
~RS Kartika Betari
Agistha dan Kania baru saja sampai di depan lobby rumah sakit bersamaan dengan Reza dan Riko. Tadi setelah urusan dengan Johan dan Vania selesai, keduanya pun langsung memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.
"Mas, bukannya tadi..." ucap Agistha yang belum sempat meneruskan kata-katanya namun sudah dipotong oleh Reza.
"Sudah, jangan dipikirkan," kata Reza dan Agistha langsung mencium telapak tangan Reza lalu Reza mencium kening istrinya.
Kania dan Riko pun saling bertukar pandang dan tersenyum.
"Ayok mas, mamah udah nunggu didalam," ajak Agistha kemudian mereka pun masuk ke dalam.
Sesampai di depan ruang ICU, disana sudah ada Vino yang sedang duduk bersama Rachima.
"Mamah, papih," ucap Reza dan Agistha bersamaan.
Mereka pun menghampiri Vino dan Rachima kemudian mencium punggung tangan keduanya bergantian.
"Mamih gak ikut pih?" tanya Reza pada Vino.
"Mamih masih di butik, tadi sudah papih telepon untuk kemari paling sebentar lagi sampai," jawab Vino.
"Mah, papah kenapa kok tiba-tiba bisa sesak nafas dan tubuhnya mengigil?" tanya Agistha lembut dengan perasaan yang di penuhi oleh kekhawatiran.
"Mohon maaf sebelumnya kalau saya kurang sopan, saya ingin meluruskan disini," jawab Riko sebelum Rachima menjawab pertanyaan Agistha.
Semuanya pun memasang wajah serius untuk mendengarkan Riko bicara.
"Hari ini ada kejadian yang fatal banget di kantor. Ini ada hubungannya dengan kecelakaan tuan Rukman kemarin setelah makan siang itu di cafe Ritmik. Di sekolah SMK Betari, ada satu anak kelas 2 jurusan AP yang magang di perusahaan kami namanya Vania Glandine. Tanpa sepengetahuan kami, pak Johan diam-diam mengganti peserta magang itu yang tadinya masih kerabat dekat keluarga Navanka menjadi Vania itu. Dan tadi pagi saya dan pak Reza mendapat proposal pengajuan kerjasama dengan RivalSway yang mana pemiliknya adalah Rivaldi," ucap Riko panjang lebar membuat Rachima langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
__ADS_1
"Ternyata Rivaldi masih menyimpan dendam terhadap mas Rukman, ini gak bisa di biarkan," ucap Rachima dalam hatinya saat mendengar kata Rivaldi.
"Sesampai kami di cafe tersebut ternyata benar, Rivaldi telah menaruh orang-orangnya untuk berusaha mencekalai kami. Beruntung saya sudah menyadarinya lebih dulu, jadi saya langsung pergi melajukan mobil kecencang mungkin supaya bisa menjauh lebih cepat dari cafe tersebut. Sesampai di kantor saya menghampiri Vania yang sat itu sedang sendiri di ruangan bu Nadin dan ternyata dia diam-diam membuka sistem data pegawai, ia melihat password sistem lewat buku catatan bu Nadin yang ia temukan laci ruangan dan merombak ulang data tersebut. Dan sekarang pak Johan dan Vania sudah di bawa ke kantor polisi," sambung Riko membuat mereka semua mengerti sekarang.
"Br*ngs*k! Rivaldi benar-benar membuatku geram sekarang! ucap Rachima sambil mengepalkan kedua telapak tangannya.
"Sabar mah, kita pasti bisa mengalahkannya kok, toh sekarang lawab kita nyata bukan hal halus lagi, iya kan mas?" kata Agistha menenangkan Rachima dan bertanya pada Reza.
"Iya mah benar, langkah kita selanjutnya adalah menangkap Rivaldi dan mencari keberadaan Devi istrinya. Pasalnya kata Vania kedua orang tua mereka sudah menikah sejak Vania kelas 1 SMK dan Vania sendiri tidak tau keberadaan Devi sekarang dan Rivaldi pun sedang tidak dirumah. Namun mata-mata Rivaldi sangat banyak disini," jawab Reza serius.
"Baiklah, begini saja sampai keadaan Rukman membaik. Reza kamu bantu Gigih di Navanka Corp. papih yakin sekarang Gigih begitu kuwalahan menghandle perusahaan sendirian walaupun banyak staf yang membantu tetap saja pekerjaan seorang CEO tidak mudah seperti kelihatannya. Dan nanti di Andar Corp. biar papih yang pegang dibantu dengan Riko, bagaimana setuju?" usul Vino. Reza pun tampak berpikir sejenak dan akhirnya ia pun angkat bicara.
