
Beberapa jam kemudian Agistha pun terbangun dari tidurnya karena merasa lapar. Ia turun dari tempat tidur perlahan karena tak ingin membangunkan Reza. Kemudian dirinya keluar kamar tak lupa memakai hijabnya kembali.
10 menit lagi waktu sholat maghrib pun tiba. Agistha pergi ke dapur tapi keadaan di vila sangatlah sepi. Ia merasa dejavu, seperti kejadian 1 tahun lalu saat ulang tahunnya ke 17.
Agistha mulai merasakan seseorang yang selalu mundar mandir seperti sedang mengawasinya. Agistha pun menoleh ke belakang namun tidak ada siapapun.
"Mungkin hanya perasaanku saja," pikir Agistha.
Ia membuka kulkasnya ternyata bahan makanan sangatlah lengkap. Ia pun tiba-tiba ingin membuat bolu susu sendiri. Agistha mulai membuat adonan bolu tersebut. Cukup lama ia berkutat di dapur, dan akhirnya bolu susu buatan Agistha sudah jadi. Tercium wangi susu yang begitu menggoda. Tak lupa ia tambahkan toping strawberry dan karamel diatasnya.
"Pasti rasanya enak, aku makan sajalah di kamar," ucap Agistha bermonolog sambil mencium wangi harum bolu susu buatannya.
Namun lagi-lagi saat ia menaiki tangga. Bayang-bayang selalu melesat di belakangnya. Agistha mempercepat langkahnya. Dan tiba di depan kamar, ia langsung masuk ke dalam dan menutup pintu. Nafasnya tersengal-sengal.
"Kenapa hawanya begitu membuatku takut? padahal selama ini aku melihat mereka biasa saja tak ada rasa takut. Kenapa kali ini berbeda?" tanya Agistha dalam hatinya.
Reza pun terbangun saat Agistha menutup pintu cukup keras.
"Ada apa sayang?" tanya Reza sambil terbangun dari tidurnya.
"Enggak ada apa-apa kok mas," jawab Agistha langsung menyunggingkan senyumannya.
"Kamu bawa apa itu sayang sepertinya sangat menggoda sekali?" tanya Reza sambil mencium wangi harum dari bolu yang Agistha bawa.
"Tadi aku lapar terus tiba-tiba ingin bolu kukus tapi kalau harus beli dulu lama jadi aku membuatnya saja, kebetulan semua bahan dikulkas sangat lengkap," jawab Agistha sambil menghampiri Reza dan duduk ditepi tempat tidur.
"Suapin," rengek Reza dan Agistha pun menyuapi Reza sambil tersenyum sangat manis.
"Enak banget loh sayang, kamu belajar darimana?" uca Reza kemudian bertanya pada Agistha.
"Aku sering bereksperimen kalau mamah sedang tidak ada dirumah, bi Niah yang selalu membantuku. Soalnya kalau ada mamah, pasti aku dilarang untuk mendekat ke dapur karena dulu aku hampir membuat dapur kebakaran," jawab Agistha sambil terkekeh.
Reza pun mengambil piring yang ditangan Agistha dan memakannya dengan begitu lahap. Tak terasa Reza menghabiskan satu loyang bolu susu yang Agistha buat tanpa tersisa. Agistha begitu tercengang dengan suaminya itu.
"Sayang kamu lapar atau doyan?" tanya Agistha sambil membukatkan matanya melihat piring yang di pegang Reza bersih tak tersisa.
__ADS_1
"Sepertinya dua-duanya sayang," jawab Reza kemudian meminum minuman yang berada di atas nakas tempat tidurnya.
Agistha enggan menceritakan kejadian yang ia alami saat keluar dan masuk kembali ke dalam kamar. Karena hatinya tak yakin kalau itu adalah orang dari dimensi lain.
Waktu maghrib pun tiba, Reza dan Agistha sholat berjamaah dan tak lupa mengaji karena vila ini baru saja mereka tempati. Setelah selesai sholat dan mengaji, keduanya pun tidur kembali.
Ruang Keluarga Vila
"Hampir saja kita semua ketahuan kalau sedang mendekor ruangan ini," ucap salah satu pelayan.
"Sudah-sudah segera selesaikan ya," ucap Gibran.
Semua para pelayan pun segera mengerjakan tugas mereka. Dan didepan vila mobil Rukman dan Vino pun baru aja sampai dan terparkir rapih di halaman vila.
Salah satu pelayan langsung menyuruh mereka masuk kedalam tanpa bersuara.
Pukul 00.00
Reza terbangun dari tidurnya kemudian ia pun turun dari tempat tidurnya secara perlahan supaya Agistha tidak terbangun. Reza langsung keluar kamar dan menghampiri kedua orangtuanya dan juga orangtua Agistha.
"Tadi kalau gak salah jam 10 ya Rukman," jawab Vino.
"Iya benar," timpal Rukman.
"Apa papah sudah membaik?" tanya Reza pada Rukman.
"Sudah nak, papah sudah sehat," jawab Rukman sambil mengangkat kedua tangannya.
"Syukurlah pah, sebaiknya kita berkumpul di ruang keluarga saja ya," ucap Reza kemudian mengajak mereka ke ruang keluarga.
Lalu Reza pun memanggil Gibran untuk mengambilkan kue ulang tahun sesuai perintah Reza tadi pagi. Tak lama Gibran pun membawa kue tersebut dan juga sebuah korek.
