jenset? ponselku mati juga," ucap Reza bermonolog. Dia hanya bisa berdiri dan tak tahu harus pergi kemana karena penglihatannya pun tidak bisa menembus kegelapan tersebut.
Tiba-tiba dari belakang Maria memeluk Reza dan meraba seluruh tubuh Reza. Kemudian Reza pun begitu tersentak, ia mencium parfum yang Maria pakai.
"Maria! saya tahu kalau itu kamu! lepaskan!" kata Reza dengan nada tinggi.
Reza berusaha melepaskan tangan Maria dari tubuhnya. Dan dari kejauhan ada sebuah cahaya yang sedikit menerangi gelapnya diruangan tersebut.
Flashback on
Setelah makan siang, Reza melakukan panggilan kepada Riko namun sebelum ia menelepon Riko, Reza memeriksa di seluruh ruangan kerjanya dengan sangat teliti. Pintu ruangan pun ia kunci, tak lupa kaca juga ia tutup otomatis.
Reza begitu terkejut di setiap sudut ruangan ini tersimpan banyak sekali kamera CCTV tersembunyi. Ia langsung melepaskan connecting CCTV tersebut, total semuanya terdapat 12 buah anak CCTV. Reza terus mencari keberadaan induk dari CCTV tersebut.
Ia pun memasuki ruangan khusus yang berada didalam ruangan Reza. Setelah ia bongkar semuanya dan memotretnya lebih dulu, Reza menemukan induk CCTV itu didalam lemari pakaian.
Namun saat ia lepas, ia menemukan sebuah kotak rahasia didalamnya. Reza begitu penasaran, ia membuka kotak yang mirip seperti brankas. Matanya langsung membulat dengan sempurna.
"Astaghfirullah, bukankah ini berkas-berkas yang selama ini dicari," ucap Reza bermonolog.
Setelah cukup aman, Reza menelepon Riko.
"Assalamualaikum, Ko bisa ke Singapura sekarang dan ajak beberapa orang suruhan papih ya ke sini. Gue udah nemuin berkas aslinya. Dan jangan lupa bilang ke papih lebih dulu, supaya papih bisa bantu kita," ucap Reza dengan merendahkan nada bicaranya, belum sempat Riko menjawab Reza sudah mematikan teleponnya.
Reza langsung menutup lemari tersebut dan menaruh semua CCTV yang ia lepas di dalam lemari. Reza pun keluar dari ruang rahasia itu sambil membawa berkas dan menaruhnya ke dalam tas. Ia pun membuka kembali penutup jendela dan juga pintunya.
Flashback off
"Angkat tangan!"
Reza langsung tersentak begitupun dengan Maria, keduanya mengangkat tangan tiba-tiba lampu pun menyala. Reza langsung menyunggingkan senyum tipisnya saat melihat Riko dengan beberapa anggota polisi Singapura serta beberapa orang suruhan Vino.
Maria langsung ketar ketir, sebentar lagi kedoknya akan terbongkar. Ia berusaha melarikan diri namun usahanya sia-sia karena sudah di kepung banyak orang.
"Za nih lu lihat sendiri," ucap Riko sambil memberikan sebuah map.
Reza membuka map tersebut, matanya langsung membulat dengan sempurna. Didalam map tersebut merupakan data kongkret pelaku dibalik semua kekacauan ini.
Reza membalikkan tubuhnya ke arah Maria. Maria pun sudah keringat dingin karena dirinya tidak bisa berkutik lagi.
"Jelaskan pada saya maksud kamu melakukan ini kepada keluarga saya! saya kan sudah bilang, kalau kamu berani macam-macam dengan keluarga saya. Maka penjara tempat kamu berada!" ucap Reza sambil menekankan kata-katanya dan juga menatap tajam kepada Maria.
"Siapa lagi yang bersekongkol denganmu?" tanya Reza sambil menormalkan kembali nada bicaranya.
"Ma-maaf pak Reza, saya berbuat semua ini karena ingin membalaskan dendam terhadap pak Vino karena sudah memasukkan kakak saya Diani ke dalam penjara," jawab Maria sambil menundukkan kepalanya.
