
Riko terbangun dari tidurnya merasa perasaannya tidak enak. Dia pun segera ke ruangan Reza tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
BRAK!
"Riko!" pekik Reza dan Vino bersamaan.
"Maaf, saya kira gak ada pak Vino, maaf ya pak," ucap Riko memohon maaf.
"Apa kamu selalu seperti kepada atasan ini saat tidak ada saya!" kata Vino sambil menatap tajam Riko, membuat Riko tak berani menatap wajah Vino.
"Maaf pak saya panik, saya tidak sengaja," ucap Riko lirih.
"Sudah pih," kata Reza mencoba menenangkan papihnya.
"Ada apa sih Ko?" tanya Reza pada Riko.
"Za, maksud saya pak Reza anda tau kan sahabatnya Agistha? Kania?" tanya Riko berhati-hati, karena Vino paling tidak suka bawahan tidak profesional saat di kantor meskipun itu seorang sahabat.
"Tau, ada apa emangnya?" tanya Reza memasang wajah serius.
"Saya mau minta izin ingin menjemput Kania ke Samarinda, karena saya sangat merindukannya pak," kata Riko mencoba meyakinkan Reza.
"Kania? merindukannya? ada hubungan apa kamu dengannya?" tanya Reza dengan segerombol pertanyaan.
"Bagini, Kania itu sebenarnya teman masa kecil saya pak. Dia yang selama ini saya cari. Dan dia adalah cinta pertama saya," jelas Riko membuat Reza memicingkan matanya sedangkan Vino masih setia menjadi pendengar 2 pemuda didepannya.
"Darimana kamu tau kalau Kania itu adalah teman kecil yang selama ini kamu cari? bisa saja dia hanya mengaku-ngaku," kata Reza ketus.
Kemudian Riko pun menceritakan mimpi yang baru saja dialaminya. Reza dan Vino begitu terkejut bukan karena mimpinya tapi karena Riko tidur pada saat jam kerja.
"Jadi dari tadi kamu tidur Ko? semalem ngapain aja kamu!" pekik Vino dan Reza hanya menahan tawanya.
"Maaf pak, saya kira kan hari ini kerjaan lagi senggang jadi saya istirahat sebentar," kata Riko sambil menundukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau kamu benar-benar yakin, biar saya telepon Rukman untuk mengirim kamu ke Samarinda bersama orang suruhannya," ucap Vino yang mulai melunak.
Vino pun menelepon Rukman untuk memberitahukan bahwa Riko juga akan pergi ke sana. Dan Rukman pun menyetujui.
"Ko, sebaiknya kamu segera ke bandara karena anak buah Rukman sekarang telah menunggumu disana, pastikan semuanya baik-baik saja sampai kembali ke sini. Mengerti?" ucap Vino serius.
"Mengerti pak, kalau begitu saya permisi," jawab Riko kemudian meninggalkan ruangan Reza.
__ADS_1
Riko pun bergegas menuju bandara. Tak sampai 1 jam Riko sudah sampai di bandara, dari kejauhan Riko sudah melihat beberapa anak buah Rukman sedang menunggu kedatangannya di depan pesawat yang bertuliskan NavankAir. Yang berarti pesawat pribadi milik keluarga Navanka.
~Sekolah Agistha
Hari sudah semakin sore, Reza pun segera menyelesaikan pekerjaannya dan menjemput Agistha di sekolahnya.
TIN TIN TIN (suara klakson mobil)
Agistha terkejut mendengar klakson mobil saat ia sedang memeriksa tasnya dan baru saja sampai di depan lobby untuk menunggu Reza menjemputnya.
"Astagfirullah mengagetkan ku saja!" pekik Agistha saat Reza membuka jendela mobilnya sambil tersenyum.
"Ayok masuk, nanti keburu maghrib loh pulangnya," ajak Reza dan Agistha mengangguk lalu masuk ke dalam mobil Reza tak lupa memakai seatbelt nya.
"Kamu udah makan Gis?" tanya Reza sambil menoleh ke Agistha.
"Sudah tadi jam 2 mas," jawab Agistha tanpa ragu.
"Kok jam 2 ? emangnya padat sekali ya tadi mata pelajarannya?" tanya Reza membuat Agistha memijit keningnya.
"Kamu sakit Gis? kita ke dokter ya?" lanjut Reza cemas.
"Kamu tidak apa-apa kan ?" tanya Reza sambil menatap lekat mata Agistha.
"Entah tadi aku merasa Kania ada disamping aku saat aku sedang mengisi soal ulangan matematika mas. Kania meminta tolong padaku, anehnya saat aku akan melihatnya tapi dianya malah tidak ada. Aku tau Kania pasti lebih menderita atas perlakuan ayahnya. Selama aku bersahabat dengannya, dia sama sekali tidak ingin merepotkanku. Kasian sekali, ibunya sudah meninggal dan sekarang dia harus menanggung hidupnya sendiri diatas kerasnya peraturan yang ayahnya buat," ucap Agistha yang tiba-tiba melow membuat Reza menjadi tidak tega.