Dekorasi untuk acara syukuran besok pagi pun sudah perpasang rapih. Tiba-tiba Reza mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Ia pun mengecek CCTV vila ternyata Agistha keluar dari kamar. Semua lampu mati saat Agistha sudah berada di lantai bawah.
"Loh! ada apa ini kok mati semua," ucap Agistha seketika ia pun merinding mengingat kejadian tadi sore.
__ADS_1
"Sayang, kamu dimana sih sayang," teriak Agistha yang mulai panik tidak karuan.
"Sayang ih gak lucu! kamu dimana ?" ucap Agistha yang mulai mengeluarkan bulir-bulir cairan dari pelupuk matanya.
Agistha pun berjalan menuju ruang keluarga, tiba-tiba layar televisi pun menyala dan video dari awal perkenalan Reza dengan Agistha sampai saat ini pun terputar di layar tersebut. Diiringi lagu berjudul Bukti yang dinyanyikan oleh Virgoun. Serta video kenangan sejak Agistha kecil bersama almh. Alika dan alm. Alfian terputar jelas. Buka hanya Agistha yang menangis tersendu-sendu tapi Rachima dan Rukman juga. Mereka sangat merindukan Alika dan Alfian.
Setelah video berakhir, lampu pun menyala. Agistha yang sejak tadi menangis sambil memeluk lututnya di atas sofa langsung tersentak ketika lampu yang tiba-tiba menyala dan seluruh ruangan sudah didekor sedemikian rupa.
"Selamat ulang tahun Agis!" ucap Reza, Vino, Yusti, Rukman dan juga Rachima. Serta para pelayan di vila itu pun berkumpul.
Mata Agistha yang sembab dan raut wajah yang begitu tidak dikondisikan hanya bisa terdiam. Orang pertama yang Agistha hampiri adalah Rachima. Agistha memeluk Rachima sangat erat.
"Mah makasih sudah melahirkan Agis, sudah membesarkan Agis dengan penuh kasih sayang mamah. Gak ada yang bisa membayar kasih sayang mamah walau dengan seisi dunia ini. Agis beruntung bisa memiliki mamah yang begitu luar biasa hebat dalam mendidik Agis," ucap Agistha sambil memeluk Rachima.
"Sama-sama sayang, mulai sekarang jadilah istri yang baik untuk suamimu, jangan pernah menolak perintah suami jika itu demi kebaikanmu dan keduanya. Tetaplah menjadi Agistha anak mamah yang sangat luar biasa hebatnya juga, ya sayang," ucap Rachima sambil memegang kedua pipi Agistha lalu Agistha pun tersenyum sambil mengangguk.
"Pah, makasih sudah menjadi papah yang selalu membimbing Agis dan menegur Agis ketika Agis salah, sejak Agis kecil papah tidak pernah membentak ataupun memukul Agis. Agis sayang sama papah. Papah sehat terus ya pah, jaga kesehatan papah," ucap Agistha pada Rukman sambil mencium punggung tangannya dan Rukman mengelus kepala Agistha lalu Agistha pun memeluk sang papah sangat erat.
"Sama-sama sayang, Agis anak papah. Agis harus ingat satu hal. Agis harus selalu patuh dengan Reza saat ia dirumah. Karena saat Reza dirumah Reza adalah milik Agis seutuhnya. Namun saat di luar sana Reza adalah milik dunia sayang. Hati Agis harus kuat setegar karang yang tak pernah rapuh meski sekuat apapun ombak menghantamnya, ya nak," ucap Rukman dan Agistha pun mengangguk.
Agistha pun menghampiri Vino dan Yusti.
"Mamih, papih makasih sudah menjadi mertua yang sangat baik dan penuh kasih sayang terhadap Agis. Agis sangat beruntung. Atas restu dari mamih dan papih insyaAllah rumah tangga Agis dan mas Reza sakinah, mawaddah, warohmah, makasih ya mih, pih ," ucap Agistha kemudian mencium punggung tangan Vino dan Yusti.
"Sama-sama nak, jadilah menantu yang selalu kami banggakan dengan menjadi dirimu sendiri tanpa merubahmu menjadi orang lain ya," ucap Yusti dan Vino pun mengangguk.
Terakhir Agistha menghampiri Reza yang membawa cake serta lilin diatasnya. Agistha tersenyum kepada Reza, begitupun dengan Reza.
"Selamat ulang tahun istriku, doaku semoga kamu tetap menjadi istriku yang sholehah, rendah hati, ramah, dan terbaik untukku," ucap Reza sambil tersenyum kemudian memberi kode supaya Agistha meniup lilinnya. Setelah lilinya mati Agistha mulai berbicara.
"Makasih sayang, sudah hadir dihidupku, temani aku hingga nanti maut memisahkan kita. Semoga aku bisa menjadi apa yang kau selalu minta kepada Allah dari diriku, aamiin," ucap Agistha kemudian Reza pun menaruh cake di meja dan mencium kening Agistha cukup lama.
Setelah itu mereka pun berbincang-bincang hingga pukul 2 pagi. Agistha juga menemukan jawaban atas kegelisahannya tadi sore, ternyata yang menjadi bayang-bayangan itu adalah pelayan vila yang sedang mendekorasi untuk acara pagi ini. Agistha pun bisa bernafas lega.
Setelah itu para penghuni vila pun tertidur dikamar mereka masing-masing.
__ADS_1
Bersambung..