Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 116 : Meresahkan


__ADS_3

"Agis koma mah dan anak kami sedang observasi di dalam tabung incubator karena berat badannya belum mencapai normal," jawab Reza sambil duduk di kursi.


"Astaghfirullah Agis semoga kamu cepat melewati masa kritismu nak," ucap Rachima dengan air matanya yang sudah tidak bisa dibendung lagi.


Mereka pun menunggu di depan ruang operasi. Tak lama dokter dina pun keluar dengan dua orang suster.


Reza langsung berdiri dan menghampiri dokter Dina diikuti yang lainnya.


"Dok bagaimana keadaan istri saya dan anak kami?" tanya Reza.


"Ibu Agistha masih belum sadar dari masa kritisnya dan sekarang ia sudah kami pindahkan ke ruang ICU. Untuk anak bapak selamat ya anak kalian laki-laki, tampan dan sempurna. Selama berat badan belum mencapai normal, anak bapak masih berada di dalam tabung incubator. Nanti setelah ibu Agistha sadar, ibu Agistha harus memompa ASInya untuk kebutuhan si kecil dalam menaikkan berat badan dan menghindarkan terjadinya kelebihan bilirubin yang membuat tubuh si anak menguning," jelas dokter Dina dan mereka pun mengangguk paham.


"Baik kalau begitu saya permisi bapak, ibu," sambung dokter Dina.


"Terima kasih dok," ucap Reza.


"Sama-sama, mari," kata dokter Dina kemudian pergi dari hadapan mereka.


🌾


Malam pun telah tiba, Rukman, Rachima, Yusti dan Vino serta Kania dan Riko pamit untuk pulang terlebih dahulu, sedangkan Reza masih setia mundar mandi dari ICU dan juga ruang khusus bayi.


Saat Reza tengah menemani Agistha di dalam ruang ICU, tiba-tiba tangan Agistha pun bergerak. Reza langsung tersentak dan mengembangkan senyumannya.


Reza menekan tombol yang berada di samping tempat tidur Agistha. Tak lama dokter Dina pun masuk ke dalam dengan dua orang suster.


"Maaf pak, bapak tunggu diluar dulu ya biar ibu Agistha saya yang periksa," ucap dokter Dina dan Reza pun mengangguk lalu keluar dari ruang ICU.


Reza terus berdoa dala hatinya berharap yang terbaik untuk Agistha dan juga anak laki-lakinya.


Beberapa saat kemudian, dokter Dina pun keluar dari ruang ICU.


"Dok bagaimana keadaan istri saya?" tanya Reza.


"Alhamdulillah, istri bapak sudah melewati masa kritisnya dan sekarang bisa dipindahkan ke ruang rawat inap," jawab dokter Dina membuat Reza langsung mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil mengucap hamdalllah.


"Terima kasih banyak dok atas bantuannya," ucap Reza.


"Sama-sama pak karena itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami, kalau begitu kami permisi, mari," kata dokter Dina lalu ia pun pergi dari hadapan Reza.


Reza langsung mengurus perpindahan Agistha ke ruang rawat inap.


🌾

__ADS_1


Setelah selesai Reza langsung menemui Agistha yang masih berada di ruang ICU.


"Assalamualaikum istriku tersayang," ucap Reza sambil tersenyum pada Agistha.


Agistha membalas senyuman Reza.


"Waalaikumsalam," kata Agistha dengan nada suara yang masih lemah.


"Sayang apakah anak kita baik-baik saja?" tanya Agistha.


"Tentu sayang dan setelah ini kamu harus memberinya ASI biar banyak supaya berat badan ana kita bisa mencapai angka normal," jawab Reza membuat Agistha bernafas lega.


"Syukurlah, aku ingin melihatnya sayang," ucap Agistha.


"Nanti ya, setelah kamu dipindahkan ke ruang rawat inap," kata Reza sambil mengelus lembut kepala Agistha lalu mencium kening istrinya.


"Terima kasih sayang, kamu telah melahirkan anak laki-laki yang tampan sepertiku," sambung Reza dengan percaya diri membuat Agistha menahan tawanya.


"Aw! sakit sekali," pekik Agistha.


