
"Sepertinya jiwa Kania sudah terpisah dari raganya, saat ini dia sedang mengikuti Agistha untuk meminta bantuannya," ucap ustadz Fahri membuat Rukman dan Vino tercengang.
"Bisakah pak ustadz membantu Kania?" tanya Rukman.
"Insyaallah saya usahakan ya pak," jawab ustadz Fahri yang sedang mencoba menarik jiwa Kania ke hadapan ustadz Fahri.
~Sekolah Agistha
Agistha kini sedang mengikuti ulangan matematika. Namun Agistha merasakan kehadiran seseorang disamping kursinya. Agistha tetap fokus pada ulangannya hingga ia selesai mengerjakan soal-soal tersebut.
"Agis, tolong aku!" Kania berbisik ditelinga Agistha membuat bulu halus disekujur tubuh Agistha merinding.
"Agis, tolong aku!" Kania berbisik kembali.
"Agis, tolong aku!" ketiga kalinya Kania meminta tolong kepada Agistha membuat Agistha merasa terusik. Belum sempat Agistha menoleh, jiwa Kania kembali menghilang.
~Kediaman ustadz Fahri
Ustadz Fahri sedang berusaha berkomunikasi dengan sosok Kania. Rukman dan Vino hanya bisa mendengar suara ustadz Fahri, tidak untuk suara Kania.
"Assalamualaikum Kania," ucap ustadz Fahri saat jiwa Kania sudah berada di hadapannya.
"Waalaikumsalam pak ustadz hiks hiks hiks," jawab Kania sambil menangis.
"Ada apa Kania? kenapa kamu menangis?" tanya ustadz Fahri penasaran.
"Ayahku telah jahat pada sahabatku dan aku hiks hiks hiks, aku dijadikan pionnya untuk menghancurkan calon suami Agis," jawab Kania yang terus menangis.
"Astaghfirullah, ada yang ingin kamu sampaikan Kania? insyaallah saya bisa bantu," ucap ustadz Fahri.
"Bantu aku pak, aku merasa tersiksa dengan yang ada ditubuhku saat ini, aku ingin hidup seperti anak sesusiaku pada umumnya. Aku ingin bersahabat kembali dengan Agistha, tolong aku pak ustadz," kata Kania lirih.
"Baik, sebelum itu bisa tunjukkan alamat rumah ayahmu saat ini Kania?" tanya ustadz Fahri.
__ADS_1
"Di Jalan Cimpedak blok S no. 5," jawab Kania yang langsung dicatat oleh ustadz Fahri.
"Kania kamu tetap beristighfar dalam hati yah, biar saya yang akan mencabut apa yang sudah ayahmu tanam di dalam diri kamu," ucap ustadz Fahri kemudian membacakan doa-doa. Rukman dan Vino ikut membaca doa dalam hati.
Setelah beberapa jam kemudian, jiwa Kania pun menghilang, ustadz Fahri mengusap wajahnya sambil membaca hamdalah.
"Alhamdulillahirobbil 'alamin, Kania sudah terlepas dari susuknya, mungkin pak Rukman ataupun pak Vino ada yang bersedia menjemput Kania di Samarinda dan bawa pulang ke sini, mengingat kondisinya sangat lemah saat ini. Dan untuk urusan Andre nanti malam insyaallah saya akan membantunya, semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah swt. ," ucap ustadz Fahri.
"Aamiin aamiin, baik kalau begitu segera saya akan mengutus anak buah saya untuk menjemput Kania disana, kalau boleh tau dimana sekarang Kania berada ustadz?" tanya Rukman.
"Sepertinya dia sedang berada di kota kecil di Samarinda, tepatnya di Jalan Saloka Barat, gang Kilo. Ya itu alamatnya," kata ustadz Fahri dan Rukman pun mencatatnya.
"Baik kalau begitu terimakasih banyak pak ustadz atas bantuan pak ustadz semoga kebaikan pak ustadz dibalas oleh Allah swt. ," ucap Vino tulus.
