
~Kediaman Navanka
Sebelum pulang dari rumah sakit Agistha dan Reza pamit kepada Rukman dan juga Rachima. Sesampai dirumah Agistha, keduanya langsung menuju ke kamar karena waktu maghrib tinggal beberapa menit lagi.
Setelah keduanya selesai mandi, dan berganti pakaian, mereka pun sholat maghrib berjamaah. Selesai sholat, seperti biasa Agistha pun langsung mencium punggung tangan Reza dan Reza mengecup kening Agistha cukup lama.
"Aku mencintaimu sayang karena Allah," ucap Reza ditengah kecupannya di kening Agistha.
"Aku juga mencintaimu mas karena Allah," kata Agistha, kemudian melepaskan kecupannya dan tersenyum tulus.
Keduanya pun saling bertatapan cukup lama. Tak terasa cairan bening mengalir begitu saja dari pelupuk mata Agistha membasahi pipi mulusnya.
Reza langsung mengecup perlahan kedua mata Agistha saling bergantian. Ia pun sama, air matanya lolos begitu saja.
Keduanya tengah merasakan haru, ujian diawal pernikahan mereka membuat keduanya saling menguatkan cinta diantara mereka satu sama lain.
Tangan Reza memegang kedua pipi Agistha sambil mengelus lembut. Agistha merasakan sentuhan hangat yang penuh kasih sayang sambil memejamkan kedua matanya.
Bibir keduanya begitu terasa kelu, dan tak tau harus mengatakan apalagi selain bersyukur dan ikhlas. Sebelumnya keduanya tidak pernah merasa sebahagia ini.
Diatas segala ujian yang melanda rumah tangga mereka, tak urung membuatnya saling mencaci, justru sebaliknya. Reza pun melepaskan mukena Agistha perlahan.
Entah siapa yang memulai semalaman itu, keesokan harinya mereka terbangun sudah tidak berpakaian lagi.
Perlahan Agistha pun turun dari tempat tidurnya berjalan menuju kamar mandi. Ia membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Setelah itu ia langsung membangunkan suaminya.
"Mas bangun yuk, nanti waktu shubuh keburu lewat loh," ucap Agistha lembut sambil tersenyum.
CUP... Reza terbangun dan tiba-tiba mengecup sekilas bibir Agistha.
"Morning kiss, good morning sayang," ucap Reza tersenyum pada Agistha.
"Morning too sayang, udah sana cepat mandi airnya sudah aku siapkan," kata Agistha terkekeh.
"Sayang lagi yuk, dikamar mandi," ajak Reza sambil memberi kode pada Agistha.
Sementara Agistha hanya mengerutkan kedua alisnya dan hanya pasrah saja.
2 jam kemudian, mereka pun keluar dari kamar dan turun ke ruang makan. Riko sudah datang dari setengah jam yang lalu.
__ADS_1
"Pagi semua," ucap Reza dan Agistha bersamaan.
"Pagi," jawab Kania dan Riko bersamaan.
"Datang jam berapa Ko?" tanya Reza.
"Setengah jam yang lalu Za, lu sih lama keluar kamarnya," jawab Riko sambil menggerutu.
"Za, ini ada beberapa berkas yang harus lu tanda tangani pagi ini karena harus segera diproses sama bagian HRD," ucap Riko sambil memberikan berkas tersebut kepada Reza.
"Widih, ada yang lembur rupanya semalaman ya," ledek Reza pada Riko.
"Sial! gaji gue naikin ya Za," bisik Riko pada Reza.
"Hmm," jawab Reza sambil mengecek berkas yang diberikan oleh Riko.
"Nih udah," ucap Reza sambil memberi berkas itu kembali pada Riko.
Tiba-tiba ponsel Riko pun berbunyi. Riko pun memberi kode pada Reza dan menjauh dari ruang makan.
"Ya, hallo ini siapa?" ucap Riko.
"Den, ibu sama bapak aden meninggal. Aden pulang ya sekarang, ini mbok Nirah," jawab mbok Nirah, orang yang membantu ibu dan bapaknya Riko di kampung.
Kania yang melihat Riko bersimpuh di lantai langsung menghampiri Riko. Setelah di dekat Riko, Kania melihat Riko menangis membelakangi dirinya di ruang tamu.
"Mas, ada apa?" tanya Kania lembut yang ikut bersimpuh.
"Bapak sama ibuku Kania, mereka meninggal," jawab Riko ditengah tangisan lirihnya.
"Ada apa? kok bisa ? apa yang sudah terjadi mas?" tanya Kania yang merasa iba melihat Riko terlihat rapuh seperti ini. Kania merasakan seolah melihat dirinya saat dulu menangisi kepergian ibunya.
Riko menyesali dirinya sendiri, saat kedua orangtuanya merenggut nyawa mereka. Ia tidak ada disamping mereka.
