
Setelah dokter memeriksakan Reza 1 jam sekali, tapi belum ada tanda-tanda bahwa Reza akan terbangun dari komanya. Sedangkan hari mulai beranjak malam, Yusti menyarankan kepada Agistha untuk pulang terlebih dahulu dan Agistha pun menurut.
~Di tempat lain
Riko sudah mengumpulkan banyak informasi mengenai kebangkrutan perusahaan Andre. Mata Riko langsung memebulat sempurna setelah mendapat kiriman data di emailnya dari orang suruhannya.
"Jadi selama ini perusahaan Andre bangkrut karena ulah pegawainya sendiri dan .... astaghfirullah jadi salah satu oknumnya itu mantan cleaning service waktu itu yang ngundurin diri secara mendadak dengan alasan digangguin hantu padahal misinya sudah selesai! awas aja setelah Reza bangun dari komanya, gak ada ampun untuk mereka! dan disini ada nama Diani, siapa Diani ini? aku harus segera mencari tahu siapa Diani," kata Riko bermonolog di dalam kamarnya.
Riko tahu betul Reza akan bersikap seperti apa saat ada yang berusaha mengkhianatinya. Tak hanya masuk penjara namun bisa jadi seumur hidupnya akan menderita.
Riko pun menyuruh orang suruhannya memata-matai dari jauh orang yang terlibat. Karena ini bukan hanya soal untung rugi namun soal ketenangan jiwa seseorang yang sudah tiada. Sampai saat nanti waktunya tiba Riko akan bongkar, dan untuk saat ini Riko masih hanya memantau dan terus mencari informasi lebih banyak lagi.
Sebab dalang dibalik semua ini bukanlah lawan yang mudah, jadi Riko terus waspada sampai Reza benar-benar sembuh dan menuntaskannya di jalur hukum.
~Kediaman keluarga Navanka
"Mah, pah hari ini kan hari minggu, Agis mau ketemu sama mas Reza ya. Kan besok Agis udah masuk sekolah," kata Agistha meminta izin pada Rukman dan Rachima saat telah menyelesaikan sarapannya.
"Biar mamah yang temani ya?" tanya Rachima lembut.
"Nggak usah mah, biar aku saja. Di sana juga ada mamih Yusti, mamah sama papah istirahat aja ya dirumah, kan dari kemarin udah nemenin Agis ke rumah sakit," kata Agistha menolak halus karena tak ingin mamah dan papahnya menjadi kelelahan.
Akhirnya Rukman pun menganggukkan kepalanya pada Rachima memberi tanda memeperbolehkannya.
"Ya sudah tapi dianter mang Ujang ya, kalau ada apa-apa segera kabari mamah dan papah ya sayang," kata Rachima.
"Iya siap bos! ya sudah Agis berangkat sekarang ya mah, pah," pamit Agistha sambil mencium punggung tangan Racima dan Rukman.
"Assalamualaikum," ucap Agistha.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab Rukman dan Rachima bersamaan.
"Hati-hati dijalan ya nak," kata Rukman.
"Iya pah," jawab Agistha lalu tiba-tiba mengingat saat sosok Andre yang berusaha masuk ke dalam ruang ICU Reza. Agistha pun membalikkan badannya.
"Ada apa nak? apa ada yang tertinggal?" tanya Rukman menatap heran.
Agistha pun mendekat kepada sang papah sedangkan Rachima sedang membantu pelayan rumah untuk membereskan ruang makan. Agistha pun menceritakan apa yang telah ia lihat kemarin. Membuat Rukman tercengang.
"Apa papah bisa menanyakan kepada ustadz Fahri? kemarin aku gak bisa bertanya langsung pada sosok om Andre itu, Agis takut sorot matanya begitu terlihat memendam dendam yang belum selesai," ucap Agistha membuat Rukman berpikir sejenak.
"Baiklah nanti biar papah dan papih Vino yang ke rumah ustadz Fahri, mungkin setelah itu kami akan ke makam Andre untuk mengirimkan doa padanya," kata Rukman membuat perasaan Agistha sedikit lega.
"Aku berangkat ya pah," kata Agistha dan kemudian pergi meninggalkan Rukman.
Rukman pun segera mengambil ponselnya untuk memberitahukan pada Vino rencananya hari ini.
Beberapa menit kemudian Agistha pun telah sampai di lobby rumah sakit. Agistha pun turun dari mobilnya tak luma mengucapkan terima kasih pada mang Ujang.
