
~Tempat Wisata
Kini Kania dan Riko telah sampai di salah satu tempat wisata yang sangat terkenal di kota ini.
"Wah mas beneran ngajak aku ke sini?" tanya Kania dengan wajah yang berbinar.
"Iya, kamu suka?" jawab Riko kemudian bertanya pada Kania dan Kania pun mengangguk.
"Ayok mas kita naik semua wahana disini," aja Kania kemudian berlari menjauh dari tempat Riko berdiri.
Riko pun jadi ikut berlari mengejar Kania. Mereka pun menaiki permainan dari yang paling ekstrim, Riko awalnya ragu karena ia begitu takut dengan ketinggian.
Namun karena Kania merengek untuk naik, mau tidak mau Riko pun menurutinya. Beberapa menit setelah permainan selesai, Riko turun dengan berjalan sambil sempoyongan.
"Uweek uweeek!" Riko memuntahkan isi perutnya ke dalam tong sampah.
Kania yang melihat Riko muntah langsung mengeluarkan air minum dan tisu dari dalam tasnya.
"Ya Allah mas maafin aku, aku kira kamu gak bakal kayak gini," kata Kania sambil telaten mengelap bekas muntahan Riko dari bibirnya.
Riko merasa tersentuh atas perlakuan Kania dan melihat wajah panik Kania pun langsung tersenyum.
"Mas gak apa-apa Kania, mungkin karen tadi makannya terlalu banyak saat di rumah Reza jadi mual," kata Riko bohong untuk menenangkan hati Kania. Padahal ia mabok karena merasa pusing dikepalanya.
"Kita makan dulu ya mas, perut mas kan kosong, setelah makan lebih baik kita berkeliling saja dan mungkin lebih baik kita masuk ke dalam istana boneka yang ada disana," usul Kania sambil menunjuk sebuah wahana yang kebanyakan dinaiki oleh para orang tua yang bersama anak-anak mereka.
"Ide bagus, ayok kita makan dulu, kamu mau makan apa ?" jawab Riko meyetujui usul Kania kemudian bertanya pada Kania.
__ADS_1
"Sepertinya aku ingin pizza mas, kalau mas mau makan apa?" jawab Kania dan bertanya balik pada Riko.
"Samain aja deh sama kamu, yuk kita ke kedai pizza disebelah sana," jawab Riko kemudian menggengggam tangan Kania mengajaknya ke kedai pizza.
Sesampai di kedai pizza, mereka pun memesan pizza yang paling enak disini, tak lupa juga minumannya.
"Mas, menurut mas pernikahan impian mas seperti apa sih?" tanya Kania saat mereka sudah duduk di kursi.
"Menikah dengan wanita yang mas cintai, bisa berbagi suka duka bersama, memiliki anak-anak yang menggemaskan, dan menua sama-sama," jawab Riko sambil tersenyum tulus.
"Kalau menurut kamu sendiri pernikahan impian itu seperti apa?" sambung Riko bertanya pada Kania.
"Dulu sewaktu aku kecil, aku ingin sekali menikah seperti prince dan princess mereka cantik dan tampan. Bahagia selamanya. Dan sekarang impianku bisa memiliki suami yang mencintaiku dengan tulus serta tetap menjadi dirinya sendiri rasanya sudah alhamdulillah sekali," kata Kania sambil menghela nafasnya dan menyandarkan punggungnya di kursi.
Riko pun tersenyum melihat Kania kecilnya dulu sudah berubah menjadi Kania yang memiliki pemikiran dewasa.
Pizza pesanan mereka pun datang, Kania dan Riko menikmati pizza mereka dengan canda tawa. Setelah selesai makan, Riko baru teringat bahwa dirinya belum sholat dzuhur .
"Kania, sudah jam 1 lebih. Apa kamu sedang tidak berhalangan?" tanya Riko pada Kania.
"Astaghfirullah kita belum sholat dzuhur ya mas saking asiknya main wahana," jawab Kania sambil menepuk dahinya.
"Ayok kita sholat di mushola sana," ajak Riko sambil menunjuk ke arah mushola yang berada di ujung jalan tersebut.