"Cih! punya nyali berapa kamu membela orang yang jelas-jelas sudah bersalah? kamu tak ada bedanya dengan dia! sekarang beritahu saya kemana sekretaris yang sebenarnya?" tanya Reza dengan meninggikan kembali nada bicaranya.
__ADS_1
"Dia ada di dalam ruang rahasia, sebenarnya dia sudah saya bunuh bersama manager HRD disini," jawab Maria tanpa ragu.
"Shit! pak polisi bawa dia ke kantor dan hukum dia seberat-beratnya kalau perlu hukum mati saja!" tegas Reza yang sudah naik pitam.
"Dan beberapa yang lainnya ikut saya untuk memakamkan jasad mereka," ucap Reza.
Beberapa anggota polisi pun langsung membawa Maria ke kantor polisi. Dan yang lainnya ikut dengan Reza masuk ke dalam ruang rahasia itu.
"Za, bukannya tadi lu masuk ke sini kenapa lu gak sadar didalam sini ada mayat?" tanya Riko membuat Reza seketika merinding.
Reza terus beristighfar dalam hati, ingatannya tentang Maura beberapa tahun lalu berputar di memori otaknya.
"Semoga mereka tenang dialam sana dan gue yang bakal jamin keluarga mereka tidak akan kekurangan," jawab Reza.
"Aamiin ya Allah," ucap Riko sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Setelah proses identifikasi selesai, jasad sekretaris dan manager HRD itu langsung dibawa ke rumah duka dan dimakamkan.
🌾
Keesokan harinya, Reza menyuruh beberapa cleaning service untuk membersihkan ruangannya. Ia pun menyuruh bagian HRD untuk merekrut pegawai baru untuk bagian sekretaris dan juga managet HRD.
Siang hari, Riko pamit untuk kembali ke tanah air karena banyak yang harus di kerjakan di perusahaan pusat.
🌾
2 minggu lamanya Reza berada di Singapura. Rasa rindunya pada Agistha dan baby Adney tidak dapat terbendung lagi. Beruntung Reza sudah menemukan sekretaris baru dan juga manager HRD yang baru.
Kondisi perusahaan sudah stabil kembali serta para pemegang saham pun tidak jadi mencabut saham mereka dari Andara Corp.
🌾
2 jam perjalanan Singapura-Jakarta, Reza akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno-Hatta.
Waktu maghrib pun tiba, sebelum pulang ke rumah ia menyempatkan sholat maghrib terlebih dahulu di mushola yang ada di Bandara. Tak lupa ia membelika sebuah cendra mata untuk keluarganya di rumah terutama istri dan anak tercinta.
Beberapa jam kemudian, Reza yang menaiki taxi pun sampai di halaman kediaman Navanka. Agistha menatap lekat sebuah taxi yang berhenti di depan gerbang rumahnya yang terlihat dari jendela kamarnya.
Mata Agistha langsung berbinar saat melihat Reza yang turun dari taxi tersebut. Ia yang sedang menggendong baby Adney pun langsung keluar kamar dengan hati-hati karena luka jahitan sesarnya masih belum kering total.
"Sayang ada apa? kok keluar dari kamar?" tanya Rachima.
"Assalamualaikum," ucap Reza saat masuk ke dalam rumah.
Rachima, Rukman dan Agistha langsung menoleh. Agistha mempercepat langkahnya menuruni tangga dengan sigap Rachima membantu Agistha.
"Waalaikumsalam," jawab mereka bersamaan.
"Sayang aku kangen," ucap Agistha memeluk Reza sangat erat namun masih ada jarak karena baby Adney masih dalam gendongan Agistha.
"Aku juga kangen," kata Reza sambil mengecup kening Agistha cukup lama. Lalu Agistha pun mencium punggung tangan Reza.
"Assalamualaikum jagoan daddy," ucap Reza pada baby Adney yang masih tertidur pulas.
__ADS_1
"Jagoan daddy tambah menggemaskan sekali, sepertinya tubuhmu sudah semakin berat Adney," sambung Reza sambil mengelus lembut pipi baby Adney dan memberi kecupan yang bertubi-tubi.
