Jodoh Takkan Kemana

Jodoh Takkan Kemana
Part 86 : Mendebarkan


__ADS_3

"Mas, apakah papah masih bisa sembuh?" tanya Agistha lirih pada Reza saat keduanya tengah makan siang di kantin rumah sakit.


"Sayang, insyaAllah papah masih bisa sembuh. Tugas kita sekarang mendoakan beliau ya. Ayok segera habiskan makanannya setelah ini kita sholat dzuhur berjamaah," jawab Reza lembut mencoba menenangkan Agistha.


Beberapa menit kemudian mereka pun telah selesai makan siang, keduanya langsung menuju mushola rumah sakit.


"Ya Allah, beri papah kesembuhan. Angkatlah penyakitnya ya Allah. Aku masih ingin melihat papah tertawa kembali. Aku masih ingin bersenda gurau lagi dengannya ya Allah, aamiin," ucap Agistha dalam hati berdoa dengan menitikkan air matanya.


Keduanya pun telah selesai mengerjakan kewajiban mereka. Kini Reza menggandeng tangan Agistha berjalan menuju ruang ICU. Tiba-tiba ada yang mengganggu penglihatan Agistha.


"Mas, berhenti sebentar," ucap Agistha langsung menghentikan langkahnya.


"Ada apa sayang?" tanya Reza denga mengerutkan kedua alisnya.


Agistha pun menarik tangan Reza untuk bersembunyi di balik dinding sambil memperhatikan gelagat laki-laki yang mencurigakan seperti sedang mengecek keamanan di sekitar ruang ICU.


"Mas lihat deh di depan, ada laki-laki yang memakai topi begitu mencurigakan. Ngapain dia selalu memperhatikan ke arah ruang ICU ya?" ucap Agistha kemudian bertanya pada Reza.


Reza pun penasaran, ia melihat mengikuti arah pandang Agistha. Ternyata benar, Reza langsung menyuruh Riko yang masih berada di depan ruang ICU untuk berhati-hati.


"Sayang kita lewat jalan lain saja," ajak Reza sambil menarik tangan Agistha.


Mereka berputar arah lewat belakang kemudian sampai di depan lobby rumah sakit. Reza pun mengerahkan polisi untuk segera bertindak dalam penangkapan Rivaldi.


"Siang pak, saya Reza. Saya minta tolong saat ini juga segera kerahkan anggota bapak untuk penangkapan Rivaldi di RivalSway. Saya akan segera menyusul ke RivalSway langsung," ucap Reza dengan suara baritonnya dalam sambungan telepon kepada komandan polisi tersebut.


"Baik pak, kami juga sudah menemukan keberadaan Devi sekarang. Dan menurut anggota intel kami. Saat ini Devi tengah berada di RivalSway. Ternyata keduanya bekerjasama untuk menghancurkan keluarga bapak maupun pak Rukman," jelas komandan polisi tersebut.


"Bagus, segera laksanakan ya pak," ucap Reza dan sambungan telepon pun terputus.


"Sayang kamu mau berpetualang denganku?" tanya Reza sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Berpetualang?" tanya Agistha memastikan.


"Iya, temani aku dan tetap selalu disampingku. Aku akan segera menangkap Rivaldi dan Devi," jawab Reza dan Agistha masih belum mengerti.


"Maksudnya bagaimana mas?" tanya Agistha kembali.

__ADS_1


"Sekarang kamu ikut denganku ke RivalSway mari kita tangkap pelaku kejahatan yang sudah hampir menghancurkan keluarga kita, kamu mau?" jawab Reza santai kemudian bertanya Agistha.


"Iya! aku mau mas," jawab Agistha mantap.


"Sebelum kita berangkat lebih baik sekarang kita pamit sama mamih dan papih ya," ajak Reza kemudian mereka pun ke ruang ICU.


Sesampai di ruang ICU ternyata Gigih sudah tidak ada disana.


"Om Gigih kemana mah?" tanya Agistha pada Rachima.


"Tadi om Gigih sudah kembali ke kantor katanya masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan," jawab Rachima tersenyum pada Agistha dan Agistha pun mengangguk.


"Mih, pih, Riko, Kania dan mamah sekarang kalian harus hati-hati. Karena Rivaldi telah menaruh mata-mata disini untuk sewaktu-waktu membahayakan nyawa kalian terutama papah yang sedang didalam. Jadi sekarang kita bagi tugas ya. Riko kamu segera hubungi semua orang-orang suruhan Andara untuk mengawasi di rumah sakit ini dan pastikan jumlahnya lebih banyak dari mata-mata Rivaldi kemudian lu Ko ikut gue untuk penangkapan Rivaldi di perusahaannya. Dan mamah, mamih, papih dan Kania tetap disini sambil berjaga. Dan Agistha akan ikut aku ke RivalSway. Bagaimana semuanya?" jelas Reza menjelaskan rencananya.


Riko pun langsung hubungi ketua orang-orang suruhan Andara dan mereka langsung melaksanakan perintah dari Riko.


"Reza kamus tetap menjaga Agis ya, semoga penangkapan mereka berhasil," ucap Rachima.


"Iya mah, aku akan selalu menjaga Agis," jawab Reza tersenyum.


"Baik, sekarang kita gak punya waktu lagi. Gimana Ko semuanya sudah beres?" kata Reza kemudian bertanya pada Riko.


