
Agistha telah sampai di depan ruang ICU tempat Reza dirawat, tapi Agistha sama sekali tidak melihat keberadaan Vino maupun Yusti. Agistha mencari ke ruang tunggu pun sama.
Padahal Agistha sadar sejak dari ruang rawat Kania, banyak sekali yang memandang Agistha namun Agistha tidak menghiraukannya, ia terus melangkahkan kakinya tanpa ragu. Seolah hatinya yakin didepan sana ada sebuah kebahagiaan yang selama ini ia nantikan.
Agistha masuk ke ruang ICU setelah memakai baju steril lengkap. Agistha memandang Reza dengan penuh harap bahwa Reza akan membuka matanya.
"Assalamualaikum mas, rasanya sehari tanpamu aku tak sanggup. Aku ingin terus bersamamu, mas tau? harusnya hari ini kita menikah, tapi sayangnya pernikahan kita batal hari ini. Tapi aku akan tetap setia menunggumu mas, menunggu kamu membuka mata dan tersenyum padaku. Aku kangen kamu mas," ucap Agistha pada Reza yang masih terbaring lemah dengan alat-alat disekujur tubuhnya. Tanpa terasa air mata pun jatuh membasahi pipi mulus Agistha.
Agistha tidak tahu kalau sebenarnya Reza sudah sadarkan diri 10 menit yang lalu dan ia pun sudah diperiksa keadaannya oleh dokter. Bahkan ia bersekongkol dengan dokter untuk berpura-pura didepan Agistha dan kedua orang tuanya.
Reza sebenarnya ingin tertawa melihat wajah Agistha yang begitu sendu. Namun dengan sekuat mungkin ia tahan supaya aktingnya berhasil. Lama kelamaan Reza menjadi tak tega, ia buka matanya perlahan dan melanjutkan aktingnya kembali.
"Siapa kamu?" tanya Reza dengan suara seraknya membuat Agistha tersentak kaget bercampur rasa bahagia.
"Mas ini aku Agistha tunangan mas Reza," jawab Agistha.
"Tu-tunangan? apa aku sudah bertunangan?" tanya Reza membuat hati Agistha sedikit tersentil.
__ADS_1
"Apa mas Reza hilang ingatan, tapi mana mungkin? bukankah hasil diagnosa kemarin mengatakan bahwa memori otaknya tidak bermasalah," kata Agistha dalam hatinya.
Agistha tidak menjawab pertanyaan Reza, ia justru malah menangis karena tak tau harus menjawab apa dan darimana ia harus menjelaskannya. Akhirnya Agistha pun menarik nafas, mencoba menenangkan pikirannya.
"Mas, aku tunangan mas. Mas yang sudah melamar aku 1 minggu lalu. Mas tau? seharusnya hari ini adalah hari pernikahan kita," jawab Agistha dengan perlahan.
"Kenapa aku bertunangan denganmu? kalau dilihat kamu sepertinya masih sekolah," tanya Reza lagi membuat Agistha terus memperbanyak rasa sabarnya.
"Karena ada satu hal yang membuat pernikahan kita dimajukan, lebih baik aku akan memanggil dokter," jawab Agistha yang kemudian menekan tombol yang berada di samping ranjang Reza.
Tak lama dokter pun datang bersama dua orang suster. Agistha yang masih tidak percaya kalau Reza hilang ingatan mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya. Agistha diminta untuk keluar ruangan karena dokter akan memeriksakan kondisi Reza.
"Pak Reza apakah ini tidak terlalu keterlaluan? anda baru saja sadar dari koma, kenapa anda membuat kekasih anda merasa tersakiti? apa anda tidak takut dengan karma?" ucap dokter dengan seberondong pertanyaan.
"Ah iya, saya takut dok. Tapi saya ingin melihat seberapa besar cintanya pada saya," jawab Reza dengan senyum diwajahnya. Walaupun kondisi tubuhnya masih lemah namun sudah semakin membaik.
"Apakah saya sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat dok?" tanya Reza.
__ADS_1
"Tentu, setelah ini saya akan memberitahukan pada kekasih anda dan juga kedua orang tua anda, kalau begitu saya permisi," jawab dokter tersebut dan Reza pun mengangguk.
Diluar ruang ICU dokter melihat Agistha tengah menangis tersendu-sendu dipelukan Yusti. Dokter pun menghampiri Yusti.
"Permisi, dengan orang tua pak Reza?" tanya dokter pada Yusti.
"Iya dok, ada apa?" ucap Yusti dan Agistha pun melepaskan pelukannya.
"Begini, pak Reza mengalami amnesia namun masih dibilang ringan. Sebagian memorinya ada beberapa yang terhapus dan saran saya ibu maupun nona bisa membantu pak Reza untuk mengingat kembali tentang kejadian sebelum kecelakaan itu," jelas dokter membuat Yusti mengangguk mengerti.
Sebenarnya dokter itu ingin sekali tertawa dan tak tega, namun ia harus perfect dengan acting nya.
"Pak Reza juga bisa sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap, silahkan ibu menyelesaikan administrasinya ya, kalau begitu saya permisi," kata dokter itu kemudian berpamitan sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Agis, temani mamih ke tempat administrasi yuk," ajak Yusti dan Agistha pun mengangguk. Masih dengan mata sembab karena habis menangis, Agistha berjalan sambil menundukkan wajahnya sesekali ia masih mengusap air matanya.
Setelah urusan administrasi selesai, dan sekarang Reza pun sudah berada di ruang rawat inap kelas VVIP untuk proses penyembuhan. Reza yang masih terdiam tak banyak bicara tapi lebih banyak tidur karena memang tubuhnya masih terasa lemas dan belum bisa digerakkan secara bebas. Reza masih menunggu waktu yang tepat untuk memberitahukan yang sebenarnya.
__ADS_1
Bersambung..