Setelah sholat, mereka meneruskan kembali liburan mereka sambil berjalan santai.
"Kania cerita padaku tentang hidupmu setelah aku pergi waktu itu?" tanya Riko antusias membuat Kania berpikir sejenak.
__ADS_1
"Setelah mas Riko pergi ke luar kota, beberapa bulan kemudian ayah mengajakku serta ibu pindah dari kampung ke kota ini, namun posisinya agak terpencil. Usaha yang ayah bangun mulai maju lalu kami pun pindah ke rumah mewah yang tak jauh dari rumah mas Reza. Dulu ayahku dan om Vino memiliki hubungan baik. Sayangnya, karena ambisi ayah ingin sukses, sukses dan sukses ia pun merasa iri dengan kesuksesan yang om Vino dapatkan. Bahkan om Vino mendapat dukungan penuh dari kakekku sedangkan ayahku tidak sama sekali."
"Hingga suatu hati perusahaan ayah berkembang sangat pesat, tapi disitu ayah diuji dan hadirlah sosok Diani yang membuat ayah jadi menjauh dari aku dan ibu. Lalu aku dan ibu memilih untuk kembali ke rumah kami yang sebelumnya. Dari sejak aku masuk SMP sampai masuk SMK ayah gak perduli dengan ku ataupun ibu. Hingga saat itu..." jelas Kania panjang lebar namun saat Kania ingin meneruskan ceritanya, dipotong oleh Riko karena tak ingin membuat Kania menangis. Karena kejadian kematian ibunya Riko sudah tau semua.
"Sudah jangan diterusin lagi ya, cukup Kania. Aku gak mau bikin kamu sedih lagi," ucap Riko lembut dan Kania pun menganguk.
"Kalo mas Riko bagaimana?" tanya Kania.
"Saat mas pindah ke kota ini, usaha papah mengalami kebangkrutan beruntung mas bertemu dengan tuan Vino dan nyonya Yusti yang mau membantu dan sangat berjasa untuk keluarga mas. Dan Reza adalah teman baik mas saat kuliah, karena kami dari sekolah yang berbeda sebelumnya. Mas sekolah di sekolah negeri biasa dan Reza sekolah di sekolah swasta khusus kalangan pengusaha kaya. Hidup mas juga gak mudah, tapi mas terus berusaha supaya mas bisa lebih baik lagi dari mas yang dulu. Makanya sekarang mas mengabdi pada keluarga Reza sebagai tanda terima kasih mas pada keluarga Reza. Dan Reza juga orangnya asik, namun kalau yang tidak mengenalnya dan ada yang mengkhianatinya dia gak segan-segan menggunakan kekuasannya untuk menghancurkan orang tersebut," kata Riko panjang lebar membuat Kania tersenyum kagum.
"Sekarang orang tua mas dimana?" tanya Kania.
"Sekarang mereka memilih usaha di kampung Kania, tempat kecil kita dulu," jawab Riko.
"Oh iya, boleh aku menemui orang tua mas?" tanya Kania dengan mata berbinar.
"Untuk apa kamu mau bertemu kedua orang tuaku?" tanya Riko pura-pura ketus pada Kania membuat Kania mengerucutkan bibirnya.
"Ih mas mah gitu, aku mau bilang terima kasih karena sudah melahirka dan mendidik mas menjadi orang yang memiliki tanggung jawab serta.." jawab Kania sambil memukul pelan lengan Riko dan Riko pun terkekeh kemudian belum sempat Kania meneruskan perkataannya, lagi-lagi harus dipotong oleh Riko.
"Tampan maksud kamu?" tanya Riko sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Kania hanya tersipu malu karena Riko mengerti arah pembicaraannya.
"Ayok kita lanjutkan lagi liburan kita disini," ajak Riko sambil mengulurkan tangannya pada Kania dan Kania pun menyambutnya.
Mereka menikmati hari ini dengan rasa bahagia yang tidak bisa ternilai dengan apapun. Akhirnya saat hari sudah semakin sore, tanda malam akan datang. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
__ADS_1
Bersambung..