
“Bu-bukan soal itu mas, aku belum siap tapi mak-maksud aku dari hati ke hati,” jawab Agistha terbata-bata karena
sangat gugup sekali pasalnya Reza menggodanya sambil memberi tatapan seperti ingin memangsanya saat ini juga.
“Oh, aku kira tentang hal itu,” kata Reza sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal. Namun tiba-tiba Agistha
terdiam.
“Kok diam kenapa?” tanya Reza lembut.
“Aku hanya berpikir harus memulai darimana mas,” jawab Agistha sambil menundukkan kepalanya. Kemudian Reza pun malah tertawa dengan keras membuat Agistha langsung mengangkat cepat kepalanya.
“Ih mas kok ketawa sih, jahat,” ucap Agistha sambil mengerucutkan bibirnya dan Reza langsung menahan bibir
Agistha saat sedang dikerucutkan dengan tangan kanannya membuat Agistha kesulitan bicara dan Reza masih tak henti-hentinya tertawa.
PUK! “ih mas jahil,” pekik Agistha sambil memukul lengan Reza.
“Aw! Kamu galak juga ya kalau lagi marah sayang,” ucap Reza sambil memeluk Agistha sangat erat.
Akhirnya mereka pun terlelap dengan saling memeluk karena kelelahan bercanda dan juga kegiatan hari ini.
Namun dibalik itu semua, merupakan bagian dari sebuah memori kebahagiaan untuk keduanya.
Keesokan harinya, Agistha terbangun lebih dahulu. Ia langsung bergegas mandi dan memakai seragam
sekolahnya kemudian membangunkan Reza mengajaknya sholat shubuh berjamaah.
“Mas bangun sudah waktunya sholat shubuh,” ucap Agistha lembut sambil membelai kepala Reza.
Reza membuka matanya perlahan dan merubah posisi tubuhnya dari terbaring menjadi duduk.
“Iya sayang, tunggu aku ya jangan ketiduran lagi,” kata Reza.
“Iya mas,” jawab Agista terkekeh. Kemudian Reza pun turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Seperti
biasa, Agistha langsung merapihkan tempat tidurnya dan menyiapkan pakaian Reza.
30 menit kemudian
Keduanya telah siap dan keluar dari kamar lalu menuju ruang makan untuk sarapan. Sarapan pagi ini ada yang
berbeda karena Rukman dan Rachima masih berada di rumah sakit. Riko pun baru sampai kediaman Navanka untuk sarapan bersama. Kania yang baru saja menuruni tangga langsung bahagia mendengar Riko datang.
Agistha dengan telaten melayangi Reza sarapan tak lupa ia selalu membuatkan teh hijau hangat tanpa gula.
“Assalamualaikum pak bos dan ibu bos,” ucap Riko sambil memberikan hormat ala kerajaan.
“Waalaikumsalam,” jawab Reza, Agistha dan juga Kania bersamaan.
__ADS_1
“Rajin banget masih pagi sudah datang Ko?” ucap Reza kemudian melanjutkan sarapannya.
“Iya pak bos, mau nemenin Kania sarapan biar dia gak merasa jadi nyamuk diantara kalian saja,” jawab Riko
santai.
“Mas sudah sarapan belum?” tanya Kania pada Riko.
“Belum,” jawab Riko sambil memberikan senyumannya yang paling manis.
“Ayok mas sarapan dulu sini,” ajak Kania sambil menarik lengan Riko untuk duduk disebelahnya.
~RS Kartika Betari
Pagi ini dokter visit ke kamar rawat inap Rukman. Rachima baru saja selesai mandi namun tidak berganti karena
kemarin tidak membawa pakaian ganti. Semalaman Rachima terjaga karena harus mengolesi kaki Rukman yang terkilir seperti saran dokter.
“Permisi, diperiksa dulu ya pak,” ucap dokter tersebut bersama seorang perawat.
“Iya dok,” jawab Rukman kemudian tirai pun ditutup oleh perawat dan Rachima menunggu di sofa.
Di dalam tirai.
Dokter pagi ini sudah berganti dengan dokter jaga semalam. Dokter pun mulai memeriksakan Rukman
dari detak jantung, kondisi mata dan mulutnya serta luka di dahi dan juga kakinya yang terkilir.
“Alhamdulillah tidak dok, dan kaki saya juga sudah tidak terlalu sakit saat digerakkan,” jawab Rukman.
“Baiklah alhamdulillah ya pak, berarti siang ini bapak sudah bisa diperbolehkan untuk rawat jalan,” ucap dokter tersebut membuat Rukman bisa bernafas lega.
“Ada yang ingin ditanyakan pak?” tanya dokter.
“Dok kalau selama rawat jalan sudah boleh beraktifitas seperti biasa atau belum dok?” tanya Rukman.
“Saran saya selama 1 minggu ini lebih baik di rumah saja pak, sampai bengkak di kaki bapak sudah tidak bengkak dan seperti semula. Nanti minggu depan bapak check up kembali ke sini, insyaAllah luka yang bapak menurut saya tidak terlalu berbahaya dan juga parah jadi proses pemulihan bisa lebih cepat selama bapak tidak melakukan aktifitas berat selama seminggu ini,” jelas dokter tersebut dan Rukman pun tersenyum karena dahinya sedang diganti perbannya oleh perawat itu.