Setelah puas mengecup baby Adney, Reza pun menghampiri Rukman dan Rachima lalu mencium punggung tangan mereka bergantian.
"Bagaimana Za apakah semuanya sudah beres?" tanya Rukman.
"Alhamdulillah sudah pah, berkat doa kalian semua aku tidak sampai sebulan disana," jawab Reza sambil menghela nafas lega.
"Alhamdulillah papah ikut senang, lamu hebat juga ternyata," ucap Rukman sambil menepuk punggung Reza karena rasa bangga.
"Za kamu istirahat yah, Agis kamu juga jangan naik turun tangga terus mamah masih linu melihat kamu jalan," kata Rachima sambil terkekeh.
"Iya mah," jawab Agistha dan Reza bersamaan.
Koper Reza pun sudah lebih dulu diantarkan pelayan ke kamar Agistha. Reza mengambil alih menggendong baby Adney sambil sebelah tangannya menggenggam tangan Agistha naik ke lantai atas.
Setelah sampai kamar, Reza meletakkan baby Adney ke dalam box bayi. Ia pun langsung bergegas ke kamar mandi. Sementara Reza mandi, Agistha menyiapkan pakaian ganti untuk Reza.
Beberapa saat kemudian, Reza keluar kamar mandi lalu pergi ke ruang ganti. Tiba-tiba pintu kamar Agsitha pun ada yang mengetuk.
Agistha membuka pintu ternyata bi Niah datang membawa makan malam untuk Agistha dan juga Reza.
"Makasih ya bi, nanti biar aku saja yang mendorongnya," kata Agistha sambil tersenyum.
"Baik non, saya permisi," ucap bi Niah lalu pergi dari kamar Agistha. Dan Agistha pun menutup pintunya kembali.
"Siapa sayang?" tanya Reza yang baru saja keluar dari ruang ganti.
"Bi Niah sayang mengantarkan makan malam untuk kita," jawab Agistha yang sedang merapihkan makan malam mereka di meja yang ada di kamarnya.
"Pas sekali aku sudah sangat lapar," ucap Reza sambil menghampiri Agistha.
"Yuk kita makan mumpung baby Adney sedang tidur," ajak Agistha dan mereka pun makan malam bersama.
"Sayang ponselmu kemana? kenapa selama 2 minggu ini kamu memakai ponsel mamah?" tanya Reza penasaran.
"Ponselku rusak sayang karena tidak sengaja aku menjatuhkannya," jawab Agistha.
"Kok bisa? memangnya ada apa sayang?" tanya Reza semakin penasaran.
"Iya soalnya waktu itu sekretaria kamu yang seksi mengirimkan foto dia sedang memelukmu, aku terkejut dan tak sengaja menjatuhkan ponselku lalu hancur," jawab Agistha membuat Reza tercengang.
"Kalau begitu besok aku akan membelikanmu ponsel baru lagi. Kamu tenang saja dia sekarang sudah masuk penjara bahkan mendapat hukuman mati," ucap Reza membuat Agistha ikut tercengang.
"Benarkah sayang?" tanya Agistha dan Reza pun mengangguk.
"Dia itu sudah membunuh sekretaris dan manager HRD beruntung Riko dan beberapa anggota polisi serta para orang suruhan papih datang tepat waktu. Kalau tidak entahlah apa yang akan terjadi padaku," jawa Reza.
"Kenapa mas Riko juga ada disana sayang?" tanya Agistha penasaran.
"Karena saat aku menemukan berkas asli aku langsung menghubungi Riko untuk segera datang ke sini, dan Alhamdulillah qadarullah semuanya terungkap. Dan sebenarnya Riko pun sudah mendapat informasi pelaku," jawab Reza panjang lebar dan Agistha pun mengangguk paham.
Setelah makan malam, Reza melaksanakan sholat isya' dan tak lupa juga mengaji. Baby Adney pun semakin pulas saat ia mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an.
__ADS_1
Malam pun semakin larut, Agistha dan Reza pun tertidur.
Bersambung..