"Baik pih kalau begitu, nanti biar Reza sekalian jadi guru privat Agis untuk soal perusahaan. Biar suatu saat nanti Agis bisa meneruskan perusahaan papah," jawab Reza sambil mengedipkan sebelah matanya pada Agistha membuat Agistha tersipu malu.
"Kapan polisi akan bertindak Za?" tanya Vino.
"Sesegera mungkin pih, dan untuk Vania dan Johan bagaimana mah? semua keputusan ada ditangan mamah," jawab Reza kemudian bertanya pada Rachima.
Rachima yang tadinya sangat terpukul dengan kondisi Rukman dari mulai kecelakaan kemarin hingga saat ini. Sekarang dirinya harus bangkit, karena tujuannya saat ini ia harus menang melawan Rivaldi yang sudah sangat keterlaluan.
Tak lama Yusti dan Gigih pun baru saja tiba di rumah sakit, langsung menghampiri mereka.
"Maaf ya jeng, aku ikut sedih dengan keadaan Rukman sekarang," ucap Yusti sambil memeluk Rachima.
"Iya jeng tidak apa-apa, makasih ya udah mau datang ke sini," kata Rachima dan keduanya saling melepaskan pelukan mereka lalu tersenyum.
"Jeng kamu inget gak sama Rivaldi?" taya Rachima pada Yusti membuat Yusti mengerutkan kedua alisnya sambil mengingat-ngingat.
"Rivaldi yang dulu ngejar-ngejar kamu terus ya jeng?" tanya Yusti yang sudah mulai ingat.
__ADS_1
"Iya jeng, dan dia dalang dibalik semua ini. Dia yang sudah mencelakai Rukman dan juga hampir mencelakai Reza dan juga Riko di cafe yang sama," jawab Rachima lirih membuat Yusti tercengang.
"Rivaldi benar-benar sudah kelewatan! memang dari dulu aku gak pernah setuju kamu dengannya karena dia sejak awal hanya ingin memiliki niat buruk padamu dan terlalu terobsesi denganmu jeng," ucap Yusti yang ikut geram.
"Setelah kamu pergi lebih dulu ikut Vino ke Singapura hubungan kami sempat membaik bahkan aku, mas Rukman, Rivaldi dan istrinya Devi bersahabat. Namun kata Reza dari cerita Vania kalau Rivaldi itu pernikahannya dengan Devi sudah kandas 1 tahun lalu dan rumah tangga mereka tidak pernah harmonis," kata Rachima sambil menghela nafas.
"Gih, bagaimana di kantor? aman?" tanya Vino memastikan.
"Sejauh ini sedikit-sedikit saya bisa handle namun terkadang masih menelepon pak Rukman untuk ikut membantu pak," jawab Gigih.
"Oh iya, mulai besok untuk sementara waktu kamu akan di bantu oleh Reza ya pengurus perusahaan Navanka sampai Rukman sembuh, bagaimana?" usul Vino pada Gigih.
"Nanti yang pegang Andara Corp. siapa pak Vino?" tanya Gigih memastikan.
"Kalau untuk Andara Corp. biar saya yang pegang, toh keadaan kedua perusahaan kita lagi genting selama Rivaldi dan Devi belum ditangkap dan dimasukkan ke dalam bui," jawab Vino.
"Saya merasa tidak keberatan, toh pak Reza orang yang cerdas dan cermat jadi saya yakin pak Reza bisa membantu memajukan Navanka Corp.," kata Gigih.
Beberapa saat kemudian dokter pun datang untuk memeriksakan kondisi Rukman.
"Permisi, apa bapak dan ibu ini adalah keluarga pak Rukman?" tanya dokter dan semuanya pun mengangguk.
"Saya akan memeriksakan kondisi pak Rukman terlebih dahulu ya bu, pak nanti setelah ini saya akan jelaskan hasil pemeriksaan saya pada bapak dan ibu sekalian," ucap dokter tersebut kemudian masuk ke dalam ruang ICU.
"Sayang, apa kamu sudah makan siang?" tanya Reza lembut pada Agistha dan Agsitha menggeleng lemah.
"Makan dulu yuk sayang aku juga laper nih ," ucap Reza dan Agistha pun mengangguk cepat.
"Semuanya, kami ke kantin dulu ya nanti gantian saja ya ke kantinnya," kata Reza dan semuanya pun mengangguk.
__ADS_1
Bersambung..