
~Kediaman Agistha
Setelah makan malam Agistha memutuskan untuk langsung pergi ke kamarnya karena tubuhnya sudah merasa lelah dengan aktivitasnya seharian ini.
Agistha tak sempat membuka pelajaran kembali padahal esok ada ulangan. Ia memilih untuk tidur.
Waktu telah menunjukkan pukul 01.00, Agistha terbangun karena haus. Agistha lupa untuk mengisi air minumnya, ia pun turun ke dapur dalam keadaan setengah sadar.
Agistha belum menyadari kalau saat ini mata batinnya benar-benar terbuka kembali. Banyak sekali berbagai macam makhluk kiriman dari mbah Goro di dapur yang sedang memperhatikan Agistha.
Perlahan Agistha menyadarinya, entah kenapa saat ini dia benar-benar terbiasa. Agistha terus berjalan kembali ke kamarnya sambil beristighfar.
Sesampai dikamar, Agistha justri melihat Alika dan Alfian seperti sedang menunggunya. Agistha mematung dibalik pintu.
"Ka-kakak, a-adik," kata Agistha terbata-bata.
"Kakak tidak apa-apa? tadi aku melihat banyak sekali tamu dibawah," kata Alfian tampak khawatir pada Agistha.
"Apa aku benar-benar melihat kalian kembali?" tanya Agistha yang masih mencoba memahami keadaannya saat ini.
"Sebenarnya tidak, kami sengaja kesini untuk melindungimu Agis," kata Alika serius.
"Melindungiku?" tanya Agistha memastikan.
"Iya, kamu tau? dibawah adalah makhluk kiriman dari ayahnya Kania. Dia sengaja mengirimkanmu serangan mendadak. Supaya jiwamu kembalj terguncang dengan keberadaan mereka. Tujuannya satu dia ingin kaya, dia ingin menguasai harta orang tua calon suamimu," jelas Alika.
"Lalu kenapa mereka tidak bisa masuk ke kamarku?" tanya Agistha yang masih penasaran.
"Karena kamar ini sering kamu gunakan untuk mengaji dan beribadah, mungkin sekarang mereka semua sedang menunggumu di depan pintu kamarmu," jawab Alika.
"Sampai kapan mereka akan disini? apa hanya malam ini?" tanya Agistha ketar ketir.
"Kurasa hanya malam ini, karena aku melihat persiapannya hanya malam ini, tapi tidak menutup kemungkinan kalau besok malam pasti datang lagi," kata Alika.
"Agis kamu harus tetap tenang, setelah ini mata batinmu akan sulit tertutup karena sudah dipaksa dibuka kembali," lanjut Alika.
__ADS_1
"Begitukah kak? apa benar-benar tidak bisa tertutup kembali?" tanya Agistha kemudian ia malah menangis.
"Bisa, tapi itu tidak instan. Butuh waktu yang sangat lama, aku yakin kamu bisa terbiasa, ingat Agis kamu sudah memiliki seseorang yang selalu melindungimu," kata Alika mencoba menenangkan Agistha.
"Benarkah? siapa orangnya kak?" tanya Agistha sambil menyeka air matanya.
"Calon suamimu," jawab Alika tersenyum.
"Lebih baik sekarang kamu ambil wudhu dan sholat tahajud jangan lupa doakan kami ya," kata Alika kemudian menghilang bersama Alfian.
Agistha langsung menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu kemudian melaksanakan sholat tahajud nya. Setelah itu barulah ia melanjutkan tidurnya kembali dengan perasaan yang lebih tenang.
Beberapa jam kemudian, adzan shubuh berkumandang. Agistha terbangun dan bersiap untuk sholat shubuh kemudian berangkat ke sekolah.
~Di tempat lain
"Sial! gagal! sepertinya dia bukan gadis biasa, seperti ada sesuatu didalam tubuhnya!" mbah Goro kesal karena serangannya kali ini gagal dan melempar semua sesajen di mejanya.
"Apa yang harus ku katakan pada Andre, bisa-bisa dia tidak membayarku karena misinya gagal," lanjut mbah Goro bermonolog.
~Kediaman Agistha
"Pagi mah,pah," sapa Agistha yang baru bergabung di meja makan.
"Benar kata kak Alika dan Alfian, semalam itu hanya kiriman seseorang, buktinya sekarang aku tidak melihat apa-apa," kata Agistha dalam hati.
"Pagi sayang," jawab Rukman dan Rachima bersamaan.
"Pah, mah, semalam kalian merasakan sesuatu yang aneh gak saat keluar kamar?" tanya Agistha membuat Rukman dan Rachima saling bertukar pandang.
"Semalam kami tidak keluar kamar karena terlalu lelap tidur, ada apa memangnya sayang?" tanya Rachima merasa heran.
"Bibi merasa aneh non suasana rumah ini sangat panas padahal AC selalu on," jawab pelayan rumah tiba-tiba menghampiri Agistha, Rukman dan Rachima.
"Lalu bibi merasakannya jam berapa?" tanya Agistha membuat raut wajah penasaran pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Sekitar jam 12 malam bibi baru selesai kerjaan bib, terus bibi merasa merinding dan pengap sekali," kata pelayan rumah.
"Ada apa sih Agis? papah penasaran," kata Rukman.
Kemudian Agistha pun menceritakan kejadian semalam sampai bertemu dengan Alika dan Alfian. Semua orang yang berada di meja makan tercengang mendengar cerita Agistha.
"Keterlaluan! hanya karena harta Andre ingin mengorbankan anakku! tidak bisa dibiarkan, kamu tau alamat rumahnya Gis?" tanya Rukman yang benar-benar marah.
"Tau pah, tapi rumahnya itu menurutku tidak wajar," jawab Agistha dengan hati-hati.
"Tidak wajar bagaimana maksudnya?" tanya Rachima khawatir.
Agistha menceritakan kembali kejadian kemarin bersama Reza.
"Astaghfirullah," ucap Rukman dan Rachima bersamaan.
Tak lama Reza pun datang.
"Assalamualaikum," ucap Reza.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang di meja makan bersamaan.
"Za kamu kemarin ke rumah Kania?" tanya Rukman membuat Reza mengerutkan keningnya dan melirik ke Agistha.
"Iya pah tapi gak lama soalnya aku merinding, dan mata batin Agistha sepertinya kembali terbuka," jawab Reza dengan hati-hati.
"Bukan sepertinya tapi emang iya mas," imbuh Agistha membuat Reza tercengang.
"Za, mulai sekarang kamu harus terbiasa ya dengan kondisi Agistha, ya walaupun papah tau sekarang Agistha sudah mulai terbiasa tidak seperti waktu kecil apapun yang dia lihat pasti langsung diucapkan," jelas Rukman membuat Reza menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Iya pah insyaallah," jawab Reza tulus.
"Pah, mah aku sudah selesai sarapan, aku berangkat ke sekolah dulu ya," pamit Agistha kemudian mencium punggung tangan kedua orang tuanya disusul dengan Reza.
Setelah kepergian Reza dan Agistha, Rukman menghubungi Vino yang saat ini sedang santai pagi. Rukman menceritakan atas apa yang telah terjadi pada anak gadisnya semalam. Kemudian Vino dan Rukman pun sepakat untuk ke rumah ustadz Fahri pagi ini. Sedangkan Rachima pergi ke butik Yusti.
__ADS_1
Bersambung..