Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 41 : Menyatakan Perasaan


__ADS_3

Semenjak Agistha pergi dari kamar rawat Kania beberapa jam yang lalu. Kini Kania masih tersipu malu karena Riko memberikannya bucket bunya mawar yang besar dan cantik.


"Kania, sejak lama aku menunggumu. Menantimu hadir kembali di hidupku. Aku mencintaimu Kania. Maukah kamu menemaniku dan menjadi cinta yang terakhir dalam hidupku?" ucap Riko dengan penuh keberanian.


"Kak," ucap Kania yang masih berpikir keras.


"Apa kakak sudah yakin dengan perasaan kakak? apa kakak gak akan pernah menyesal?" tanya Kania menyakinkan hatinya karena tak ingin terlalu terjatuh pada lubang yang sama saat ia dulu pernah dikhianati.


"Insyaallah aku yakin Kania, bagaimana denganmu?" tanya Riko mantap.


Kania terdiam sejenak, "bismillah, Kania mau menerima kak Riko jadi pasangan Kania," jawab Kania membuat mata Riko berbinar-binar.


Riko langsung memeluk Kania, tak terasa air mata Kania pun jatuh begitu saja. Ada rasa haru, sedih, bahagia semua menjadi satu.


"Terima kasih Kania, aku akan berusaha membahagiakanmu," ucap Riko dalam pelukannya.


Beberapa saat mereka berpelukan mencurahkan segala yang ada di dalam hati mereka masing-masing. Dan akhirnya mereka melepaskan pelukannya.


TOKTOKTOK (suara ketukan pintu)


"Permisi, tuan dan nona saya mengantarkan sarapan untuk nona," ucap pelayan rumah sakit bagian makanan.


Pelayan itupun langsung merapihkan dan mengatur posisi Kania supaya dapat sarapan dengan nyaman. Setelah selesai, pelayan itu pun pamit keluar dari kamar Kania.


"Silahkan dinikmati nona, saya permisi," ucap pelayan tersebut.

__ADS_1


Saat pelayan sudah pergi, Riko berinisiatif membantu Kania makan.


"Biar aku siapin ya Kania," kata Riko lembut.


"Tak usah kak, Kania bisa makan sendiri kok, kan sekarang sudah sehat," ucap Kania menolak secara halus.


"Baiklah, dihabiskan ya," kata Riko sambil tersenyum.


"Apa kakak sudah sarapan?" tanya Kania saat akan menyendokkan makanan ke dalam mulutnya.


"Sudah, tadi sebelum kesini aku sarapan terlebih dahulu," jawab Riko.


"Oh iya, apa di apartemen kakak tinggal sendiri?" tanya Kania sambil memakan makanannya.


"Kalau urusan makanan dimasakin asisten atau masak sendiri kak?" tanya Kania kembali.


"Ya, tergantung. Kadang aku masak sendiri, kadang dimasakin dan kadang juga beli," jawab Riko.


"Dan yang paling sering beli sendiri bukan?" tanya Kania terkekeh.


"Hahaha kamu ini tau aja, ya namanya juga bujangan. Orang tuaku jauh di kampung jadi ya beginilah hidupku. Tapi kalau untuk ke club dan semacamnya pernah sesekali waktu Reza frustasi ditinggal oleh mantannya dulu," jelas Riko membuat Kania mengerutkan kedua alisnya.


"Pak Reza punya mantan kak?" tanya Kania seolah tak percaya.


"Punya, mantannya juga kenal baik kok sama aku," jawab Riko kemudian menceritakan soal Reza dan Maura dulu membuat Kania membulatkan matanya dengan sempurna.

__ADS_1


Kania tak menyangka bahwa ayahnya dalang dibalik semua ini. Pantas saja ayahnya begitu tega dengan ibunya waktu itu membuat Kania kembali mengingat memori kelam dalam hidupnya dulu.


Kania menangis sejadi-jadinya. Sebisa mungkin Riko berusaha menenangkan Kania. Ada rasa bersalah dalam hati Riko membuat Kania mengingat tentang masalalunya kembali.


"Kania maafin aku, aku gak maksud sayang. Maafin aku ya, aku akan berusaha membuat kamu bahagia mulai sekarang, jadi berhenti menangis ya dan kalaupun kamu mau menangis tidak apa-apa asalkan bukan karena aku dan hanya dihadapanku, aku hanya ingin dunia melihat kamu menjadi wanita yang paling bahagia sayang," ucap Riko yang memeluk Kania dengan erat, Kania pun merasa nyaman dipelukan Riko. Tangisannya oun mereda.


Saat Kania sudah mulai tenang, Kania pun membaringkan dirinya di ranjang dan mulai tertidur.


TOKTOKTOK (suara ketukan pintu)


"Assalamualaikum," ucap Rachima dan Agistha bersamaan.


"Waalaikumsalam," jawab Riko pelan karena tak ingin mengganggu waktu tidurnya Kania.


"Riko, gimana keadaan Kania?" tanya Rachima pada Riko.


"Alhamdulillah sudah semakin membaik, namun psikisnya masih belum stabil nyonya," jawab Riko.


"Syukurlah, oh iya kamu ke kamar rawat Reza sekarang ya di kamar VVIP no. 442," ucap Rachima dan Riko pun mengangguk.


"Baik nyonya saya akan segera kesana, saya titip Kania ya nyonya, Agis. Oh iya, Kania belum di periksa sama dokter soalnya tadi dokternya belum ada, dia baru saja selesai makan," kata Riko.


"Saya permisi nyonya, Agis," lanjut Riko sambil membungkukkan sedikit tubuhnya dan pergi dari kamar rawat Kania.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2