Reza mengelus lembut kepala Agistha yang tertutupi oleh kerudungnya.
"Agis harus kuat, ada aku , ada papah, ada papih, mamah dan juga mamih yang sayang sama Agis. Kamu tau? saat ini Riko dan anak buat papah sedang menjemput Kania. Kami berharap Kania masih baik-baik saja saat ini walaupun ayahnya selalu mengawasinya. Tapi Kania beruntung masih banyak orang yang sayang sama dia," kata Reza membuat Agistha merasa lebih baik.
"Pak Riko ikut? kok bisa? mas yang suruh?" tanya Agistha dengan segerombol pertanyaan dan Reza tersenyum simpul.
"Bukan mas yang suruh tapi atas kemauannya sendiri, dia bilang kalau Kania itu orang yang selama ini dia cari. Cinta pertamanya lebih tepatnya," jelas Reza secara singkat dan sederhana.
"Oh jadi Kania itu cinta pertama pak Riko. Pantas saja," ucap Agistha membuat Reza ambigu atas perkataan terakhir Agistha.
"Pantas saja? kenapa?" tanya Reza penasaran.
"Iya pantas saja waktu acara lamaran kita, pak Riko seperti terpana melihat Kania. Dari sorot matanya seperti seseorang yang dirindukannya selama ini.
Saat keduanya sedang asik berbincang-bincang, tak terasa mobil Reza telah sampai di rumah Agistha.
__ADS_1
"Gak kerasa yah mas udah sampai aja, aku masuk dulu ya, mas hati-hati dijalan," ucap Agistha sambil melepas seatbeltnya.
"Sabar ya 3 hari lagi kita akan lebih banyak waktu berdua," sahut Reza membuat Agistha tersipu malu dan Reza hanya menahan tawanya.
"Hati-hati dijalan mas, assalamualaikum," ucap Agistha sambil menundukkan wajahnya. Bagaimanapun seusia Agistha adalah masa-masa yang sangat riskan tentang perasaan.Jika sekali tersakiti maka ia bisa saja lebih menyakiti dan jika sekali diberi kebahagiaan maka ia bisa lebih membahagiakan.
"Iya, istirahat yang cukup sampai ketemu besok ya calon istriku," kata Reza kemudian melambaikan tangan pada Agistha dan Agistha pun membalasnya dengan senyuman manis.
~Samarinda
Riko berserta beberapa anak buah Rukman baru saja sampai di bandara. Mereka pun langsung menuju alamat yang telah dikirimkan oleh Rukman melalui ponsel Riko.
Setelah menempuh perjalanan 3 jam dai bandara, mereka telah sampai di depan gang kecil dan sempit. Anak buah Rukman memarkirkan mobilnya di tempat yang strategis, supaya bisa dengan mudah memantau dari kejauhan.
Riko dan 2 orang anak buah Rukman masuk ke dalam gang sempit itu untuk mencari kontrakan yang dimaksudkan dalam alamat tersebut. Sedangkan yang 2 lagi menunggu didalam mobil.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di depan pintu kontrakan Kania. Terlihat disekelilingnya begitu kumuh dan tal terawat. Hati Riko bagai teriris membayangkan betapa sulitnya Kania melewati hidupnya yang menyedihkan ini.
Riko mengetuk pintu itu, tak lama terbukalah. Terlihat seorang wanita memakai baju yang sangat sederhana namun tidak mengurangi aura kecantikan diwajahnya. Dia adalah Kania.
"Kania," ucap Riko dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kamu? cowok yang waktu itu di lamaran Agis kan?" tanya Kania.
"Iya, ini aku Riko. Teman kamu waktu usiamu 7 tahun dan aku 14 tahun saat itu," ucap Riko antusias sedangkan Kania terlihat tampak berpikir.
"Jadi kamu kak Riko?" tanya Kania memastikan.
"Iya Kania, dan aku kesini untuk menjemputmu pulang, ayok pulang bersamaku Kania," kata Riko dengan penuh harap Kania akan menyetujuinya.
"Aku tidak bisa, bagaimana kalau ayahku tau dan marah padaku kak?" tanya Kania ragu-ragu.
"Kamu tak usah ragu, dan kamu akan terbebas dari ayahmu asalkan mau ikut denganku, aku merindukanmu Kania," jawab Riko tulus dari hatinya.
Kania tampak menimbang-nimbang ajakan Riko dan akhirnya Kania pun menyetujuinya.
"Baiklah aku akan ikut pulang bersama kak Riko," jawab Kania. "Tapi sebelum itu aku akan mengemaskan pakaianku terlebih dahulu kakak tunggu saja disini," lanjut Kania dan Riko pun mengangguk.
Setelah cukup lama Riko menunggu akhirnya Kania keluar sambil membawa sebuah koper di tangannya. Dan mereka pun pergi dari kontrakan itu menuju ke bandara.
Bersambung..
__ADS_1