“Baik dok terima kasih,” ucap Rukman dan dokter tersebut tersenyum sambil menundukkan kepalanya, “sama-sama pak,” kata dokter.
“Baik kalau tidak ada yang ingin ditanyakan lagi saya permisi ya pak, semoga lekas sembuh pak Rukman,” sambung dokter itu dan Rukman pun mengangguk lalu perawat itu membuka tirainya kemudian keluar dari kamar rawat inap Rukman.
“Mari bu saya permisi,” pamit dokter pada Rachima dan Rachima pun tersnyum sambil menundukkan kepalanya.
Rachima yang mendengar perkataan dokter bahwa Rukman sudah bisa pulang hari ini langsung pamit pada Rukman setelah dokter keluar dari kamarnya untuk mengurus administrasi.
~Andara Corp.
Setelah mengantar Agistha dan Kania ke sekolahnya, kini Reza dan Riko baru saja tiba di kantor. Seperti biasa, Reza turun terlebih dahulu di lobby setelah itu Riko pun menyusul. Riko baru dapat kabar dari manager HRD bahwa hari ini akan kedatangan siswi magang dari sekolah yang sama dengan Agistha.
__ADS_1
“Pak, hari ini akan ada siswi magang dan bu Nadin minta persetujuan bapak untuk penempatan siswi tersebut di kantor ini,” ucap Riko saat dirinya sudah berada di ruangan Reza.
Reza tampak berpikir sejenak kemudian ia pun buka suara.
“Taruh saja di bagian bu Nadin Ko dan pastikan dia patuh dengan peraturan disini,” kata Reza tegas.
“Baik pak, oh iya jadwal bapak hari ini ada rapat mengenai kerjasama Navanka Corp. Dan Andara Corp. dan kebetulan pak Rukman sedang izin tidak bisa hadir jadi yang mewakili adalah pak Gigih sendiri,” ucap Riko.
“Baiklah, bilang saja sama pak Gigih nanti kita yang datang ke Navanka Corp. ,” kata Reza.
“Oke, kalau begitu gue ke ruangan gue dulu ya,” pamit Riko dan Reza pun mengangguk kemudian Riko keluar dari ruangan Reza.
Flashback on
~RS Kartika Betari
“Assalamualaikum pak,” ucap Gigih dari seberang telepon yang baru dapat terhubung dengan Rukman.
“Waalaikumsalam, maaf ya Gih baru aktif ponsel saya dan baru memberitahukanmu,” kata Rukman menjawab telepon dari Gigih.
“Iya pak, bagaimana keadaan bapak sekarang? Bapak di rumah sakit mana? Biar saya menemui bapak karena ada beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani,” tanya Gigih dengan penuh kekhawatiran karena Rukman sudah Gigih anggap seperti kakaknya sendiri.
“Alhamdulillah sudah membaik Gih, saya di RS Kartika Betari di kamar tulip no. 423, kamu kalau mau ke sini sekarang saja karena siang ini saya sudah bisa pulang ke rumah,” jawab Rukman.
“Alhamdulillah kemarin saya dapat kabar dari mang Ujang, tadinya mau langsung ke tempat bapak tapi ada beberapa meeting penting yang gak bisa ditinggal pak karena bapak tidak di kantor, saya ke sana sekarang ya pak, assalamualaikum,” kata Gigih.
“Iya Gih hati-hati berkendaranya, waalaikumsalam,” ucap Rukman kemudian ia pun memutuskan sambungan teleponnya.
Gigih pun langsung menghubungi Riko mengenai meeting hari ini dan Riko memberitahu kepada Reza terlebih dahulu mengenai tampatnya. Setelah menghubungi Riko, Gigih pun bergegas ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, Gigih memberikan beberapa berkas yang wajib ditanda tangani oleh Rukman, dan juga membicarakan tentang meeting hari ini dengan perusahaan Andara Corp. . Gigih pun melihat Rukman sudah segar kembali dan juga sudah bisa bangun dari tempat tidurnya walaupun masih pelan-pelan. Rukman menceritakan
kejadian yang telah menimpanya dan menyuruh Gigih untuk mengurus orang yang telah menabraknya yang sekarang berada di kantor polisi.
Flashback off
~Navanka Corp.
Kini Gigih sudah berada di kantor setelah tadi ke rumah sakit terlebih dahulu untuk menjenguk Rukman. Tiba-tiba ponsel Gigih berbunyi, dilihatnya ternyata Riko yang meneleponnya.
“Assalamualaikum Ko,” ucap Gigih menjawab telepon dari Riko.
“Waalaikumsalam pak, oh iya untuk meeting hari ini nanti biar kami saja yang ke perusahaan Navanka Corp. jam 11 ya pak,” kata Riko.
“Baik pak kalau begitu nanti sekalian makan siang di sini saja ya,” ucap Gigih.
“Iya pak, mungkin hanya itu yang saya sampaikan pada bapak, kalau begitu saya akhiri teleponnya ya pak, assalamualaikum,” kata Riko.
“Iya Ko, waalaikumsalam,” jawab Gigih kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Bersambung..