"Bapak sama ibu kecelakaan saat akan pergi ke kota menghadiri rapat Wali Kota, dan mereka meninggal ditempat Kania," jawab Riko tanpa ragu Kania pun langung membawa Riko ke dalam pelukannya.
"Mas, aku tau perasaan mas saat ini. Aku juga pernah merasa kehilangan orang yang paling aku sayangi. Kalau ingin menangis, menangislah sepuas hatimu. Gak ada yang ngelarang orang untuk bersedih selama mas belum merasa tenang," ucap Kania dalam pelukannya.
Reza dan Agistha yang merasa Kania tak kunjung kembali, mereka pun menghampiri Kania dan Riko di ruang tamu. Mereka begitu terkejut melihat Riko menangis dipelukan Kania begitupun dengan Kania.
__ADS_1
Agistha refleks langsung melingkarkan tangannya di lengan kekar Reza dan menyandarkan kepalanya. Ada rasa haru dari keduanya untuk Riko dan juga Kania. Walaupun mereka belum tau apa masalahnya.
Setelah Riko cukup puas menangis dipelukan Kania. Keduanya pun saling melepaskan pelukan itu. Riko dan Kania terkejut ternyata Reza dan Agistha sudah berada di belakang mereka.
"Ada apa Ko?" tanya Reza.
Riko pun berdiri, begitu juga dengan Kania.
"Za, gue izin mau pulang kampung kemungkinan sampai seminggu. Kedua orangtua gue meninggal Za, mereka kecelakaan. Tadi mbok Nirah meneleponku dan menyuruhku pulang sekarang sebelum bapak dan ibu dimakamkan," ucap Riko dengan mata yang masih sembab karena habis menangis.
"Baiklah, sayang kamu bisa izin gak hari ini sama besok? kita temani Riko ke kampung halamannya," ucap Reza karena tak ingin berjauhan dengan Agistha.
"Sebentar aku telepon Laras dulu ya," jawab Agistha dan ia pun menelepon Laras bahwa dia dan Kania hari ini serta besok tidak bisa masuk sekolah karena saudara mereka meninggal dunia dan Laras pun mengiyakan.
"Ko, lebih baik kita ke bandara saja biar lebih cepat nanti biar minta tolong diantar dengan mang Ujang. Dan kerjaan di kantor nanti gue bilang sama papih," usul Reza dan Riko pun mengangguk.
Seteleh mereka selesai dengan urusannya dan memastikan urusan mereka berjalan lancar. Akhirnya mereka berempat pergi menemani Riko ke kampung halamannya.
🌾🌾
Bandara AdiSucipto Yogyakarta
Setelah menempuh perjalanan 1 jam dari rumah ke bandara Soekarno-Hatta dan 2 jam penerbangan ke bandara Adisucipto Yogyakarta. Pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan aman.
Mereka pun langsung pergi ke kediaman Riko dengan dijemput oleh saudara Riko. Sejak Riko bekerja dengan Reka perekonomian keluarga Riko sangat mumpuni dan juga berkecukupan. Bahkan bapaknya saat ini menjabat sebagai gubernur dikotanya.
Namun nahas, jabatan itu harus berakhir begitu saja karena bapaknya Riko telah pergi untuk selama-lamanya. Saat mendekati kediaman Riko, karangan bunga bela sungkawa pun terpajang rapih sepanjang jalan.
Riko tetap menguatkan dirinya agak tidak berlarut menangisi kepergian kedua orangtuanya. Sesampai di kediaman Riko, ia pun langsung berlari ke jasad bapak dan ibunya yang sudah terbaring kaku.
Tangisnya pun pecah kembali, begitupun dengan Agistha dan Kania. Namun Reza masih menahan tangisannya karena tak ingin Agistha tambah sedih.
Setelah semuanya membacakan surah Yasin, kini jasad kedua orangtua Riko pun dimakamkan, karena dari rumah sakit keduanya telah dimandikan.
Pemakaman berjalan penuh haru, Kania yang selalu disamping Riko mencoba menenangkan Riko sama seperti dirinya dulu, Riko selalu menenangkan dirinya.
Reza tak melepas sedikit pun genggaman tangannya dengan Agistha. Mereka pun berdoa melepas kepergian bapak dan ibunya Riko.
"Pak, bu, semoga bapak dan ibu khusnul khotimah. Riko akan selalu mendoakan bapak dan ibu. Pak, bu kenalin ini Kania, baru aja Riko mau memperkenalkan calon istri Riko akhir bulan ini tapi bapak dan ibu sudah pergi lebih dulu. Pak, bu yang tenang ya di sana. Riko sayang sama bapak dan juga ibu," ucap Riko lirih kepada kedua gundukan tanah yang penuh dengan taburan bunga.
__ADS_1
Setelah dari makam, mereka pun langsung pulang ke kediaman Riko karena mulai nanti malam dan selama tujuh hari kedepan akan diadakan tahlil bersama.
Bersambung..