Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 35 : Sebuah Ujian


__ADS_3

Setelah dari pemakaman, mereka menuju rumah sakit. Beberapa menit kemudian, mobil pun sampai di lobby rumah sakit. Mereka turun dari mobil dan berjalan bersamaan. Tangan hangat Rachima menggenggam tangan Agistha yang masih terus terdiam.


"Siapa yang mau masuk duluan melihat Reza?" tanya Vino saat semuanya telah sampai di depan ruang ICU.


"Tuan maaf, saya ke ruang rawat Kania terlebih dahulu ya," pamit Riko dan kemudian pergi ke ruangan Kania.


"Pak Vino bolehkah saya dulu menjenguk nak Reza?" tanya ustadz Fahri.


"Silahkan pak ustadz kalau begitu," ucap Vino mempersilahkan ustadz Fahri masuk ke dalam sedangkan yang lainnya menunggu di luar karena hanya diperbolehkan satu orang saja yang masuk.


Diluar ruangan, Agistha duduk masih dengan wajah yang murung. Anak ustadz Fahri yang bernama Kalila pun menghampiri Agistha setelah meminta izin pada suaminya.


"Hai, namaku Kalila," ucap Kalila memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Agistha kak," jawab Agistha dengan senyum tipis sambil meraih uluran tangan Kalila.


"Jangan panggil kak, kita seumuran kok," ucap Kalila tersenyum.


"Seumuran?" tanya Agistha heran.


"Iya, usiaku 18 tahun dan satu tahun yang lalu aku menikah saat usiaku 17 tahun," jawab Kalila.


"Jelas kakak 1 tahun diatas aku kok," imbuh Agistha terkekeh.


"Anggap saja kita seumuran toh kita bisa berteman bukan? panggil namaku saja ya," ucap Kalila dan Agistha pun mengangguk.


"Senang berkenalan denganmu Kalila," kata Agistha.


"Aku dengar cerita banyak dari abi tentangmu dan keluargamu, aku begitu takjub padamu dengan kelebihan yang kamu miliki kamu masih mampu mengontrol emosi yang ada di diri kamu sendiri, kalau aku jadi kamu aku gak bisa, ya karena aku bukan kamu," ucap Kalila terkekeh.


"Yah begitulah Kalila, aku sendiri saja sampai nggak habis pikir sudah sejauh ini perasaanku padanya, saat hari bahagia kita telah didepan mata tiba-tiba musibah itu datang," kata Agistha lirih. Entah kenapa berbicara dengan Kalila terasa nyaman, ia merasa ada sosok Alika didalam diri Kalila.


"Terkadang ujian pernikahan itu datang sebelum adanya pernikahan itu sendiri. Kalau kita kuat dan bisa melewatinya dengan lapang dada, insyaallah Allah akan mudahkan segalanya. Allah hanya ingin lihat serindu apa kamu dengan-Nya, sedekat apa kamu dengan-Nya. Makanya Allah memberimu ujian yang mungkin tak banyak orang yang mampu mengahdapinya. Tetaplah istiqomah, kalau memang Reza jodohmu pasti takkan kemana. Ia akan kembali padamu dalam sehat iman dan islamnya. Percaya deh cinta dan kasih sayang Allah akan semakin terasa jika kamu terus mendekat pada-Nya," ucap Kalila yang sangat dewasa pemikirannya, karena ia pun pernah melewati masa sulit walaupun tak sesulit hidup Agistha. Ia yakin setiap ujian yang Allah kasih padanya pasti Allah punya alasan sendiri karena hamba-Nya mampu menghadapinya.


Agistha langsung memeluk Kalila, ia sangat merindukan sosok Alika sebagai kakak perempuannya.

__ADS_1


"Terima kasih telah membuka mata hatiku Kalila, kamu memang wanita yang sangat lembut. Sangat beruntung sekali suamimu memilikimu Kalila," ucap Agistha dalam pelukannya.


~Ruang ICU


Ustadz Fahri melihat Reza seperti kehilangan arah, ia mencoba untuk membantu Reza kembali ke raganya. Perlahan tapi pasti. Setelah selesai, ustadz Fahri pun keluar ruang ICU.


Di ruang tunggu, cukup lama Agistha dan Kalila berpelukan dan akhirnya melepaskan perlukan itu karena melihat ustadz Fahri keluar dari ruang ICU.


"Kalila, aku ingin menemui mas Reza ya," ucap Agistha dan Kalila pun mengangguk.


"Boleh gak kalau Agis masuk ke dalam?" tanya Agistha ragu.


"Boleh dong sayang, silahkan," jawab Yusti lembut dan Agistha pun masuk ke dalam.


"Assalamualaikum mas, aku datang lagi. Rasanya ingin sekali aku disini menemanimu. Mas buka matamu, aku disini menunggumu. Menunggu senyummu, menunggu tawamu, bukankah mas udah janji mau jagain aku? oh iya mas, aku punya temen baru namanya Kalila, dia anak ustadz Fahri, dia cantik dan memiliki suami yang sholeh juga. Mas bangun dong, nanti aku kenalin sama temen baru aku, aku lebih suka mas yang cerewet daripada diam seperti ini," ucap Agistha sambil menitikkan air matanya. Agistha mengenggam erat tangan Reza sambil menundukkan kepalanya dan menangis lirih.