"Aamiin Allahumma Aamiin," ucap ustadz Fahri.
"Kami pamit undur diri ya pak," kata Rukman dan ustadz Fahri mengangguk.
"Assalamualaikum," ucap Rukman dan Vino bersamaan.
Rukman dan Vino pun meninggalkan kediaman ustadz Fahri. Rukman yang langsung ke kantornya sedangkan Vino ke kantor Reza.
~Navanka Corp.
Gigih tengah ketar ketir menanti kedatangan Rukman karena ada meeting dengan para investor penting 10 menit lagi. Rukman yang baru saja sampai langsung menuju ke ruangannya.
"Ah bapak akhirnya datang juga, mari pak ke ruang meeting karena para investor sudah menunggu," ucap Gigih saat melihat Rukman yang baru saja keluar dari liftnya.
"Baiklah, oh iya Gih tolong beritahu anak buah kita untuk datang ke Jalan Saloka gang Kilo yang berada di kota kecil Samarinda untuk menjemput anak gadis yang bernama Kania Selafina, segera ya," perintah Rukman.
"Baik pak laksanakan," jawab Gigih.
~Andara Corp.
__ADS_1
Vino yang baru sampai di kantor Reza langsung menuju ke ruangan Reza.
"Papih dari mana? tumben ke kantorku?" tanya Reza saat Vino membuka pintu ruangannya.
"Dari rumah ustadz Fahri, sepertinya malam ini kita harus menggelar pengajian di rumah maupun di rumah Agis, soalnya kali ini Andre tidak main-main bahkan Kania jiwanya sudah berkeliaran minta tolong, beruntung ustadz Fahri bisa membantunya dan Kania alhamdulillah selamat. Dan Rukman saat ini sedang menyuruh anak buahnya untuk menjemput Kania di Samarinda," jelas Vino membuat Reza tercengang.
Sedangkan Riko diruangannya sedang asik menikmati alam mimpinya karena jadwal Reza hari ini sedang senggang.
Didalam mimpi Riko, ia melihat anak gadis kecil yang sedang duduk di kursi sambil memeluk kedua lututnya. Dengan penuh keberanian Riko menghampiri gadis kecil tersebut dan duduk disebelahnya.
"Anak manis kenapa kamu menangis?" tanya Riko lembut.
Gadis itu pun mengangkat wajahnya yang basah dengan air mata membuat Riko merasa iba. Ingatan saat ia kecil pun mulai memutar dimemori otaknya.
"Kak mau ikut main bersamaku?" tanya gadis kecil berusia 7 tahun.
"Boleh, ayok kita main disana," jawab Riko sambil menunjuk ke taman bermain.
Saat itu Riko berusia 14 tahun. Keduanya pun main dengan riang. Hingga hari sudah berajak sore mereka pun harus kembali ke rumah masing-masing.
"Terimakasih kak telah menemaiku bermain, aku mencintaimu kak, namaku Kania," ucap gadis kecil itu.
"Aku Riko, senang bisa bertemu denganmu," kata Riko tersenyum tulus.
Dan Riko kembali tersadar lalu melihat gadis kecil yang sedang duduk bersamanya.
"Kak tolong aku, tolong aku kak," ucap gadis itu dengan kondisi yang mengenaskan.
"Aku akan menolongmu, ayok ikut denganku," ajak Riko namun gadis itu menggeleng.
"Tidak bisa kak, aku masih ditempat yang sangat jauh, bisakah kakak menjemputku disana," kata gadis itu.
"Sepertinya aku mengenalmu, apakah kamu Kania teman kecilku dulu?" tanya Riko dan gadis itu mengangguk pelan.
__ADS_1
Riko langsung memeluk gadis itu namun gadis kecil yang bersamanya langsung menghilang. Riko pun langsung terbangun dari tidurnya.
Bersambung..