Riko, Reza dan Agistha pun langsung pergi ke RivalSway. Sebelum mereka sampai, komandan polisi sudah memberitahukan lokasi breafing terdekat dengan RivalSway. Semua anggota polisi pun telah menunggu kedatangan Reza di sana.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di lokasi tersebut. Penangkapan kali ini tak kalah berbahayanya dibanding penangkapan Diani waktu lalu. Beruntungnya kali ini tidak secara halus, namun orang-orang yang Rivaldi miliki cukup kuat. Jadi semuanya harus tetap berhati-hati.


"Pak Reza dan istri nanti ikut dengan saya di tim 1 dan pak Riko dengan komandan yang berada di tim 2, dan sisanya tim 3 berjaga dan mengawasi di belakang perusahaan ini. Yang kami tahu baru-baru ini RivalSway adalah perusahaan legal di negara ini. Dan belum dapat izin dari pemerintah. Serta produk yang mereka jual merupakan barang-barang haram semua yang mereka import dari negara Swedia melalui black market. Oke! kita bergerak sekarang," jelas komandan polisi tersebut kemudia langsung memerintahkan semua tim langsung berpencar membentuk segitiga. Itulah kenapa mereka menyebutnya segitiga bergerak..


Hari sudah semakin sore. Reza dan Agistha bersama tim 1 masuk kedalam kantor RivalSway dengan menyamar seperti orang biasa. Keadaan didalam kantor seperti diskotik. Lampu yang remang-remang dan juga bukan seperti kantor pada umumnya. Mungkin inilah alasan perintah tidak memberikan izin pada RivalSway.


Tibalah di salah satu ruangan yang dipercayai bahwa itu adalah ruangan Rivaldi. Semuanya berpencar, dan ketiga anggota polisi bersama Reza serta Agistha langsung mendobrak paksa pintu tersebut. Mereka pun melihat Rivaldi sedang bercumbu dengan Devi diruangan tersebut. Keduanya tersentak kaget karena Rivaldi maupun Devi sedang dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Padahal sepengetahuan Reza melalui cerita dari Vania bahwa kedua orang tuanya telah bercerai.


Kedua polisi itu langsung meringkus paksa Rivaldi dan Devi. Dengan cepat Rivaldi menekan tombol panggilan kepada semua orang-orangnya. Langsunglah terdengan suara tembakan dari luar ruangan Rivaldi. Para anggota polisi sedang bertarung hebat dengan para orang-orang suruhan Rivaldi.


"Mas aku takut," bisik Agistha pada Reza dan Reza pun langsung mengeratkan genggaman tangannya pada Agistha.


"Ada aku disini, kamu tenang ya," kata Reza padahal dirinya juga takut namun tak ia tunjukkan di depan Agistha.

__ADS_1


Saat komadan akan melihat ke arah Reza yang tepat berada di belakangnya, seorang laki-laki tengah memegang pistol mengarahkan ke arah Reza dan Agistha dengan cepat komandan pun langsung mengambil pistol miliknya dan menembakkannya ke arah orang tersebut.


"Aaaaaaaaaaa," Agistha berteriak sambil memeluk Reza sangat erat. Keduanya pun berpelukan.


1 detik


2 detik


3 detik


Reza dan Agistha membuka kedua matanya mereka baik-baik saja dan orang yang akan mencelakakan mereka terkapar tak berdaya di penuhi dengan darah.


Dengan cepat para anggota polisi yang sudah memborgol tangan Rivaldi dan Devi langsung membawa tersangka itu keluar dari RivalSway dalam keadaan pingsan karena Rivaldi sempat akan kabur dan Devi pun sama. Mereka terpaksa dibekukan polisi dengan menembakkan salah satu kakinya. Alhasil mereka hanya memakai pakaian seadanya.


"Apa kita berhasil mas?" tanya Agistha dengan nafas yang masih tersengal-sengal karena begitu panik.


"Sepertinya iya sayang," jawab Reza sambil mengecup kening Agistha cukup lama.


"Ehem, maaf pak, bu sebaiknya sekarang kita kembali ke kantor polisi untuk segera ditindak lanjuti kasus ini," ucap komandan polisi sambil berdehem dan Reza maupun Agistha menjadi salah tingkah.


Agistha dan Reza pun keluar dari ruangan Rivaldi, sepanjang perjalanan keluar mereka melihat begitu banyak orang yang sudah tidak bernyawa dengan darah dimana-mana. Agistha dan Reza langsung menutup hidung dengan tangan mereka.


Suara ambulance pun langsung terdengar, para jasad itu dibawa untuk dimakamkan secara masal. Dan RivalSway resmi diberi garis polisi dan tidak boleh dioperasikan kembali.


~RS Kartika Betari


Para orang suruhan Andara pun sudah berhasil membekuk semua orang-orang Rivaldi. Rachima, Yusti, Vino dan Kania kini bernafas lega.


Dokter yang sudah 4 jam didalam ruang ICU pun akhirnya keluar. Dengan cepat Rachima langsung menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Rachima gelisah sambil meremas-remas jemarinya.


"Ibu tenang ya, alhamdulillah pak Rukman sudah melewati masa kritisnya dan sekarang masih dalam pantauan kami," jawab dokter tersebut lalu Rachima pun langsung meneteskan air matanya mengucap syukur yang tiada henti-hentinya.


"Terima kasih banyak dok," ucap Rachima dan dokter pun mengangguk.


"Kalau ada yang mau masuk hanya 1 orang saja ya, mengingat kondisi pasien baru saja stabil dan butuh istirahat," ucap dokter dan semuanya pun mengangguk.

__ADS_1


"Kalau begitu saya permisi," sambung dokter sambil menundukkan kepalanya kemudian pergi dari hadapan mereka.


Bersambung..


__ADS_2