"Apa yang sakit sayang?" tanya Reza seketika menjadi panik.


"Bagian bawahku sayang sepertinya jahitan operasi jadi aku tidak bisa tertawa," jawab Agistha membuat Reza langsung mencium kening Agistha lagi.


"Makasih ya sayang sudah menjadi suami dan daddy yang terbaik untuk kami," kata Agistha dan Reza pun mengangguk.


Tak lama dua orang perawat masuk ke dalam ruang ICU.


"Permisi pak, pasien akan kami pindahkan sekarang ke ruang rawat inap," ucap salah satu perawat.


"Iya silahkan," kata Reza.


Perlahan Agistha diangkat dan dipindahkan ke tempat tidur yang akan ia pakai di ruang rawat inap. Agistha meringis kecil saat jahitannya terasa sakit.


Reza merasa tidak tega dengan apa yang tengah dialami Agistha berusaha untuk selalu ada di samping Agistha. Saat Agistha keluar dari ruang ICU, Rachima dan Rukman datang menghampiri Reza.


"Za, apakah Agis sudah sadar?" tanya Rukman.


"Alhamdulillah sudah pah, ini mau di pindahkan ke ruang rawat inap," jawab Reza membuat Rukman dan Rachima bisa bernafas lega.


"Alhamdulillah," ucap Rukman dan Rachima bersamaan.


"Ayo pah, mah kita ke ruang rawat inap," ajak Reza dan mereka pun berjalan menuju ruang rawat inap Agistha.

__ADS_1


Sesampainya di ruang rawat inap, tempat tidur Agistha langsung di setting senyamannya Agistha.


"Mah, pah," ucap Agistha lalu mencium punggung tangan Rachima dan Rukman bergantian.


"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya Rachima dengan nada lembut sambil mengelus kepala Agistha.


"Alhamdulilla sudah lebih baik mah, tapi luka jahitannya masih terasa sangat sakit sekali," jawab Agistha.


"Tak apa sayang, karena kan baru beberapa jam yang lalu operasinya. Mamah yakin Agis kuat kok," ucap Rachima dan Agistha pun mengangguk.


"Permisi, bu ini alat pompa ASI. Setelah makan malam, ibu pompa ya ASI ibu supaya anak ibu bisa segera keluar dari tabung incubator," kata perawat yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap Agistha.


"Iya sus, makasih banyak ya," jawab Agistha.


"Sama-sama bu, kalau begitu saya permisi, mari," ucap perawat itu lalu pergi meninggalkan kamar Agistha.


Agistha pun makan malam sambil disuapi oleh Reza.


"Dihabiskan ya sayang supaya ASInya cepat keluar dan baby bisa kenyang," ucap Reza saat menyuapi istrinya.


"Iya sayang," jawab Agistha.


Beberapa saat kemudian, Agistha telah menghabiskan makan malamnya begitu pun dengan Reza. Lalu ia pun mulai memompa ASInya dibantu dengan Rachima. Reza juga ikut memperhatikan.


"Aw! kenapa rasanya sakit sekali mah? sampai jahitanku terasa ikut ketarik," pekik Agistha sambil merintih kesakitan.


Reza tak tega melihat Agistha kesakitan ia pun penasaran.


"Mah apakah rasanya sakit sekali?" tanya Reza.


"Iya, hanya awalnya saja lama-kelamaan juga tidak kok," jawab Rachima santai.


"Agis harus tenang dan santai biar ASInya keluar banyak," sambung Rachima sambil memijat bagian punggung Agistha dan melakukan refleksi supaya Agistha lebih nyaman.


"Dulu wakti mamah habis melahirkan, papah sering memijat mamah seperti ini. Dan alhamdulillah ASI mamah pun keluar banyak walaupun belum ada sehari setelah melahirkan," ucap Rachima sambil terus memijat Agistha.


"Oh iya kalian sudah ada nama untuk nama baby boy?" tanya Rachima.


"Sudah kok mah," jawab Reza.


"Siapa namanya ?" tanya Rachima penasaran dan Rukman yang berada di balik tirai juga penasaran ikut mendengar kan.


"Namanya.. "

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2