Agistha berjalan sesekali sambil menghirup udara segar saat melewati taman rumah sakit. Perasaannya kini sudah lebih baik, berharap hari ini ada sebuah keajaiban untuk Reza. Sebelum ke ruangan Reza, Agistha memilih untuk pergi ke ruang rawat Kania terlebih dahulu karena Rachima menyuruh Agistha membawa cemilan untuk Kania.
"Assalamualaikum, Kania," ucap Agistha sambil membuka pintu ruangan Kania.
Ternyata Kania baru saja selesai diperiksa oleh dokter, Agistha pun masuk kedalam.
"Dok, bagaimana keadaan Kania saat ini?" tanya Agistha.
"Alhamdulillah Kania sudah sehat, tapi baru bisa pulang sore ini karena untuk memastikan bahwa nafasnya sudah tidak sesak lagi," jawab Dokter membuat Agistha tersenyum bahagia menatap Kania.
__ADS_1
"Terima kasih dok," ucap Agistha.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi," pamit dokter sambil membungkukkan sedikit badannya kemudian meninggalkan ruangan Kania diikuti oleh suster yang bersamanya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sembuh juga Kania, aku kangen banget sama kamu," kata Agistha yang langsung memeluk Kania dan Kania pun membalas pelukan Agistha.
"Iya Alhamdulillah makasih banyak ya Agistha Sellysa Navanka," ucap Kania penuh rasa bersyukur.
"Aku beritahu mamahku dulu ya supaya sore ini kamu bisa langsung pulang ke rumahku, kamu bisa tidur di kamar kak Alika kok kamarnya gak kalah bagusnya dari kamarku," kata Agistha dengan begitu antusias.
"Makasih banyak, keluarga kamu begitu sangat baik padaku, bisa diizinkan tinggal sama kamu aja aku sudah bersyukur. Suatu hari nanti aku akan membalas semua kebaikan kalian padaku," ujar Kania dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Baru kali ini ia benar-benar merasakan yang namanya sebuah persahabatan. Saling memaafkan saat melakukan kesalahan, saling memberi, saling menerima. Bahkan tak ada rasa saling benci, yang ada sekarang rasa kasih sayang layaknya saudara kandung.
Agistha menelepon mamahnya, dan Rachima pun menyetujuinya bahwa sore ini ia dan Rukman akan ke rumah sakit menjemput Kania.
"Oh iya tadi mamah titipin blackforest buat kamu, ini dimakan ya. Aku tau kok kamu suka banget sama coklat," kata Agistha sambil membuka kotak makan yang berisi blackforest pada Kania.
"Ternyata dibalik sifatmu yang introvert, kamu begitu peka terharap sekeliling kamu ya. Secara tidak langsung kamu memperhatikan mana yang aku suka dan mana yang gak aku suka," goda Kania membuat Agistha tersipu malu.
"Hahaha apaan sih Kania, kan kamu sering main sama aku. Ya aku taulah jelagat-jelagatnya kamu," kata Agistha sambil tertawa.
Cukup lama Agistha dan Kania bersenda gurau, pintu kamar Kania pun terbuka. Ternyata Riko yang membawa bunga mawar untuk Kania. Agistha langsung memandang ke arah Kania saat tau Riko membawa bunga mawar.
"Kania, kok pak Riko? apa jangan-janga kalian pacaran?" tanya Agistha menyelidik sedangkan Kania yang ditanya hanya tersipu malu menundukka wajahnya.
"Aih! pak Riko jelaskan padaku tentang hubungan kalian! kok kalian sembunyiin dari aku sih, kan aku juga ikut senang kalau kalian pacaran," lanjut Agistha sambil tertawa.
"Bukannya kita mau nyembunyiin Agis, tapi baru saja aku mau menyatakan perasaanku pada Kania," imbuh Riko malu-malu karena tertangkap basah oleh Agistha.
"Baiklah baiklah biar kalian bisa lebih leluasa mengutarakan perasaan kalian masing-masing, aku akan keluar untuk menemui calon suamiku, assalamualaikum," kata Agistha terkekeh sedangkan Riko dan Kania pun tersenyum.
__ADS_1
"Waalaikumsalam," jawab Kania dan Riko bersamaan lalu Agistha langsung pergi dari ruangan Kania.
Bersambung..