Beberapa saat kemudian saat hati Agistha mulai lebih tenang, Agistha pun pamit pada Reza dan berjanji besok akan mengunjunginya lagi. Agistha pun keluar ruang ICU dengan wajah sembab. Rachima yang menyadari itu langsung menghampiri Agistha.


"Sayang, sudah lebih baik kita banyak berdoa untuk kesembuhan Reza ya," ucap Rachima dan Agistha mengangguk pelan.


Hari pun mulai beranjak sore, ustadz Fahri dan keluarganya pamit untuk pulang ke rumah begitu juga dengan keluarga Navanka. Sedangkan Yusti dan Vino bergantian masuk menemui Reza.


"Assalamualaikum," ucap Rachima, Rukman dan Agistha bersamaan.


"Waalaikumsalam," jawab Kania dan Riko bersamaan.


"Bagaimana keadaanmu nak?" tanya Rachima menghampiri Kania yang sedang makan disuapi oleh Riko.


"Alhamdulillah baik tante. Om, tante makasih banyak yan udah banyak bantu Kania bisa pulang kesini lagi," ucap Kania dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Sama-sama sayang. Setelah kamu sembuh, kamu bisa sekolah lagi bareng Agistha. Kamu bisa tinggal dirumah kami dan Agistha ada temannya, bukan begitu Agis?" ucap Rachima lalu bertanya pada Agistha.


"Iya betul itu Kania, aku gak merasa sendirian lagi kalau lagi belajar," jawab Agistha antusias.


Cukup lama berbincang-bincang keluarga Navanka pun pamit pulang ke rumah.

__ADS_1


🌾🌾🌾


Keesokan harinya..


~Kediaman Navanka


Agistha bangun dari tidurnya, meregangkan otot-ototnya yang kaku. Setelah pemakaman kemarin, hari ini Agistha memutuskan untuk ke rumah sakit kembali untuk melihat kondisi Reza dan Kania.


Karena hari ini weekend, Rukman dan Rachima sedang asik bersantai di taman belakang rumah ditemani gemercik air mancur dan juga burung kenari peliharaan Rukman.


"Sejuk sekali ya mah hari ini, tidak terlalu terik sangat nyaman untuk bersantai dirumah seperti ini," ucap Rukman sambil menyeruput teh hijaunya.


"Iya pah, aku jadi terbesit dipikiraku melihat Alika, Agistha dan Alfian sedang berlari-lari didepan kita bercanda tawa bersama. Menikmati hari libur dengan penuh suka cita," kata Rachima sambil menatap ke depan membayangkan apa yang ia pikirkan.


Rukman begitu paham perasaan Rachima saat ia mengatakan hal itu, bagaimanapun ia juga merasakan sebagai orang tua kehilangan seorang anak darah dagingnya sendiri untuk selama-lamanya bahkan tak pernah ia sentuh lagi raganya.


Rukman langsung memeluk hangat Rachima, mengusap lembut punggung Rachima membuat ia begitu nyaman di pelukan Rukman. Agistha yang baru saja turun dari kamarnya ingin menghampiri kedua orang tuanya di taman belakang rumah, melihat mamah dan papahnya ikut merasakan terharu dan rindu pada Alika serta Alfian.


Walaupun Agistha sering bertemu dengan jiwa Alika dan Alfian namun dirinya juga sama tak bisa memeluk kedua saudaranya yang sudah tiada. Air mata pun lolos dari mata cantik Agistha. Seketika Agistha langsung menghapus air matanya dan menghampiri kedua orang tuanya.


"Mamah, papah selamat pagi, indah sekali cuaca hari ini," sapa Agistha membuat Rukman dan Rachima tersentak kaget langsung perlahan melepaskan pelukan mereka.


"Pagi-pagi disuguhi pemandangan yang begitu harmonis membuat aku jadi ikut bahagia," lanjut Agistha membuat Rukman dan Rachima saling bertukar pandang lalu terkekeh.


"Sini sini, anak gadis kecil kita sudah besar ternyata pah," ucap Rachima sambil menoleh ke arah Rukman.


"Iya mah, ngomong-ngomong kamu sudah rapih gini mau kemana?" tanya Rukman pada Agistha.


"Aku mau ke rumah sakit mah, pah mau ketemu mas Reza sama Kania. Apa kalian mau menemaniku?" tanya Agistha sambil mengejapkan puppy eyes miliknya.


"Baiklah ayok pah kita bersiap dulu, tapi sebelum ke rumah sakit kita berkunjung dulu ke makam Alika dan Alfian ya pah," ucap Rachima dan Rukman pun mengangguk.


1 jam kemudian


Keluarga Navanka baru saja tiba di tempat pemakaman mewah. Tujuan mereka kesini untuk berkunjung ke makam anak-anak mereka.

__ADS_1


Doa yang tulus mereka kirimkan untuk Alika dan Alfian. Setelah selesai memanjatkan doa, mereka pun menuju rumah sakit.


Bersambung..


__ADS_2